
Cara Abrnormal dengan Persada
Berbicara evaluasi total kegagalan, saya teringat pada sosok kepala sekolah Tottori Elementary School of Japan, Tatsuya Koida.
Di hadapan sembilan kepala sekolah Muhammadiyah Indonesia, Tatsuya mengingatkan setiap kegagalan (sekalipun itu sangat kecil), sebagai kepala sekolah Anda harus melakukan evaluasi menyeluruh dan segera menindaklanjutinya dengan perubahan dan perbaikan. Kegagalan itu, katanya, bermula dari yang kecil sebelum datang kegagalan yang lebih besar.
Sepertinya, pesan kepala sekolah Tottori Elementary School of Japan tahun 2014 ini masih sangat relevan dengan kondisi PPDB. Bila dua tahun berturut-turut PPDB kita gagal; berkurang satu rombel, dua rombel, tiga rombel dan seterusnya, maka pada tahun ajaran 2022 ini kita harus tebus dengan sejumlah rombel yang hilang pada dua tahun sebelumnhya (2020 dan 2021).
Menebus sejumlah rombel yang hilang dan berharap pendaftar membludak, tentu tidak dapat menggunakan cara-cara PPDB normal tapi harus abnormal.
Di antaranya, melakukan gerakan presentasi sebar angket langsung daftar (persada). Dalam suasana pandemi Covid-19, presentasi kepada calon siswa dan wali siswa dapat dilakukan secara daring atau luring tergantung kesepakatan dengan sekolah mitra. Meminta waktu presentasi memang tidak gampang, tergantung kepada pendekatan, kelihaian, dan kecerdasan kita.
Presentasi tidak mesti harus di sekolah, tapi juga dapat dilakukan secara informal di beberapa titik kumpul. Suatu misal, menggunakan rumah calon siswa dengan mengumpulkan lima, sepuluh atau lima belas calon siswa dan wali siswa. Kita fasilitasi pertemuan tersebut, kita datang ke tempat pertemuan-nya, kita siapkan perangkat administrasi yang diperlukan dan kita menyampaikan informasi masa depan pendidikan calon siswa.
Selesai presentasi bukan selesai urusan PPDB. Saya amati banyak sekolah yang gagal dan terjebak sampai tahap ini. Padahal presentasi itu baru tahap perkenalan dan pendekatan. Siswa yang kenal dan dekat belum tentu terpikat, belum tentu tertarik dan belum tentu mendaftar.
Sebab itu, luangkan waktu lima sampai sepuluh menit, calon siswa diminta untuk mengisi angket (tebar angket). Angket dapat dalam bentuk lunak (Google Form) atau dalam bentuk perangkat keras (kertas).
Poin penting dari angket ini berisi tentang; identitas calon siswa (nama, alamat dan Hp), apa rencana pasca lulus (melanjutkan atau tidak), jika melanjutkan apa jenjang pilihan sekolah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK).
Selanjutnya memilih sekolah yang mana (SD/MI; A, B, C, dst) dan apa alasan calon siswa memilih sekolah tersebut? Angket silakan dikembangkan sesuai kebutuhan. Saran saya pertanyaan-nya yang singkat dan padat.
Baca sambungan di halaman 3: Waktu makin Pendek, Jangat Menunggu






0 Tanggapan
Empty Comments