Peringatan Milad Emas ke-50 SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Sidoarjo berlangsung khidmat dan penuh makna di Auditorium AR Fachrudin, Sabtu (31/1/2026).
Momen setengah abad perjalanan sekolah unggulan Muhammadiyah tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi dan nostalgia, tetapi ditegaskan sebagai titik tolak membangun peradaban berkemajuan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, dalam amanatnya menekankan bahwa usia 50 tahun adalah fase kematangan. Karena itu, Milad Emas harus dimaknai secara lebih substantif dan strategis.
“Milad ini bukan hanya untuk bertemu dan merajut kenangan, tetapi memastikan bahwa sekolah Muhammadiyah menjadi bagian penting dari pembangunan peradaban,” ujarnya di hadapan civitas akademika, guru, siswa, alumni, serta para undangan yang memadati auditorium.
Dalam pemaparannya, Haedar menjelaskan bahwa peradaban merupakan puncak dari kebudayaan. Ia tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan dibangun melalui sistem pengetahuan, pendidikan, teknologi, ekonomi, organisasi sosial, hingga nilai-nilai religius yang mengakar kuat.
Menurutnya, dalam perspektif Islam, fondasi utama peradaban adalah tauhid. Nilai tauhid inilah yang melahirkan etos keilmuan, semangat inovasi, dan kemajuan umat.
“Peradaban Islam pernah melahirkan ilmu pengetahuan, matematika, teknologi, dan pemikiran besar dunia. Pertanyaannya, mampukah sekolah Muhammadiyah hari ini menyangga beban peradaban sebesar itu? Saya yakin mampu,” tegasnya, lalu disambut tepuk tangan hadirin.
Haedar mengingatkan bahwa sejarah emas peradaban Islam tidak boleh berhenti sebagai romantisme masa lalu.
Justru, lembaga pendidikan Muhammadiyah harus menjadi motor penggerak lahirnya generasi berilmu, berakhlak, dan berdaya saing global.
Haedar juga menegaskan, membangun peradaban tidak bisa dilakukan secara instan. Peradaban, katanya, dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang membentuk karakter kuat.
Disiplin, tertib waktu, budaya antre, menghargai proses, serta kepatuhan terhadap aturan adalah fondasi dasar yang sering kali dianggap sepele, padahal memiliki dampak besar dalam membentuk karakter unggul.
“Belajar disiplin itu bagian dari membangun peradaban. Hal-hal kecil seperti tertib waktu dan menghargai aturan tidak boleh dianggap sepele,” ungkapnya.
Haedar menambahkan, sekolah harus menjadi ruang pembiasaan nilai. Bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga laboratorium pembentukan karakter yang konsisten dan berkelanjutan.
Dia turut menyoroti pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang sehat. Sekolah, menurutnya, tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan keluarga dan masyarakat.
Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh sinergi tiga pilar utama: sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial. Tanpa keteladanan yang utuh dari semua pihak, pendidikan akan kehilangan ruhnya.
“Anak-anak kita hari ini membutuhkan keteladanan, bukan hanya pengajaran. Di tengah perubahan sosial yang cepat, keteladanan itu menjadi sesuatu yang sangat mahal,” katanya.
Haedar mengingatkan, di era disrupsi dan derasnya arus informasi, nilai-nilai moral dan akhlak menjadi benteng utama yang harus diperkuat melalui pendidikan yang integral.
Lebih lanjut, Haedar mengajak para guru, alumni, serta seluruh warga Muhammadiyah untuk menjadikan SMAMDA sebagai pusat persemaian kebudayaan tinggi menuju peradaban berkemajuan.
Menurutnya, alumni tidak cukup hadir sebagai saksi sejarah atau sekadar mengenang masa sekolah. Mereka harus terlibat aktif dalam pengembangan mutu pendidikan, jejaring kerja sama, hingga kontribusi ide dan sumber daya.
Milad Emas, katanya, adalah momentum refleksi sekaligus proyeksi. Refleksi atas capaian 50 tahun, dan proyeksi tentang 50 tahun ke depan.
Menutup amanatnya, Haidar menegaskan bahwa setiap kontribusi untuk Muhammadiyah, sekecil apa pun, memiliki nilai ibadah dan makna besar bagi masa depan umat dan bangsa.
“Sekecil apa pun yang kita berikan untuk Muhammadiyah, sejatinya kita sedang menjemput ridha dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments