
PWMU.CO-Shalat pertama kali Nabi Muhammad saw diajari Jibril. Dua rakaat untuk tiap shalat. Kemudian Allah ta’ala menyempurnakan dengan empat rakaat bagi mukimin dan dua rakaat bagi musafir seperti asalnya.
Demikian dijelaskan Ibnu Ishaq dalam kitab Sirah Nabawi. Dia menceritakan, untuk pertama kalinya shalat diwajibkan kepada Rasulullah saw, malaikat Jibril datang kepada Nabi yang ketika itu berada di atas gunung Makkah.
Malaikat Jibril memberi isyarat kepada Rasulullah dengan tumitnya di lembah. Dari lembah itu memancarlah mata air. Kemudian malaikat Jibril memperlihatkan cara berwudhu. Lalu Nabi berwudhu seperti Jibril bersuci.
Setelah itu malaikat Jibril berdiri mengerjakan shalat. Kemudin Rasulullah ikut shalat seperti shalatnya Jibril. Lalu malaikat Jibril berpaling dari hadapan Nabi. Begitulah shalat Nabi asal mulanya.
Kemudian Rasulullah pulang menemui Khadijah memperlihatkan kepadanya cara bersuci untuk shalat seperti diajari malaikat Jibril. Khadijah pun berwudhu seperti diajarkan. Selanjutnya Rasulullah mengajarkan cara shalat kepada istrinya.
Ibnu Ishaq berkata, Utbah bin Muslim, mantan budak Bani Taim berkata kepadanya dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im. Nafi ini meriwayatkan banyak sekali hadits dari Ibnu Abbas. Dia menerangkan, ketika shalat diwajibkan, Rasulullah didatangi malaikat Jibril.
Waktu-waktu Shalat
Kemudian malaikat Jibril shalat dengan Nabi ketika matahari mulai condong ke barat. Lantas malaikat Jibril mengerjakan shalat Ashar dengan Nabi ketika bayangan benda sama persis dengan bendanya.
Setelah itu malaikat Jibril mengerjakan shalat Maghrib dengan Nabi ketika matahari telah terbenam. Kemudian malaikat Jibril mengerjakan shalat Isya dengan Rasulullah ketika sinar merah matahari setelah terbenam telah hilang.
Selanjutnya malaikat Jibril mengerjakan shalat Subuh dengan Rasulullah ketika fajar menyingsing. Esok paginya, malaikat Jibril datang Iagi kepada nabi Ialu mengerjakan shalat Duhur ketika bayangan persis seperti dirinya.
Kemudian malaikat Jibril mengerjakan shalat Ashar bersama Nabi saat bayangan seseorang dua kali lebih panjang. Lantas malaikat Jibril mengerjakan shalat Maghrib bersamanya waktu matahari telah terbenam sama seperti kemarin.
Seterusnya malaikat Jibril mengerjakan shalat Isya bersama Nabi setelah sepertiga malam pertama berlalu. Lalu malaikat Jibril mengerjakan shalat Subuh bersama Nabi ketika fajar belum menyingsing. Kemudian malaikat Jibril berkata, ”Hai Muhammad, waktu shalat adalah pertengahan di antara shalatmu hari ini dan shalatmu kemarin.”
Shalat merupakan tata cara beribadah umat Islam yang telah bertahan lebih dari 1441 tahun. Shalat yang kita laksanakan hari ini seperti itulah Nabi Muhammad dulu shalat pertama kali. Begitulah juga shalat nabi-nabi sebelum Islam. Hanya umat Islam yang tetap mempertahankan tata cara ibadah kepada Allah seperti asalnya.
Ketahuan Abu Thalib
Kemudian Nabi mengajari shalat kepada Ali bin Abi Thalib. Jika waktu shalat tiba, Rasulullah saw pergi ke syi’b (jalan di antara dua bukit) bersama Ali dengan diam-diam tanpa se-pengetahuan Abu Thalib, dan kaumnya.
Keduanya mengerjakan shalat-shalat di syi’b tersebut. Sore hari keduanya pulang ke rumah. Itulah yang keduanya lakukan dalam jangka waktu tertentu hingga akhirnya Abu Thalib menemukan keduanya sedang shalat.
Abu Thalib bertanya, ”Keponakanku, agama apa yang engkau anut seperti yang kulihat tadi?”
Rasulullah menjawab,”Allah telah mengutusku sebagai Rasul kepada hamba-hambaNya. Dan engkau, pamanku, adalah orang yang paling berhak aku nasihati dan aku ajak kepada petunjuk. Engkau orang yang paling layak menjawab dakwahku dan menyokongku di dalamnya.
Abu Thalib berkata,”Keponakanku, sungguh aku tidak dapat meninggalkan agama nenek mo-yangku dan apa yang biasa mereka kerjakan. Namun demi Allah, tidak ada seorang pun yang bisa menimpakan kejahatan kepadamu, selagi aku masih hidup.”
Abu Thalib juga bertanya kepada Ali. ”Anakku, agama apa yang kamu anut?”
Ali menjawab,”Ayah, aku telah beriman kepada Allah, dan RasulNya. Aku membenarkan apa yang dibawa, shalat bersamanya, dan mengikutinya.”
Abu Thalib berkata,”Jika ia mengajakmu kepada kebaikan, maka ikutilah dia.” (*)
Editor Sugeng Purwanto





0 Tanggapan
Empty Comments