Pernahkah kita merenung sejenak? Di masjid, sujud kita bisa panjang. Doa kita lirih, bahkan meneteskan air mata. Namun saat membuka media sosial, jempol kita begitu cepat menulis komentar pedas, menyebar prasangka, bahkan tanpa sadar memamerkan kemewahan.
Seolah-olah, keshalehan kita berhenti di sajadah. Begitu layar ponsel menyala, nilai-nilai itu ikut meredup.
Inilah paradoks zaman digital: saleh di ruang ibadah, tetapi lalai di ruang publik virtual. Lalu muncul pertanyaan yang menohok: apakah kita benar-benar sedang mengejar ridha Allah, atau sekadar membangun citra saleh di mata manusia?
Padahal, taqwa tidak pernah mengenal dua wajah.
Taqwa tidak mungkin hidup di masjid, lalu mati di media sosial.
Mari kita renungkan kembali lima “sistem operasi” kehidupan seorang muslim di era digital.
Aqidah: Kompas di Tengah Materialisme
Segala sesuatu bermula dari aqidah. Tanpa iman yang kokoh, amal bisa berubah menjadi formalitas.
Hari ini, “berhala” tidak lagi berupa patung. Ia hadir dalam bentuk baru: ramalan zodiak, konten mistik, hingga ketergantungan berlebihan pada manusia.
Orang bertaqwa tidak mudah panik saat ekonomi sulit. Ia percaya Allah Ar-Razzaq. Keyakinan ini melahirkan ketenangan, bukan kecemasan berlebihan.
Ibadah: Recharge, Bukan Sisa Waktu
Bagi orang bertaqwa, shalat bukan beban, tetapi kebutuhan. Ia bukan aktivitas di sela waktu kosong, melainkan prioritas yang mengisi ulang energi spiritual.
Berani berhenti dari rapat saat adzan berkumandang adalah bukti nyata bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi kebutuhan jiwa.
Ilmu: Benteng dari Hoaks
Di era banjir informasi, iman tanpa ilmu bisa berubah menjadi fanatisme buta.
Berapa banyak pesan agama beredar di grup WhatsApp tanpa verifikasi? Padahal, tabayyun adalah bagian dari ketaqwaan.
Orang bertaqwa tidak mudah membagikan konten sebelum memastikan kebenarannya.
Akhlaq: Integritas Jempol dan Lisan
Di sinilah ujian terbesar era digital.
Rasulullah menegaskan bahwa akhlaq baik adalah jalan menuju surga. Namun di media sosial, sering kali kita lupa: komentar kita juga akan dimintai pertanggungjawaban.
Menahan emosi saat berdebat di dunia maya adalah bentuk jihad yang nyata hari ini.
Sebab, jempol juga punya hisab.
Sosial: Dari Konsumtif ke Kontributif
Taqwa tidak berhenti pada hubungan dengan Allah. Ia harus terasa manfaatnya bagi manusia.
Hari ini, keshalehan sosial bisa hadir dalam bentuk sederhana: donasi online, membantu korban bencana, menjaga kebersihan lingkungan, hingga menyebarkan kebaikan.
Sebaliknya, budaya flexing justru menumbuhkan iri dan hasad.
5 Yang Perlu Dilakukan, 5 Yang Harus Ditinggalkan
Aqidah
✔ Unfollow akun yang merusak iman
✘ Tinggalkan ramalan nasib dan konten klenik
Ibadah
✔ Aktifkan mode Do Not Disturb saat ibadah
✘ Tinggalkan gadget saat ceramah dan iqamah
Ilmu
✔ Ikuti kajian dari guru yang jelas sanadnya
✘ Jangan share hadits tanpa verifikasi
Akhlaq
✔ Komentar santun dan membangun
✘ Tinggalkan hujatan dan cyberbullying
Sosial
✔ Aktif dalam aksi kemanusiaan
✘ Tinggalkan pamer kemewahan
Taqwa Bukan Soal Tampilan
Menjadi sholeh di sajadah tetapi kasar di media sosial adalah tanda ketaqwaan yang belum utuh.
Rasulullah pernah bersabda sambil menunjuk dada, “Taqwa itu di sini.”
Artinya, taqwa bukan soal citra, bukan soal caption, bukan soal postingan religius. Taqwa adalah kemampuan mengendalikan diri saat tidak ada yang melihat.
Termasuk saat sendirian bersama layar ponsel.
Mari berhenti menjadikan agama sebagai aksesori. Saatnya menjadikannya fondasi hidup.
Sebab di hadapan Allah, kita tidak dinilai dari gaya yang terlihat, tetapi dari ketulusan yang berakar di dalam hati.






0 Tanggapan
Empty Comments