Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Silaturahmi Bulanan SD Musix Kupas Empat Amalan Utama saat di Rumah

Iklan Landscape Smamda
Silaturahmi Bulanan SD Musix Kupas Empat Amalan Utama saat di Rumah
pwmu.co -

Dalam suasana hangat penuh kebersamaan, guru dan karyawan SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya kembali berkumpul dalam silaturahmi bulanan pada Ahad (7/12/2025). Pada silaturahmi kali ini, peserta mendapatkan tausiyah tentang empat amalan utama yang dapat dilakukan saat di rumah.

Kegiatan silaturahmi yang dikemas dalam arisan keluarga besar SD Musix tersebut berlangsung di kediaman guru kelas 5-B, Imam Masyhur, S.T., yang berdomisili di wilayah Trenggumung Karya, Kecamatan Semampir, Surabaya.

Kaur Kepegawaian dan Sumber Daya Insani SD Musix, Puspitawati, S.Pd. menjelaskan bahwa agenda tersebut dilaksanakan secara rutin secara bergiliran dengan tujuan agar para guru dan karyawan dapat saling mengenal sekaligus mengetahui kediaman masing-masing.

“Agenda ini secara rutin dilaksanakan secara bergiliran dengan tujuan saling mengenal sekaligus mengetahui kediaman para guru dan karyawan,” jelasnya.

Acara yang dipandu oleh Hidayatun Ni’mah, M.Pd., ini berlangsung khidmat dan menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya, Dr. Imam Syaukani, M.A., sebagai penceramah.

Syaukani mengawali tausiyahnya dengan menjelaskan bahwa umumnya waktu manusia banyak habis di dua tempat, yaitu di rumah dan di tempat kerja.

“Umumnya, waktu manusia banyak habis di dua tempat, yaitu di rumah dan di tempat kerja,” ujar Syaukani mengawali tausiyahnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa sepertiga hidup manusia digunakan hanya untuk tidur.

“Hidup kita ini sepertiganya hanya untuk tidur,” ucapnya.

Ia menyampaikan bahwa jika seseorang telah berusia 60 tahun, maka sekitar 20 tahun di antaranya dihabiskan untuk tidur.

“Jika usia kita sudah mencapai 60 tahun, berarti 20 tahun di antaranya dihabiskan untuk tidur sedangkan dua pertiganya digunakan untuk berbagai aktivitas lainnya, seperti bekerja dan melakukan beragam ibadah,” lanjutnya.

Selanjutnya, dia menjelaskan empat amalan utama saat di rumah. Pertama. Jangan jadikan rumah seperti kuburan. Dia menyitir hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar.

“اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا”

Artinya: jadikanlah (sebagian dari) salat kalian ada di rumah kalian, dan jangan kalian jadikan ia sebagai kuburan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ia menegaskan bahwa seorang laki-laki seharusnya melaksanakan salat wajib di masjid. Karena itu, apabila ada yang mengaku warga Muhammadiyah tetapi salat wajibnya dilakukan di rumah, maka orang tersebut lebih tepat disebut warga Aisyiyah. Ucapan itu pun disambut tawa para undangan.

Kedua, menjadikan rumah sebagai pusat infak dan sedekah. Menurutnya, terdapat perbedaan yang jelas antara infak dan sedekah. Infak merupakan aktivitas yang wajib dilaksanakan.

“Memberikan nafkah kepada istri, itu termasuk infak dan hukumnya wajib,” tuturnya.

Sebaliknya, lanjutnya, jika ada pengamen datang lalu kita memberinya uang, itu termasuk sedekah, dan bersifat sunnah sehingga boleh saja jika tidak memberi.

Allah berfirman dalam surat Saba’ 39:

قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ 

Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.

Ketiga, mengucapkan basmalah setiap kali masuk rumah dan saat makan.

Syaukani menjelaskan bahwa jika seseorang ingin agar setan tidak ikut menginap dan makan di rumahnya, maka hendaknya mengucapkan bismillah dan salam ketika memasuki rumah.

Hal ini merujuk pada hadis sahih riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa rumah yang tidak dibacakan basmalah dan salam akan membuat setan betah tinggal dan turut menikmati makanan pemiliknya.

Keempat, berwudu seperti akan salat sebelum tidur. Amalan ini, menurutnya, penting dilakukan karena pada hakikatnya tidur adalah ibarat berangkat menuju “kematian kecil”.

“Bagaimana kalau seseorang kentut sebelum tidur? Apakah harus berwudu kembali? Tidak perlu, karena wudu itu merupakan syarat sahnya salat, bukan syarat sahnya tidur,” tegasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu