Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Simposium Berseri Ortom Muhammadiyah: Menyalakan Api Refleksi, Menyulam Arah Kepemimpinan

Iklan Landscape Smamda
Simposium Berseri Ortom Muhammadiyah: Menyalakan Api Refleksi, Menyulam Arah Kepemimpinan
pwmu.co -
Pelaksanaan Simposium Berseri sesi 1 di Ruang Ortom PDM Kota Malang. (Riyadh Rasydan Ramadhan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Di sebuah ruang sederhana yang bersahaja, Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang, malam itu bukan hanya sekadar pertemuan. Ia menjelma menjadi ruang perenungan.

Simposium Berseri Organisasi Otonom Muhammadiyah hadir sebagai panggung refleksi bagi para kader muda untuk menimbang, menilai, dan merancang kembali arah kepemimpinan umat—bukan hanya untuk Muhammadiyah, tapi untuk peradaban bangsa (13/6/2025).

Acara yang diinisiasi oleh Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Malang dengan tajuk “Merancang Masa Depan–Proyeksi Kepemimpinan Muhammadiyah untuk Peradaban Bangsa” ini, digelar selepas shalat Isya, dan dihadiri oleh para perwakilan ortom.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Nasyiatul Aisyiyah (NA), Hizbul Wathan (HW), Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) se-Kota Malang, PDPM, serta Pimpinan Daerah Aisyiyah.

Tak ketinggalan, para peserta Pelatihan Instruktur Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dari MPKSDI PDM Malang turut mengambil bagian. Semuanya berkumpul dalam satu semangat: menyalakan kembali bara idealisme.

Dosen UIN Sunan Ampel, Ahmad Nur Fuad. (Riyadh Rasydan Ramadhan/PWMU.CO)

Suasana berlangsung akrab namun serius. Acara kali ini dipimpin oleh Bintang Sasmita Wicaksana sebagai fasilitator, dan pemateri malam itu, seorang akademisi dari UIN Sunan Ampel, Ahmad Nur Fuad, membuka cakrawala dengan menyampaikan nilai-nilai dasar gerakan Muhammadiyah—khususnya semangat Surah al-Maun—yang menjadi napas dari gerakan sosial-keagamaan ini.

Beliau menekankan bahwa persoalan mendasar dalam tubuh organisasi bukan pada struktur, melainkan pada refleksi dan orientasi nilai para pemimpinnya.

Ia pun menyampaikan Kepemimpinan Transformatif yang menjadi modal di masa kini, dan re-orientasi kembali perjuangan Ahmad Dahlan dengan membela para kaum lemah dan terlemahkan.

Diskusi hangat pun mengalir. Salah satu perwakilan dari PDPM memantik perdebatan dengan pertanyaan tajam: “Benarkah R.A. Kartini pahlawan yang mewakili perjuangan perempuan Indonesia?”, dan menyentil isu tambang yang kian panas di negeri ini.

Lalu, dari NA muncul suara yang menggugah nurani: bahwa patriarki—yang selama ini dianggap asing dalam Muhammadiyah—ternyata diam-diam hidup dalam tubuh organisasinya sendiri.

Namun, bukan ketegangan yang muncul, melainkan ketulusan. Gelak tawa ringan sesekali hadir sebagai jeda dari ketegangan wacana. Tapi keseriusan tetap terjaga. Simposium ini lebih dari sekadar diskusi. Ia menjadi cermin, setiap peserta diminta menatap dirinya sendiri.

Di penghujung acara, para peserta diminta menuliskan refleksi diri tentang kepemimpinan, tentang organisasi, tentang harapan, dan—yang terpenting—tentang perubahan.

Sebab seperti yang digarisbawahi oleh pemateri: “Kita tak bisa membenahi organisasi tanpa terlebih dahulu membenahi diri sendiri”.

Sebuah simpulan yang sederhana tapi dalam: Muhammadiyah telah memiliki struktur dan sistem yang baik, namun ia akan kehilangan arah jika para penggeraknya melenceng dari nilai-nilai aslinya.

Malam itu, bukan hanya ruang yang penuh. Tapi juga hati yang penuh—oleh kesadaran, oleh semangat baru, oleh niat untuk berubah dan memperbaiki. Simposium ini bukan sekadar acara. Ia adalah titik tolak.(*)

Penulis Nyardianti Artika Devi Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu