Dalam rangka memberikan pemahaman mendalam mengenai Fiqih Munakahat, siswa-siswi SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) melaksanakan praktik simulasi pernikahan secara Islami di ruang kelas XII-7 lantai 5 pada Rabu (22/10/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan tema Merajut Cinta Kasih dengan Pernikahan. Kegiatan dikemas secara menarik dan aplikatif agar siswa dapat memahami proses pernikahan dalam Islam, mulai dari akad nikah, khutbah nikah, hingga adab kehidupan rumah tangga.
Guru PAI Smamita, Chusnul Utami, S.Pd.I, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami teori Fiqih Munakahat secara tekstual, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
“Melalui simulasi ini, kami berharap siswa dapat memahami makna dan tata cara pernikahan dalam Islam. Bukan sekadar seremoni, tetapi juga tanggung jawab dan ibadah,” ujarnya.
Selama kegiatan, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang berperan sebagai wali, penghulu, saksi, mempelai, hingga tamu undangan. Mereka menampilkan prosesi akad nikah sesuai tuntunan syariat Islam.
“Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu memahami definisi nikah, hukum nikah, rukun dan syarat nikah, mahar, hak serta kewajiban suami istri, hingga hikmah pernikahan. Dengan memperagakan proses akad nikah, siswa akan lebih mudah memahami materi Fiqih Munakahat, yang tentunya bermanfaat dalam kehidupan mereka ke depan,” tambahnya.
Salah satu siswa, Raditya Ananda Pratama Sudiono, yang berperan sebagai penghulu, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia merasa simulasi ini membuat pembelajaran menjadi lebih hidup dan mudah dipahami.
“Melalui simulasi pernikahan, kami dapat memahami tata cara dan rukun nikah dalam Islam secara langsung. Pembelajaran yang sebelumnya hanya teoritis menjadi lebih konkret dan mudah dipahami,” tuturnya.
Raditya menambahkan, kegiatan ini juga menumbuhkan sikap tanggung jawab dan kedewasaan berpikir dalam membangun rumah tangga sesuai syariat Islam.
“Pernikahan bukan hanya prosesi seremonial, tetapi juga ibadah yang memiliki nilai spiritual dan sosial. Dalam simulasi ini kami juga belajar kerja sama, komunikasi, dan tanggung jawab melalui berbagai peran seperti wali, saksi, penghulu, maupun pasangan pengantin. Kegiatan ini menjadi media pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments