Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sinergi Dakwah Muhammadiyah dan NU Menggema di Pengajian Ahad Pagi

Iklan Landscape Smamda
Sinergi Dakwah Muhammadiyah dan NU Menggema di Pengajian Ahad Pagi
Peserta Pengajian Akbar Ahad Pagi di Kabupaten Pekalongan (Foto: Shofani/PWMU.CO)
pwmu.co -

Kesabaran dalam Menghadapi Takdir

Sinergi Dakwah Muhammadiyah dan NU Menggema di Pengajian Ahad Pagi
Drs. KH. Mulyono Kastari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan saat memberikan pesan di hadapan jamaah (Foto: Shofani/PWMU.CO)

Ia menyampaikan pesan tentang pentingnya perubahan dan kesabaran dalam menghadapi takdir.

“Hidup ini adalah perubahan yang tidak bisa kita elakkan. Maka, carilah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat. Jangan suka berkeluh kesah karena hanya akan melemahkan semangat dan tidak mengubah apa pun. Sebaliknya, berbaik sangkalah kepada Allah karena terkadang yang tidak kita harapkan justru lebih baik menurut-Nya,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa setiap manusia tentu menginginkan kehidupan yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Namun sering kali, manusia justru lebih mudah mengingat hal-hal yang tidak menyenangkan dibandingkan kenikmatan yang telah Allah berikan.

“Seperti lampu lalu lintas yang berwarna merah dan hijau, biasanya yang diingat hanya lampu merahnya saja, sementara yang hijau terlupakan. Begitulah manusia, yang sering disampaikan hanyalah keluhan, sedangkan hal-hal baik yang dialami justru jarang diungkapkan,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menasihati agar umat Islam selalu mengingat kenangan-kenangan indah dan menjauhi kebiasaan berkeluh kesah. Menurutnya, keluh kesah tidak hanya menurunkan semangat, tetapi juga membuat seseorang sulit maju dan berkembang.

“Kalau yang kita ingat adalah hal-hal baik, maka hati akan tenang. Tapi kalau hidup diisi dengan keluhan, maka semangat akan merosot. Rata-rata manusia sepanjang hayatnya suka mengeluh, padahal keluh kesah itu tidak mengubah apa pun—malah menyusahkan diri sendiri,” jelasnya.

Oleh karenanya, ia mengajak jamaah untuk senantiasa husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah SWT. Sebab, tidak semua yang diinginkan manusia akan sesuai dengan kenyataan.

“Terkadang yang kita harapkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Namun yakinlah, Allah SWT selalu mempersiapkan sesuatu yang lebih baik bagi hamba-Nya, sesuai dengan prasangka mereka kepada-Nya,” pungkasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. KH. Syam’ani Sya’roni M.Ag yang juga Guru Besar UIN KH. Abdurrahman Wahid, dalam mauidhoh hasanah-nya menegaskan bahwa kegiatan hadroh dalam pengajian ini merupakan bentuk akulturasi seni dan budaya Islam yang patut diapresiasi.

“Hadroh adalah wujud budaya yang bisa menyatukan umat, mengendorkan pikiran yang sumpek, dan mendatangkan semangat beribadah. Semoga ini menjadi tanda kebangkitan umat Islam,” ujarnya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu