
PWMU.CO – SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) terus menunjukkan konsistensinya dalam meraih berbagai prestasi membanggakan. Tidak hanya dari kalangan siswa, prestasi juga ditorehkan oleh guru Smamita, Gita Widya Lara SPd, yang berhasil meraih Juara 3 dalam Lomba Menulis Esai kategori Guru dan Kepala Sekolah tingkat nasional, Senin (28/7/2025).
Gita Widya Lara SPd, guru Bahasa Indonesia Smamita, meraih penghargaan tersebut melalui karyanya yang berjudul “Persepsi Gagal dalam Budaya Membaca”. Dalam ajang ini, ia juga dinobatkan sebagai finalis Duta Literasi Nasional dalam Program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional dan Festival Literasi Daerah yang diselenggarakan oleh Nyalensia, mulai Mei 2024 hingga Mei 2025.
Dalam esainya, Gita mengangkat fenomena kegagalan dalam memahami bacaan yang kerap terjadi di berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga profesional.
“Menurut saya, budaya membaca merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mengasah pikiran. Namun, banyak orang hanya melakukannya secara permukaan, tanpa menyerap makna yang mendalam,” ungkapnya.
Dalam esai tersebut, Gita menceritakan pengalamannya saat mengajar, ketika seorang siswa mampu membaca dengan lancar namun tidak memahami isi teks yang dibaca. Dari refleksi itu, ia menekankan pentingnya membaca secara intensif dan kritis, serta melibatkan analisis mendalam terhadap isi bacaan. Ia juga menyampaikan bahwa kenyamanan saat membaca—seperti pencahayaan, posisi duduk, dan suasana yang tenang—merupakan faktor penting dalam meningkatkan konsentrasi.
Lebih jauh, Gita mendorong pembentukan kebiasaan membaca yang berkelanjutan, meskipun harus diawali dengan paksaan. Ia juga memperkenalkan tiga teknik membaca efektif: skimming, inner monologue, dan monologue.
“Membaca adalah proses yang menumbuhkan kebijaksanaan dan memperkaya jiwa. Tulisan ini mengajak pembaca untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari hidup yang bermakna,” terangnya.
Ia juga berharap artikelnya dapat memberikan dampak positif bagi para siswa. Harapan pertama adalah meningkatkan kesadaran membaca dengan makna, agar siswa tidak hanya membaca teks secara permukaan, tetapi mampu memahami isi dan maksud tersembunyi di balik setiap kalimat.
Kedua, melatih diri membaca secara kritis dan aktif. Siswa diharapkan terbiasa bertanya dalam hati saat membaca, seperti “Apa maksud penulis?” atau “Apa pesan yang ingin disampaikan?” sehingga proses membaca menjadi lebih bermakna.
Ketiga, membentuk kebiasaan membaca yang konsisten. Dengan membaca minimal 15–20 menit setiap hari, siswa dapat menjadikan membaca sebagai rutinitas positif yang memperkaya pengetahuan dan memperkuat daya pikir.
Keempat, menerapkan teknik membaca yang efektif sesuai kebutuhan agar kegiatan membaca menjadi lebih efisien dan menyenangkan.
Kelima, menumbuhkan minat dan rasa cinta membaca. “Dengan memilih bacaan yang sesuai minat, siswa bisa menjadikan membaca sebagai kegiatan yang dinantikan, bukan kewajiban yang membebani,” tutur wanita yang juga merupakan alumni Smamita tersebut. (*)
Penulis Nashiiruddin Editor Wildan Nanda Rahmatullah






0 Tanggapan
Empty Comments