Hingga kini, banyak umat Islam yang menganggap periode Mekkah sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai terjelek. Apalagi ada imbuhan jahiliyyah di belakang nama zaman, membuat masyarakatnya seakan-akan tidak lebih dari kumpulan manusia yang nirkeadaban.
Definisi jahiliyyah seringkali berpijak pada makna kebahasaan, ja-ha-la, yang berarti tidak tahu atau tidak punya pengetahuan. Begitu tulis Muhammad ibn Mukarram ibn Mandzir dalam Lisaan al ‘Arab Juz 12 halaman 129.
Penilaian jelek terhadap masyarakat Mekkah pra-Islam semakin kuat, ketika kitab suci ikut menyebut kata jahiliyyah. Alquran menyebutnya menyebut dalam empat tempat, yaitu QS Ali Imron: 154, al-Maidah: 50, al-Ahzab: 33, dan al-Fath: 26.
Definisi kebahasaan dan penyebutannya dalam kitab suci menjadikan masyarakat Mekkah pra-Islam sebagai terdakwa kaum jahiliyyah. Kesuraman mereka ini secara suram dipotret oleh –salah satunya– pendiri Gulen Movement, Muhammed Fethullah Gulen.
“Manusia zaman itu tidak mampu memberi makna berarti terhadap hidup mereka. Pondasi keberagamaan telah goyah dan semua agama samawi mulai disimpangkan. Zaman jahiliyyah ditandai dengan tenggelamnya manusia dalam liang kezaliman yang akut dengan rusaknya sendi-sendi kemanusiaan. Semuanya terbalik 180 derajat, karena kebaikan dianggap sebagai aib, dan begitu juga sebaliknya,” tulis Gulen dalam Cahaya Abadi Muhammad SAW: Kebanggaan Umat Manusia, Vol. 1, halaman 12.
Lazimnya manusia, sejelek torehan sejarah yang dibuatnya pasti menyelipkan nilai kebajikan. Bahkan tidak mustahil ada nilai-nilai (values) itu masih relevan sebagai pelajaran kaum terkini. Sama halnya dengan sejarah manusia yang penuh cerita positif, sudah pasti punya sisi negatif. Begitu pula halnya masyarakat Mekkah sebelum kerasulan Muhammad.
“Selain wilayah yang banyak dikunjungi orang untuk beribadah di Ka’bah, Mekkah secara ekonomi juga cukup menguntungkan sebagai jalur perdagangan internasional,” begitu tulis Marshall G.S. Hodgson dalam The Venture of Islam: Conscience and History in a WorId Civilization. Volume One: The Classical Age of Islam, menggambarkan Mekkah sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw.
Tidak hanya sebagai tempat transit, pemuka Mekkah juga melebarkan sayap perdagangannya hingga keluar daerah. Puncak kejayaan perdagangan masyarakat Mekkah ketika wilayah ini di bawah kepemimpinan Hasyim bin Abd Manaf bin Qushay bin Kilaab.
Dia mengorganisir pedagang Mekkah dalam kafilah besar dengan dua rute yang terjadwal. Kafilah berangkat ke Yaman-Ethiopia saat musim dingin, dan pada musim panas menuju Syria, Palestina, hingga Ankara di Turki. Perjalanan efisien dan efektif inilah yang Allah swt abadikan dalam al-Quran Surat Quraisy.
Buat Perjanjian dengan Penguasa Wilayah
Untuk menjaga keamanan perjalanan kafilah, masyarakat Mekkah harus bisa membuat perjanjian dengan penguasa wilayah yang dilewatinya. Konsekuensi logisnya, pemuka Quraisy harus menemui penguasa setempat dan mendapatkan jaminan keamanan. Kehebatan diplomasi diperlihatkan dalam membangun kerja sama “lintas negara” dengan wilayah yang luas tersebut.
Untuk misi pertama, Hasyim sendiri yang menemui pemimpin Palestina-Syria (Syam), sebuah wilayah yang saat itu masih menjadi bagian dari kekuasaan Byzantium Romawi. “Setelah melakukan diplomasi yang memakan waktu berhari-hari, akhirnya Hasyim bisa mendapat jaminan bahwa pedagang Mekkah tidak akan mengalami gangguan saat masuk wilayah itu,” tulis Awaathif Adiib ‘Aliy Salaamah dalam Quraysy Qabl al-Islaam: Dawruhaa al-Siyaasiy wa al-Iqtishaadiy wa al-Diiniy.
Tidak ada keterangan valid berapa hari yang dibutuhkan untuk menyelesaikan urusan diplomasi ini. Kebanyakan catatan sejarah justru menggambarkan bagaimana upaya Hasyim agar penguasa setempat mau menemuinya. Dikabarkan Hasyim mengumbar kedermawanan dengan cara menyembelih hewan ternak untuk dibagikan dan dimakan oleh warga setempat. “Setelah berhari-hari, barulah raja setempat mendengar kabar ini, sehingga memanggil Hisyam ke hadapannya,” lanjut Awaathif Adiib.
Kesuksesan ini dilanjutkan dengan kebijakan Hasyim yang mengutus saudara-saudaranya ke berbagai wilayah yang dilewati maupun tujuan pedagang Mekkah. Selain menjadi pemimpin kafilah, saudara-saudaranya itu juga membawa misi diplomatik untuk mengamankan kepentingan dagang masyarakat Mekkah.
Diawali dengan keberhasilan Abd al-Shams membangun perjanjian dengan raja Ethiopia, disusul kemudian Muththalib dengan penguasa Yaman, serta Nawfal dengan raja Iran. “Di kemudian hari, masing-masing itu juga menjadi pemimpin kafilah yang berdagang ke wilayah dimaksud,” tulis M. Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih.
Mekkah berhasil menjalin hubungan perdagangan dengan dua kekuatan politik yang saling bertentangan, Bizantium Romawi dan Persia tanpa memihak ke salah satu di antara keduanya. Kemahiran berdiplomasi ini tampaknya memang menjadi kepiwaian masyarakat Mekkah, tak terkecuali menurun pada Nabi Muhammad SAW.
Contoh mudahnya adalah saat Nabi meberi jawaban berbeda dari pertanyaan para sahabat yang berlainan dan waktu berbeda tentang amal terbaik. Pada satu waktu Nabi menempatkan shalat pada waktunya pada posisi pertama dalam urutan amal terbaik (al-Bukhariy Juz 9, hadits nomor 2.574). Tetapi di kesempatan lain juga pernah menyatakan amal terbaik adalah memberi makan dan menyebarkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal (al-Bukhariy Juz 1, hadits nomor 11)
Kemudian di lain kesempatan, Nabi menyatakan bahwa amalan terbaik adalah membuat orang lain merasa aman dari lidah dan tangannya (al-Bukhariy Juz 1, hadits nomor 10), berpuasa (al-Nasaa-i, Juz 7 hadits nomor 2.192, dan percaya pada Allah (al-Bukhariy Juz 1, hadits nomor 24).
Sudah tentu jawaban yang disodorkan Nabi tersebut bukan karena ketidakkonsistenan, melainkan sebuah misi diplomasi yang disesuaikan dengan keadaan orang yang bertanya serta keadaan kelompok masyarakat sebagai jawabannya.






0 Tanggapan
Empty Comments