Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Siswa Bisa Berpikir HOTS karena Guru Yang Menginspirasi

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Ria Pusvita Sari (depan) didampingi Rudi Purnawan saat memberikan materi di hadapan guru SD Muhammadiyah Benjeng. (Barok/PWMU.CO)

PWMU.CODifficulty is not same as higher order thinking. Tingkat kesukaran dalam butir soal tidak sama dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini disampaikan anggota tim Kurikulum 2013 (K13) SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik Ria Pusvita Sari di SD Muhammadiyah Benjeng Gresik, Selasa (10/7/18).

Dalam kegiatan Pembinaan Kurikulum 2013 dan Higher Order Thinking Skill (HOTS) tersebut, Vita—sapaannya—menyampaikan, untuk mengetahui arti sebuah kata yang tidak umum (uncommon word) mungkin memiliki tingkat kesukaran yang sangat tinggi, tetapi kemampuan untuk menjawab permasalahan tersebut tidak termasuk higher order thinking skills.

“Dengan demikian, soal-soal HOTS belum tentu soal-soal yang memiliki tingkat kesukaran yang tinggi,” ujarnya.

Kepada 8 guru SD Muhammadiyah Benjeng, Vita mengatakan kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas.

“Oleh karena itu, agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas,” jelasnya.

Aktivitas dalam pembelajaran itu, lanjut dia, dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis. “Siswa yang mampu berpikir HOTS hanya dapat terlahir dari guru yang profesional, cerdas, memotivasi, menginspirasi, unik, menarik, bersemangat, dan bekerja karena panggilan hati,” ujarnya yang diaminkan semua peserta.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Untuk dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa, Vita memberi contoh pertanyaan-pertanyaan inovatif yang bisa diterapkan di dalam kelas selama pembelajaran. “Biasanya saya pakai ‘what’s another way‘ (adakah cara lain) untuk muatan matematika, bisa juga ‘what if…’ (bagaimana jika…), dan juga ‘what’s wrong‘ (manakah yang salah),” jelas Koordinator International Class Program (ICP) tersebut.

Menurutnya, penting pula menanyakan ‘what would you do‘ (apa yang akan kamu lakukan) untuk beberapa kasus atau materi yang melatihkan keterampilan menganalisa.

Terakhir, Vita memberi contoh membuat soal HOTS dan cara menemukan konsepnya. Peserta tampak agak bingung ketika dihadapkan pada konsep alas dan tinggi segitiga serta metamorfosis lalat.

“Harapan kami, teman-teman di SD Muhammadiyah 1 Benjeng bisa mulai mencoba melatihkan soal-soal HOTS sebagai latihan berpikir dan nalar siswa,” harapnya. (RPS)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu