Siswa Konsentrasi Keahlian Teknik Elektronika Industri (TEI) SMK Muhammadiyah 2 (SMK Muda) Genteng Banyuwangi menjalani Uji Kompetensi Keahlian (UKK) dengan merakit adaptor, Jumat (5/2/2026).
Kegiatan ini merupakan ujian yang harus ditempuh oleh siswa Jurusan TEI Kelas XII sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan sertifikasi kelayakan kompetensi Elektronika Industri sesuai bidang yang mereka digeluti selama belajar tiga tahun di sekolah.
UKK ini berlangsung selama 6 hari. Dimulai sejak tanggal 2-7 Februari 2026. Ujian ini berlangsung di Laboratorium TEI SMK Muda Genteng yang berlokasi di Jalan Hasanudin Nomor 103.
Dalam UKK ini, siswa harus merakit adaptor secara individu. Adaptor adalah perangkat elektronik yang berfungsi untuk mengubah tegangan listrik AC (bolak-balik) menjadi tegangan DC (searah) yang sesuai kebutuhan perangkat. Alat ini penting untuk mencatu daya berbagai peralatan elektronik, seperti laptop, pengisi daya ponsel, televisi, dan radio.
Beragam alat dan komponen yang digunakan dalam UKK Elektro ini. Antara lain, solder, mesin bor, timah, atraktor, tool box, avometer, trafo, dioda, transistor, IC, dan box adaptor.
Pelaksanaan ujian ini terdiri beberapa tahapan. Pada tahap awal, siswa menggambar skema rangkaian adaptor dengan menggunakan aplikasi di komputer. Kemudian hasilnya dicetak pada sebuah kertas khusus dan ditempelkan di papan PCB, lalu disetrika. Hal ini dilakukan untuk melekatkan gambar rangkaian tersebut sehingga menyatu dalam PCB.
Pada tahap berikutnya, PCB dilarutkan dengan larutan clorid. Pengeboran pun dilakukan sebagai tempat memasukkan kaki komponen dan penyolderan. Setelah itu dilakukan pengukuran dan memasukkan pada box adaptor yang telah disiapkan.
Di tahap akhir, setiap peserta melakukan presentasi atas proyeknya tersebut di hadapan dua orang penguji. Mereka harus mampu menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh juri berdasarkan instrumen ujian.
Setelah selesai merakit adaptor, peserta ujian, Ahmad Syahril Saputra berharap adaptornya dapat berfungsi dengan baik. Siswa yang memiliki impian menjadi seorang masinis kereta api itu menceritakan tantangan saat menghadapi ujian ini.
“Menurut saya yang paling sulit adalah memastikan jalur rangkaian komponen tidak salah, sehingga tidak terjadi konsleting yang dapat mengakibatkan komponen rusak,” ujarnya.
Namun ia menyatakan kesiapannya untuk melakukan presentasi di hadapan penguji.
Senada dengan itu teman sekelasnya, Revan Desta Saputra juga berharap dapat lulus dalam ujian ini. Ia ingin setelah lulus sekolah nanti dapat bekerja di pulau Dewata. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments