Kreativitas dan inovasi kembali ditunjukkan oleh siswa kelas IX MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Kabupaten Lamongan pada Kamis (11/9/2025).
Dalam mata pelajaran Prakarya, para siswa berhasil menciptakan alat penetas telur sederhana dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas yang tersedia di sekitar mereka.
Inovasi ini lahir dari semangat belajar tinggi, yang dipadukan dengan keterampilan dalam mengolah barang-barang sederhana menjadi sesuatu yang bernilai guna.
Alat penetas telur yang mereka buat menggunakan kardus bekas sebagai wadah utama. Dinding kardus diperkuat dengan lapisan mika transparan, sehingga perkembangan telur dapat dipantau tanpa harus membuka kotak.
Lampu bohlam dipasang sebagai sumber panas utama, menggunakan fitting yang terhubung dengan kabel dan steker. Lakban dimanfaatkan untuk memperkuat sambungan serta menahan posisi mika dan kabel agar tetap stabil.
Sementara itu, gunting dan cutter digunakan untuk memotong dan membentuk bagian-bagian tertentu dari kardus sesuai kebutuhan.
Meskipun tampak sederhana, alat ini memiliki sistem kerja yang cukup efektif dalam menjaga suhu stabil, sehingga telur tetap hangat dan berpotensi menetas dengan baik.
Kepala MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi, Helmi Rohmanto SPI menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para siswa atas pencapaian tersebut.
“Kami merasa bangga karena anak-anak mampu menunjukkan kreativitas melalui hal-hal yang sederhana. Pembuatan alat penetas telur ini bukan sekadar proyek sekolah, tetapi juga merupakan bukti nyata bahwa siswa mampu berpikir kritis, memanfaatkan barang yang ada, serta memberikan solusi bagi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Menurutnya, ini merupakan bentuk pembelajaran bermakna yang terus didorong melalui penerapan Kurikulum Merdeka.
Guru Prakarya, Ahmad Fendi SH, yang mendampingi siswa dalam proyek ini, menegaskan bahwa pembelajaran berbasis praktik memiliki peran penting dalam mengembangkan keterampilan peserta didik.
“Dalam proses ini, anak-anak belajar merancang, mencoba, dan memperbaiki. Mereka memahami konsep suhu, cahaya, serta penggunaan energi listrik dengan cara yang sederhana namun aplikatif. Lebih dari itu, mereka juga berlatih bekerja sama, membagi tugas, dan saling membantu. Hal-hal seperti ini sering kali tidak didapatkan jika hanya mengandalkan pembelajaran berbasis teori,” jelasnya.
Proses pembuatan alat penetas telur ini diawali dengan diskusi panjang antarsiswa untuk menentukan rancangan yang paling tepat.
Mereka harus menghitung jumlah panas yang dibutuhkan, memperkirakan ukuran kotak yang ideal, serta menentukan posisi lampu yang strategis agar panas dapat tersebar merata di dalam kotak.
Berbagai kendala sempat mereka hadapi, seperti sambungan kabel yang kurang kuat atau lapisan mika yang tidak rapat sehingga udara dingin masuk ke dalam kotak. Namun, berkat ketekunan dan kerja sama yang baik, semua hambatan tersebut berhasil mereka atasi.
Salah satu siswa, Mella, yang turut aktif dalam pembuatan alat ini mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga.
“Awalnya kami mengira membuat alat seperti ini akan sangat sulit. Tapi ternyata, jika dikerjakan bersama-sama, semuanya terasa lebih ringan. Kami senang karena hasilnya bisa berfungsi,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa melihat telur menetas dari alat buatan sendiri adalah pengalaman yang tidak terlupakan.
“Kami jadi lebih percaya diri bahwa barang bekas pun bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tuturnya.
Selain menumbuhkan rasa percaya diri, kegiatan ini juga menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan.
Barang-barang bekas yang biasanya berakhir sebagai sampah, kali ini diberi fungsi baru yang lebih bernilai. Kardus bekas, misalnya, yang sering dianggap remeh, justru menjadi komponen utama dalam pembuatan alat penetas telur ini.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa dengan kreativitas, sesuatu yang sederhana pun dapat diubah menjadi sesuatu yang luar biasa.
Bagi madrasah, keberhasilan siswa dalam menciptakan alat penetas telur sederhana ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi siswa lainnya.
Proyek semacam ini bukan sekadar untuk memenuhi tugas mata pelajaran, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan budaya riset dan inovasi sejak dini.
Melalui pengalaman tersebut, para siswa diharapkan kelak mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan bekal keterampilan praktis yang bermanfaat.
Helmi Rohmanto juga menambahkan bahwa pihak sekolah akan terus mendorong lahirnya karya-karya kreatif dari para siswa.
“Kegiatan seperti ini harus terus dikembangkan. Kami berharap anak-anak tidak berhenti sampai di sini, melainkan terus mencoba menciptakan inovasi-inovasi baru yang lebih beragam. Siapa tahu, dari sebuah kardus dan lampu sederhana, bisa lahir ide besar yang kelak menjadi usaha atau bahkan produk unggulan,” ucapnya penuh optimisme.
Inovasi sederhana ini membuktikan bahwa keterbatasan bahan bukanlah hambatan untuk berkarya. Justru dari kesederhanaan lahir ide-ide kreatif yang bernilai tinggi.
Melalui kegiatan ini, MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal teori, tetapi juga tentang menumbuhkan kepercayaan diri, melatih keterampilan hidup, serta menanamkan semangat menjaga lingkungan.
Dengan keberhasilan proyek alat penetas telur ini, siswa kelas IX MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi tidak hanya belajar tentang sains dan teknologi, tetapi juga memahami makna kerja sama, kesabaran, dan tanggung jawab.
Nilai-nilai tersebut akan menjadi bekal berharga bagi mereka dalam menghadapi kehidupan di masa depan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments