
Ngobrol dengan Dubes
Kepada PWMU.CO, Tasha menceritakan masih ingat ketika sang dubes tertarik dengan baju adat gresik yang dia pakai. Gadis yang suka warna kuning itu menilai, “Pak Dubesnya baik dan ramah. Saya yang dipanggil maju pertama kali. Saya sempat deg-degan hehehe.”
“Ditanyain tentang foto saya yang menang, temanya dance. Kenapa kok bunga bukan orang? Ya saya jawab, karena tarian tidak harus manusia. Contohnya gambaran saya itu, tarian alam dan tarian warna. Misal bunga daun yang terkena angin juga bisa melambai-lambai tertiup angin,” terangnya.
Sang Dubes juga menanyakan apakah itu tarian alam. Tasha kembali mengiyakan. “Tarian yang indah!” ujar pria itu bersambut tepuk tangan para peserta seremoni.
“Saya ditanyain, suka menari gak? Tarian apa biasanya? Saya jawab, ya, aku suka menari. Biasanya menari tradisional di sekolah,” kenang peraih medali emas Lomba Matematika Tingkat Nasional yang diselenggarakan Denpasar Mengajar 2022 itu. Mereka berbincang dalam bahasa Inggris.
Melihat buah hatinya lancar menjawab pertanyaan dari Dubes Ceko, Rosa pun bersyukur. “Good job, Nak. Bisa tenang dan lancar mengobrol dalam bahasa Inggris sama Pak Bule,” ujarnya.
Terkait lancar dan terampilnya berbicara dalam bahasa Inggris, Rosa mengatakan putrinya belajar otodidak. Di rumah tetap berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sehari-harinya.
“Cuma suka baca komik dan novel bahasa Inggris dan komik anime bahasa Jepang. Nonton film kartun juga yang Inggrisan. Kemarin waktu di bandara nunggu pesawat, Tasha sambil baca novel bahasa Inggris,” terang ibu dari anak yang hobi membaca, menggambar, fotografi, matematika, dan nge-game itu.
Menambah Teman
Rosa akhirnya mengucapkan, “Terima kasih Ceko awardnya, telah memilih tujuh anak pemenang dari Indonesia. Menambah pengalaman dan teman. Masyaallah tabarakallah.”
Ini sejalan dengan yang Tasha rasakan. “Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan kemarin. Nambah pengalaman, tambah teman,” kenang alumnus Ananda Visual Art School Bandung itu.
“Saya sharing sama para pemenang yang lainnya. Misal, mereka hunting fotonya bagaimana. Cara teknik melukiskan gimana kok bisa bagus gitu. Ada yang anak SMP, ada yang SMA,” jelas siswa yang menekuni fotografi sejak kelas III SD itu. (*)
Penulis Sayyidah Nuriyah Editor Mohammad Nurfatoni





0 Tanggapan
Empty Comments