Pagi itu, aroma mentega yang hangat bercampur dengan wangi tepung panggang menyambut puluhan siswa kelas 4 SD Muhammadiyah 18 Surabaya yang melangkah masuk ke pusat produksi Pia Mahen, Sidoarjo.
Di antara kepulan uap panas oven dan denting peralatan dapur, rombongan kecil itu tampak takjub. Hari Kamis (8/1) itu bukan hari biasa—kelas mereka berpindah dari bangku sekolah ke jantung industri rumahan yang terkenal dengan kelembutan pia-nya.
Peneliti Cilik
Dengan mengenakan celemek dan pelindung kepala, para siswa memegang erat lembar analisis. Tatapan mereka fokus, seolah siap menjadi “peneliti cilik” yang tengah menjalankan misi penting: mengaitkan pelajaran teks prosedur yang selama ini hanya mereka temui di buku dengan kenyataan nyata di balik sebuah produk kuliner.
“Anak-anak kami dorong untuk melihat bagaimana instruksi kerja itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Mochamad Rafiansyach Hartono, S.Pd., koordinator Pembelajaran Luar Kelas (PLK), sambil mendampingi siswa yang tengah mencatat tahap-tahap produksi.
Menurutnya, analisis empiris seperti ini membuka wawasan bahwa ketepatan instruksi bukan sekadar kalimat baku dalam paragraf, tetapi ruh dari sebuah kualitas produk.
Di ruang produksi, mesin pengaduk adonan raksasa menjadi pusat perhatian. Suaranya berputar dalam interval teratur, memutar adonan hingga kalis. Tak jauh dari sana, meja besi mengilap menjadi tempat para perajin membentuk adonan. Deretan oven industri, dengan panas yang stabil, berdiri gagah seperti penjaga rasa yang memastikan setiap pia matang dengan sempurna.
Para siswa berjalan menyusuri setiap sudut, mencatat jenis-jenis bahan baku—dari tepung terigu, margarin, hingga tekstur isian kacang hijau dan cokelat yang lembut. Mereka belajar bahwa setiap unsur memiliki peran, dan setiap angka takaran menyimpan konsekuensi.
Di tengah kesibukan produksi, Ibu Srinah, pemilik Pia Mahen, menyapa para siswa dengan ramah. Kepada mereka ia berbagi rahasia sederhana yang menjadi kunci keberhasilan usahanya: kedisiplinan.
“Kami menjaga konsistensi rasa selama bertahun-tahun dengan ketepatan takaran dan proses yang bersih. Dua hal ini tidak bisa ditawar,” ujarnya sembari memantau aktivitas anak-anak yang antusias mengamati dapur produksi.
Empat Tahapan Produksi
Dari observasi itu, para siswa kemudian mengurai empat tahapan produksi ke dalam pemahaman prosedural:
Penyiapan Adonan – Mereka mencermati bagaimana bahan kering dan basah dicampur hingga mencapai tekstur elastis yang diharapkan.
Pelapisan Kulit (Pastry) – Mereka menyaksikan tangan-tangan terampil melipat adonan berulang, menciptakan lapisan kulit renyah yang menjadi ciri khas pia.
Pencetakan Isian – Gerakan memadatkan dan membungkus isian dicatat sebagai bagian dari prosedur membentuk bulatan sempurna.
Proses Pemanggangan – Dengan mata berbinar, mereka mengamati bagaimana adonan pucat berubah menjadi cokelat keemasan melalui pengelolaan suhu yang presisi.
Bagi para siswa, pengalaman ini bukan sekadar jalan-jalan edukatif. Di sinilah teori bertemu praktik, dan pembelajaran menjadi sebuah petualangan yang melibatkan mata, tangan, dan rasa ingin tahu. Semua temuan mereka nantinya akan dirangkai menjadi laporan teks prosedur—lebih hidup, lebih kontekstual, dan tentu saja lebih bermakna.
PLK hari itu ditutup dengan sesi tanya jawab hangat. Suasana ruang produksi kembali dipenuhi suara anak-anak yang berebut ingin tahu lebih banyak. Di antara tumpukan loyang dan aroma pia yang baru matang, mereka menyadari satu hal: belajar bisa terasa sangat nyata ketika teori menemukan tempatnya di dunia yang sesungguhnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments