Trotoar di depan Perguruan Muhammadiyah Balongpanggang, Gresik, mendadak meriah oleh kehadiran para pelajar SMA Muhammadiyah 6 Gresik (SMAMusix) pada Kamis sore (26/02/2026).
Kehadiran mereka bukan tanpa alasan; para siswa ini tengah mengemban misi kemanusiaan melalui aksi pembagian ratusan paket takjil kepada warga serta pengendara yang melintas.
Aksi sosial ini merupakan bagian tak terpisahkan sekaligus puncak implementasi dari program tahunan bertajuk ‘Pondok Ramadan’.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan kali ini terasa lebih bermakna.
Para siswa itu tidak sekadar berkutat pada penyampaian materi keagamaan di dalam kelas, melainkan mendorongnya untuk mengejawantahkan nilai-nilai melalui kepedulian sosial secara langsung, yaitu dengan aksi nyata di lapangan.
Hasil racikan sendiri
Menariknya, ratusan paket takjil tersebut tidak disediakan atau dibelikan oleh sekolah.
Paket takjil tersebut terdiri dari aneka kudapan dari rumah—mulai dari kue tradisional yang autentik hingga minuman segar racikan sendiri.
Sejak pagi —sebelum acara bagi-bagi takjil pada sore harinya— atmosfer sekolah telah riuh dengan berbagai persiapan.
Dengan penuh semangat, mereka berkolaborasi mengemas setiap paket secara apik dan higienis, merepresentasikan kekompakan serta kreativitas antar-kelas.
Azzam, siswa kelas X yang turut terjun dalam aksi tersebut, tak mampu menyembunyikan rona bahagianya.
Baginya, menyapa masyarakat di jalanan memberikan cakrawala baru dalam memaknai ibadah puasa.
“kegiatan ini memberikan pengalaman berharga karena dapat belajar berdakwah sekaligus berbagi langsung kepada masyarakat. Selain mempererat kebersamaan antar teman, kegiatan tersebut juga menambah semangat dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan,”ungkap Azzam dengan nada antusias.

Pembentukan karakter
Kegiatan Pondok Ramadan ini dirancang sebagai kawah candradimuka untuk menempa karakter siswa.
Melalui perpaduan kajian Islami yang mendalam dan aksi sosial di lapangan, para pelajar SMAMusix didorong untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin, peduli, dan proaktif dalam menebar kebaikan.
Muhammad, S.Pd., selaku guru pendamping, menegaskan bahwa esensi dari seluruh rangkaian ini adalah keseimbangan.
‘Kami tidak ingin siswa hanya kaya secara wawasan keagamaan, tetapi miskin dalam empati. Berbagi takjil adalah laboratorium nyata bagi mereka untuk mempraktikkan langsung makna kebersamaan dan keikhlasan,’ jelas Muhammad.
Menutup rangkaian kegiatan, pihak sekolah menaruh harapan besar agar benih kepedulian yang tumbuh selama Ramadan ini tidak berhenti saat Idul Fitri tiba.
Semangat berbagi ini diharapkan bertransformasi menjadi habituasi positif yang terus melekat dalam keseharian siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat luas.***






0 Tanggapan
Empty Comments