Suasana di Laboratorium Komputer SMP Muhammadiyah 1 Blitar yang berlokasi di Jalan Gilisilat No. 26, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, tampak berbeda dari biasanya pada Senin pagi (06/04/2026).
Tidak ada keriuhan canda tawa siswa di koridor. Yang terdengar hanyalah deru halus pendingin ruangan dan bunyi klik tetikus yang bersahutan.
Di balik pintu laboratorium yang tertutup rapat, sebuah momentum penting tengah berlangsung. Puluhan siswa sedang berjibaku dengan angka-angka dalam Tes Kompetensi Akademik (TKA).
Namun, ujian kali ini bukan sekadar rutinitas akademik tahunan. Ada pemandangan yang menyentuh sekaligus membanggakan.
Gabungan Siswa di Laboratorium
Bangku-bangku di laboratorium tersebut terisi oleh gabungan siswa reguler SMP Muhammadiyah 1 Blitar dan para siswa dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar.
Ujian TKA yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari, mulai Senin (06/04/2026) hingga Selasa (07/04/2026), menjadi bukti nyata bahwa hak pendidikan tidak mengenal kasta maupun latar belakang hukum.
Kerja sama antara SMP Muhamadiyah 1 Blitar dan LPKA Blitar ini bertujuan untuk memberikan fasilitas ujian yang setara bagi anak-anak binaan agar tetap memiliki masa depan yang cerah pasca-masa pembinaan.
Hari pertama ujian dibuka dengan mata pelajaran yang kerap dianggap sebagai “momok” bagi sebagian besar siswa, yakni Matematika.
Mengingat keterbatasan perangkat dan upaya menjaga protokol ketertiban, pelaksanaan ujian hari Senin dibagi menjadi dua sesi yang sangat ketat.
Sesi pertama dimulai tepat pukul 07.00 hingga 08.45 WIB. Sementara itu, sesi kedua dilanjutkan pada pukul 09.15 hingga 11.00 WIB.
Meski harus berhadapan dengan rumus-rumus algoritma dan logika ruang yang rumit, raut wajah para peserta—terutama anak-anak dari LPKA—menunjukkan konsentrasi penuh.
Bagi mereka, setiap soal yang berhasil dijawab adalah satu langkah lebih dekat menuju impian yang sempat tertunda.
Tanggung Jawab Moral
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Blitar, Siti Muhibbah SAg dalam keterangannya saat ditemui di sela-sela peninjauan ujian, menyatakan bahwa pihak sekolah merasa terhormat dapat memfasilitasi ujian bagi anak-anak binaan LPKA.
Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk merangkul semua anak bangsa tanpa memberikan stigma negatif.
”Kami menyediakan fasilitas terbaik yang kami miliki. Laboratorium komputer kami telah disiapkan jauh-jauh hari, baik dari segi perangkat keras maupun stabilitas jaringan internet” ujar Siti Muhibbah SAg.
“Kami ingin memastikan tidak ada kendala teknis yang mengganggu konsentrasi mereka. Bagi kami, mereka semua adalah anak didik kami saat berada di dalam ruangan ini” tegasnya dengan nada mantap.
Beliau juga menambahkan bahwa integrasi antara siswa reguler dan anak binaan LPKA dalam satu ruang ujian bertujuan untuk menumbuhkan rasa percaya diri bagi para anak binaan.
“Mereka perlu merasakan atmosfer pendidikan yang normal. Dengan duduk bersama siswa lain, diharapkan mereka termotivasi bahwa jalan untuk memperbaiki diri dan mengejar cita-cita masih terbuka lebar. Pendidikan adalah hak dasar yang harus kami kawal bersama” imbuhnya.
Meskipun mengedepankan aspek kemanusiaan, prosedur ujian tetap dijalankan secara profesional dan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Pengawasan dilakukan secara berlapis untuk menjamin integritas dan validitas hasil ujian.





0 Tanggapan
Empty Comments