Pagi itu, Sabtu (7/3/2026), suasana di SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) terasa berbeda. Di beberapa sudut ruangan, anak-anak duduk berkelompok dengan mushaf di tangan. Bibir mereka komat-kamit melantunkan ayat demi ayat Al-Qur’an. Ada yang membaca pelan, ada pula yang mengulang hafalan dengan suara lirih.
Pemandangan tersebut menunjukkan kesungguhan para “penjaga Kalam Ilahi” dari kelas Roudhotul Huffadh yang sedang mempersiapkan diri mengikuti Ikhtibar Tahfidhul Qur’an yang diselenggarakan Tajdied Center Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
Hari itu menjadi momentum penting bagi para siswa penghafal Al-Qur’an. Mereka mengikuti Ikhtibar eksternal sebagai tahap lanjutan setelah sebelumnya melewati Ikhtibar internal pada 20–21 Februari 2026. Pada tahap awal tersebut, sebanyak 99 siswa diuji oleh para guru tahfidz SD Mumtas. Dari proses seleksi itu, 52 siswa dinyatakan lulus dan berhak melanjutkan ke Ikhtibar eksternal dengan materi hafalan Juz 30 dan Juz 29.
Dalam kegiatan tersebut hadir lima mukhtabir (penguji hafalan Al-Qur’an) dari Tim Tajdied Center PWM Jawa Timur. Satu per satu siswa dipanggil untuk duduk di hadapan penguji guna menyetorkan hafalan yang telah mereka jaga dengan penuh kesungguhan.
Direktur Roudhotul Huffadh SD Mumtas, M. Saifunnur, S.Ag., menjelaskan bahwa kegiatan Ikhtibar ini bertujuan untuk menguji sekaligus menjaga kualitas hafalan para siswa kelas tahfidz.
“Ikhtibar ini bukan sekadar ujian, tetapi juga proses membentuk generasi Qur’ani yang kuat hafalannya, baik bacaan maupun adabnya. Kami ingin anak-anak tidak hanya hafal, tetapi juga mencintai Al-Qur’an,” ujarnya.
Ustadz Sai—sapaan akrabnya—juga menjelaskan teknis pelaksanaan Ikhtibar yang dilakukan oleh Tim Tajdied Center PWM Jawa Timur.
“Setiap siswa hanya berkesempatan satu hingga dua kali duduk untuk menyetorkan hafalan satu juz di hadapan mukhtabir. Namun, jika sudah menyelesaikan satu juz bukan berarti otomatis lulus. Batas kesalahan maksimal adalah 15 poin. Jika lebih dari itu, siswa harus mengikuti remedial,” terangnya.
Ia menambahkan, aspek penilaian dalam Ikhtibar meliputi beberapa unsur penting, yakni fashahah (kelancaran bacaan), adab, tajwid, serta irama hijaz.
Menjelang giliran dipanggil, suasana ruang tunggu dipenuhi semangat muroja’ah. Para siswa tampak serius mengulang hafalan, sesekali saling menyimak bacaan teman di sampingnya. Meski terlihat tegang, semangat mereka terpancar jelas. Ada yang memejamkan mata sambil melafalkan ayat, ada pula yang membolak-balik mushaf untuk memastikan hafalannya tetap kuat.
Bagi siswa yang belum dinyatakan lulus pada kesempatan ini, panitia memberikan kesempatan mengikuti Ikhtibar ulang yang dijadwalkan pada Sabtu, 18 April 2026.
Kepala SD Mumtas, M. Khoirul Anam, mengungkapkan rasa syukur atas semangat para siswa dalam menghafal Al-Qur’an.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur melihat semangat anak-anak dalam menjaga hafalan Al-Qur’an. Semoga mereka kelak menjadi generasi yang membawa cahaya Al-Qur’an dalam kehidupan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mendukung putra-putrinya dalam menapaki jalan mulia sebagai penghafal Al-Qur’an.
“Terima kasih kepada para orang tua yang terus mendampingi anak-anak dalam perjalanan tahfidz ini. InsyaAllah, Al-Qur’an yang mereka hafal akan menjadi cahaya, bukan hanya bagi diri mereka, tetapi juga bagi keluarga,” tuturnya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Tim Tajdied Center PWM Jawa Timur yang telah berkenan hadir sebagai penguji dalam Ikhtibar tersebut.
Di tengah kesibukan ujian hari itu, satu hal tampak jelas: semangat para siswa Mumtas dalam menjaga ayat-ayat suci Al-Qur’an terus menyala, menjadi harapan lahirnya generasi penjaga Al-Qur’an di masa depan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments