Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Siti Syamsiyatun: Laki-Laki adalah Kawan Berjuang Perempuan

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Dokumentasi foto bersama peserta dan Prof Dra Siti Syamsiyatun MA PhD. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Prof Dra Siti Syamsiyatun MA PhD mengungkapkan bahwa di Muhammadiyah, laki-laki bukanlah musuh perempuan. Akan tetapi, laki-laki merupakan kawan berjuang, kawan berproses perempuan.

Hal itu ia sampaikan saat memberikan materi Islam Memandang Feminisme pada Pendidikan Khusus Immawati (Diksuswati) Nasional yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Malang Raya pada Minggu (4/5/2025).

Materi Islam Memandang Feminisme sendiri merupakan materi pamungkas selama prosesi Diksuswati. Hal ini dikarenakan materi tersebut merangkum muatan keseluruhan materi yang telah diberikan selama 3 hari.

Ia menyebut bahwa dalam isu Islam dan Feminisme, yang seringkali terjadi pertentangan adalah dengan feminisme radikal. Feminisme radikal menganggap bahwa selama perempuan berhubungan dengan laki-laki, maka akan terus terdiskriminasi.

Maka perempuan perlu melepaskan diri dari laki-laki sehingga perempuan tidak lagi menjadi objek. Tentu pandangan tersebut bertentangan dengan pandangan Islam.

“Memang ada orang yang tidak tau bahwa pemahamannya diskriminatif terhadap perempuan. Karena dia hanya mendapatkan ilmu secara turun menurun. Namun ada juga yang tau tapi sengaja tetap melakukannya agar dapat mempertahankan posisinya,” katanya.

Menurutnya, menghilangkan patriarki tidaklah mudah. Sebab banyak sekali hambatan dan tantangan yang selalu saja ditemui. Ia turut menceritakan pengalamannya tatkala dulu memperjuangkan keadilan gender di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.Bahkan isu feminisme gender saat itu sudah mencapai tahapan arsitektur dengan ketiadaan tangga yang ramah perempuan.

“Saat masih berstatus IAIN, dosen perempuan paling tinggi hanya menjabat sebagai asisten kepala. Bahkan jumlahnya sangat timpang antara dosen laki-laki dan perempuan. Kemudian kami membuat rekomendasi, sehingga ketika perekrutan dosen terdapat affirmative action,” terangnya.

Termasuk tempat bimbingan mahasiswa yang dulunya berupa bilik kamar, sekarang dibuat transparan untuk menghindari potensi pelecehan. Bahkan kampus telah membuat kebijakan bahwa bimbingan harus di kampus dan saat jam kerja.

Muhammadiyah sendiri sudah cukup bijak dalam memutuskan permasalahan gender dan perempuan. Sebagai contoh, Muhammadiyah lebih mendukung monogami dibanding poligami.

Di UMY misalnya, jika ada dosen yang poligami, dipersilahkan mengundurkan diri. Pemahaman mahram menurut Muhammadiyah juga berbeda dengan beberapa kalangan lain.

“Bu Ketua Aisyiyah saja keliling dunia sendirian boleh kok. Karena pemahaman mahram Muhammadiyah berbeda dengan Islam konservatif. Karena fungsi mahram udah digantikan polisi, digantikan panitia, digantikan oleh kader-kader semua yang menjaga kita. Sebab fungsi mahram menjaga keamanan dan menjaga kehormatan,” jelasnya.(*)

Penulis Ahmad Ashim Muttaqin Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu