
PWMU.CO – Aisyiyah Boarding School Malang (ABSM) berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam program pendampingan pembelajaran pentigraf (cerpen tiga paragraf).
Kegiatan ini menerapkan model PIDIM sebagai upaya memperkuat literasi tulis di kalangan siswa, dan berlangsung pada Selasa (18/2/2025) di kelas XII IPA dan dihadiri oleh dewan ustadz-ustadzah SMA ABSM.
Hadir sebagai narasumber, Dr Ribut Wahyuni MSi, yang memberikan pemaparan mengenai pentingnya literasi dalam dunia pendidikan.
Dalam pemaparannya, Ribut menjelaskan bahwa program pendampingan ini merupakan bagian dari inisiatif yang sejalan dengan kebijakan prioritas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Beberapa poin utama dalam kebijakan tersebut meliputi:
- Penguatan pendidikan karakter.
- Wajib belajar 13 tahun dan pemerataan kesempatan pendidikan.
- Peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru.
- Penguatan pendidikan unggul, literasi, numerasi, serta sains dan teknologi.
- Pemenuhan dan perbaikan sarana serta prasarana pendidikan.
- Pembangunan bahasa dan sastra.
Dr Ribut menekankan bahwa peningkatan kompetensi guru dapat dilakukan dengan mendorong mereka untuk menghasilkan karya tulis.
“Tulisan tidak harus berupa buku, tetapi bisa juga dalam bentuk jurnal atau publikasi lainnya. Ketika karya kita dipublikasikan, ada rasa bangga dan kepuasan tersendiri,” ujarnya.
Menurutnya, meskipun kesejahteraan guru tidak selalu diukur secara material, kontribusi dalam dunia literasi dapat menjadi kebanggaan tersendiri dan contoh bagi peserta didik.
Pentingnya Literasi Dasar dalam Era Digital
Ribut juga mengutip laporan World Economic Forum (2016), yang menyebutkan bahwa keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk bertahan di abad ke-21 adalah literasi dasar.
“Kualitas literasi siswa saat ini cukup memprihatinkan. Literasi bukan sekadar mengenal huruf, membaca, dan menulis, tetapi juga bagaimana seseorang mampu memahami, mengolah, serta memanfaatkan informasi secara kritis,” jelasnya.
Beliau juga mengapresiasi kebiasaan membaca 15 menit sebelum pembelajaran di SMA ABSM.
Namun, ia menegaskan bahwa literasi tidak cukup hanya dengan membaca, tetapi perlu ada arahan, seleksi bacaan, serta latihan-latihan literasi yang berkelanjutan.
“Literasi harus memiliki tindak lanjut yang jelas. Dengan begitu, siswa tidak hanya membaca, tetapi juga mampu menghasilkan karya tulis yang berkualitas,” tambahnya. (*)
Penulis Dian Andriani Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan






0 Tanggapan
Empty Comments