Solidaritas adalah salah satu karakter khas bangsa Indonesia. Hidup dalam kultur komunal membuat masyarakat kita terbiasa untuk saling peduli dan menolong.
Namun, sifat ini hanya akan menjadi kekuatan nyata jika dikelola secara baik dan diarahkan untuk tujuan bersama.
Dalam konteks pendidikan, solidaritas dapat menjadi fondasi bagi terciptanya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Inilah yang ditunjukkan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, atau yang akrab disebut SMAM-X. Sebagai sekolah keberbakatan yang berfokus pada sport, art, dan science, SMAM-X tidak berhenti pada transfer pengetahuan praktis, melainkan menjadikan tanggung jawab sosial sebagai bagian penting dari visi pendidikannya.
Sejak awal, setiap rapat bersama guru dan karyawan selalu menegaskan pesan yang sama: sekolah harus menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menyejahterakan.
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, SMAM-X membentuk berbagai komunitas sosial yang menjadi wadah partisipasi siswa. Ada Rumah Ramah Anak (RRA), Gerakan Pelajar Peduli Lansia (GPPL), Gerakan Pelajar Subuh Berjamaah (GPSB), Gerakan Pelajar Peduli Lingkungan (GPPL), hingga Urusan Kesejahteraan Sosial (UKS).
Melalui komunitas inilah beragam aktivitas sosial lahir: peduli korban bencana, mendampingi anak jalanan, menggelar perpustakaan keliling, hingga menyantuni anak yatim dan lansia.
Lebih menarik lagi, kegiatan ini tidak hanya berlangsung ketika musibah melanda. Dalam keseharian pun, komunitas tetap aktif berbagi.
Ada kegiatan bagi-bagi sembako, menemani anak-anak jalanan bermain dan belajar, hingga berbagi nasi kotak untuk masyarakat sekitar sekolah. Langkah kecil ini justru melahirkan harmonisasi sosial yang lebih nyata.
Tentu, kegiatan sosial memerlukan dana dan tenaga yang tidak sedikit. Namun, SMAM-X tidak berjalan sendirian.
Sekolah ini menjalin kerja sama dengan Lazismu, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah, lembaga sosial di tingkat kota hingga nasional, bahkan lembaga internasional.
Kepercayaan yang diberikan berbagai pihak menunjukkan bahwa SMAM-X telah menjadi simpul distribusi sosial yang terpercaya.
Kerja sama ini membuat kegiatan sosial SMAM-X tidak sekadar insidental, tetapi terstruktur. Bahkan, sekolah ini kerap diajak bergandengan dengan komunitas lain, seperti “Brigadir Penolong” dari Kwarda Surabaya, dalam menjalankan program sosial.
Solidaritas yang Kreatif dan Inklusif
Selain fokus pada kesejahteraan sosial, SMAM-X juga menaruh perhatian pada pelestarian lingkungan. Salah satu program uniknya adalah menukar rokok dengan nasi bungkus di ruang-ruang publik.
Dengan pendekatan edukatif khas anak muda, siswa SMAM-X mengajak masyarakat untuk mematikan rokoknya dan sebagai gantinya diberikan makanan.
Kegiatan sederhana ini memiliki pesan kuat: kepedulian lingkungan bisa dilakukan dengan cara kreatif yang menyentuh langsung masyarakat.
Tidak berhenti di sana, SMAM-X juga menunjukkan kepedulian pada kelompok yang sering terpinggirkan.
Melalui program Sekolah Peduli Anak Hebat (SPAH), sekolah ini membuka ruang inklusi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) dan penyandang disabilitas. Tidak semua sekolah berani mengambil langkah tersebut.
Namun SMAM-X membuktikan bahwa solidaritas sejati adalah keberanian untuk menerima semua anak dalam kondisi apa pun, lalu membantu mereka berkembang sesuai potensinya.
Apa yang dilakukan SMAM-X sebenarnya memberi pesan penting bagi dunia pendidikan. Bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk menyalurkan ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang untuk menanamkan karakter sosial.
Anak-anak yang terbiasa terlibat dalam kegiatan sosial akan tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap masalah masyarakat, tidak acuh terhadap penderitaan orang lain, dan mampu bekerja sama untuk mencarikan solusi.
Sejak berdirinya pada 2014, SMAM-X telah menapaki jalan panjang dalam membangun tradisi solidaritas.
Awalnya, kegiatan sosial hanya sebatas internal, dari siswa untuk siswa, dari guru untuk guru. Namun kini, dalam usia yang relatif muda, sekolah ini dipercaya banyak lembaga, bahkan hingga level internasional, untuk menyalurkan kepedulian.
Di tengah dunia pendidikan yang kerap sibuk mengejar ranking, prestasi akademik, dan sertifikat penghargaan, SMAM-X memberi teladan bahwa pendidikan sejati harus menyentuh ranah sosial. Solidaritas bukan jargon, melainkan napas yang menghidupi setiap langkah sekolah keberbakatan ini.
Apa yang dilakukan SMAM-X adalah pengingat bagi kita semua: bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang pintar, tetapi juga oleh mereka yang berjiwa peduli. Pendidikan harus menjadi jalan untuk menumbuhkan keduanya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments