Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatera telah menyita perhatian dan memantik simpati dari berbagai kalangan. Dampak yang ditimbulkan oleh bencana ini sangat fatal, menyebabkan kerusakan parah dan jatuhnya 753 korban jiwa berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Simpati ini juga ditunjukkan oleh siswa SMA Muhammadiyah 1 (SMAMSA) Surabaya. Di tengah suasana khidmat pelaksanaan SAS (Sumatif Akhir Semester) Ganjil, Tim Jurnalistik bekerja sama dengan PR (Pimpinan Ranting) IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) SMAMSA menggelar aksi penggalangan donasi bagi korban bencana tersebut pada Rabu (3/12/2025) sebagai bentuk solidaritas.
Arini Lutfiana Putri, Ketua Tim Jurnalistik SMAMSA, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap penderitaan yang dialami oleh masyarakat di Sumatra.
“Kegiatan penggalangan donasi ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap penderitaan yang dialami oleh masyarakat di Sumatra. Kami membaca berbagai berita bahwa mereka sangat membutuhkan bantuan langsung,” ungkap Arini.
Senada dengan Arini, Kalilah Rahfi Thufaila, Ketua PR IPM SMAMSA, menyebutkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan empati dan rasa tanggung jawab sosial sebagai pelajar.
“Bagi kami, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan empati dan rasa tanggung jawab sosial sebagai pelajar. Semoga kontribusi kecil dari SMAMSA ini dapat meringankan beban dan penderitaan saudara-saudara kita di Sumatra,” ujarnya.
Kepala SMAMSA, Moch. Yulianto, S.Pd., menyambut baik inisiatif yang dilakukan oleh para siswa.
“Kami selalu menyambut baik setiap kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak, termasuk aksi ini. Karena ini menjadi bukti adanya kepedulian sosial dari anak-anak terhadap bencana yang sedang terjadi,” tutur Yulianto.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu hasil dari pembiasaan pembelajaran yang dilakukan di sekolah.
“Kegiatan ini juga menjadi salah satu bukti baik dari hasil pembelajaran para siswa selama di sekolah. Mereka dikenalkan dengan metode pembelajaran yang kritis dan peduli terhadap situasi lingkungan, seperti yang ditekankan oleh Kiai Dahlan,” tutupnya.






0 Tanggapan
Empty Comments