Hari Santri Nasional tahun ini tidak hanya dirayakan dengan lantunan doa dan ilmu, tetapi juga dengan air mata yang mengalir pelan dari hati yang saling terhubung.
Di MI Muhammadiyah 25 Surabaya, peringatan ini berubah menjadi rangkaian kepedulian yang tulus, penuh harapan, dan peduli. Hal tersebut ketika kabar duka datang dari Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo.
Seorang santri muda, Muhammad Azka Ibadurahman, yang tinggal di Randu Tawang No. 4 Surabaya, kembali kepada Sang Pemilik Jiwa.
Ia ditemukan setelah 6 hari upaya evakuasi, dalam peristiwa ambruknya bangunan pesantren yang menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Saudara Seiman, Saudara dalam Akidah
Di tengah kepedihan itu, keluarga besar MI Muhammadiyah 25 Surabaya berdiri bukan sebagai pihak luar. Melainkan sebagai saudara seiman, saudara dalam akidah, saudara dalam tangis dan doa.
Kepala madrasah, Ustadz Ferry Rismawan, menyampaikan ungkapan belasungkawa yang lembut namun tegas penuh makna.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Semoga keluarga Ananda Azka dianugerahi kesabaran yang luas sebagaimana luasnya kasih sayang Allah. Kepedulian yang kita lakukan adalah bukti bahwa santri tak pernah sendiri. Santri adalah keluarga, dan keluarga adalah nafas kebersamaan” ucap Ferry.
Tak berhenti pada kata dan rasa, IPMJ (Ikatan Pelajar Muhammadiyah Junior) menggerakkan langkah-langkah kepedulian. Penggalangan dana dilakukan dengan hati yang lapang, bukan sekadar memberi, tetapi menyambung jiwa dengan jiwa.
Kunjungan ke Rumah Duka
Kemudian, pada Jumat (24/10/2025), Ustadzah Marlik kaur ismuba, Astadz Alip dan perwakilan IPMJ Medina dan Kayla berkunjung ke rumah duka, membawa pelukan doa dan kehangatan kehadiran.
Doa terpimpin oleh Ustadz Aksar Wiyono, yang suaranya lirih namun tegar, menembus langit dan mengalir lembut ke dalam rongga dada yang didera kehilangan.
“Ya Allah, tempatkanlah Ananda Azka di taman syurga-Mu. Jadikan kepergiannya cahaya bagi keluarganya. Kuatkan hati yang ditinggalkan, teduhkan jiwa yang merindukannya” demikian doa yang terlantun.
Alhasil, Hari Santri tahun ini mengajarkan satu hal penting. Bahwa menjadi santri bukan hanya belajar kitab dan ilmu, tetapi belajar mencintai, mengasihi, dan menguatkan.
Terima kasih dan barakallah MI Muhammadiyah 25 Surabaya ucapkan kepada semua ustadz ustadzah. Semua siswa dan wali murid yang berpartisipasi memberikan dukungan kepada santri dari pesantren al khoziny Sidoarjo.
MI Muhammadiyah 25 Surabaya, Madrasah Hebat Beradab.





0 Tanggapan
Empty Comments