Anggota Departemen Dakwah Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Paciran, Yuli Asih S.PdI membahas spirit Surah Al-Ma’un dalam kegiatan Nasyiah Berbagi Ifthar (NBI) yang digelar oleh Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) Sendangagung di Mushala Al-Abrar Lebak Barat, Jalan Simpang Empat Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Selasa (10/3/2026).
Kegiatan yang dihadiri sekitar 50 jamaah tersebut berlangsung khidmat dan bahkan meluber hingga halaman depan mushala. Dalam kesempatan itu, Yuli Asih yang juga ustadzah di Ponpes Al-Ishlah Sendangagung menekankan pentingnya aksi sosial nyata yang terinspirasi dari nilai-nilai Surah Al-Ma’un.
Ramadan Momentum Menguatkan Kepedulian Sosial
Mengawali ceramahnya, Yuli Asih mengingatkan bahwa bulan Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momen memperbaiki hati serta meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama.
“Di bulan Ramadan ini kita tidak hanya diperintahkan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga untuk memperbaiki hati dan meningkatkan kepedulian sosial. Salah satu surat yang sangat kuat mengingatkan kita tentang kepedulian sosial adalah Surah Al-Ma’un,” ujarnya.
Istri Ikhwanus Syarif itu kemudian menukil ayat Al-Qur’an dari Surah Al-Ma’un yang berbunyi:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
Menurutnya, ayat tersebut memberikan pelajaran penting bahwa ukuran keimanan seseorang tidak hanya dinilai dari ibadah ritual semata, tetapi juga dari kepedulian terhadap sesama, terutama anak yatim dan kaum miskin.
Empat Pesan Spirit Surah Al-Ma’un
Dalam ceramahnya, warga RT 06 RW 02 Desa Sendangagung ini menguraikan empat pesan utama dari spirit Surah Al-Ma’un yang relevan dengan kehidupan umat Islam, khususnya di bulan Ramadan.
Pertama, Ramadan melatih kepekaan sosial. Menurutnya, saat berpuasa umat Islam merasakan lapar dan dahaga sehingga dapat memahami kondisi orang-orang yang hidup dalam kekurangan.
“Ketika kita berpuasa, kita merasakan lapar dan dahaga. Ini adalah cara Allah mendidik hati kita agar merasakan penderitaan orang-orang yang kekurangan. Dengan merasakan lapar, kita belajar berempati kepada kaum dhuafa,” jelasnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak aksi berbagi seperti memberikan makanan berbuka, bersedekah, dan menyantuni anak yatim.
Kedua, bahaya ibadah tanpa kepedulian. Dalam Surah Al-Ma’un juga disebutkan bahwa celakalah orang yang salat tetapi lalai dari makna salatnya dan berbuat riya.
“Ayat ini mengingatkan bahwa ibadah tidak boleh hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Orang yang rajin salat tetapi tidak peduli pada penderitaan orang lain termasuk orang yang diperingatkan dalam surat ini,” tandasnya.
Ia menegaskan bahwa ibadah kepada Allah harus berjalan seimbang dengan kepedulian kepada manusia.
Ketiga, menyantuni anak yatim. Di bulan Ramadan, salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah menyantuni anak yatim. Yuli Asih mengingatkan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa orang yang memelihara anak yatim akan dekat dengan beliau di surga seperti dua jari yang berdampingan.
“Ini menunjukkan betapa mulianya orang yang peduli kepada anak yatim. Ramadan menjadi momentum terbaik untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka,” ujarnya.
Keempat, menghidupkan spirit Al-Ma’un. Menurutnya, spirit dari Surah Al-Ma’un adalah menjadikan agama hadir dalam kepedulian sosial, bukan sekadar ibadah ritual semata.
“Maka di bulan Ramadan ini mari kita hidupkan semangat Al-Ma’un dengan membantu anak yatim dan dhuafa, memberi makan orang yang membutuhkan, bersedekah dengan ikhlas, serta tidak bersikap cuek terhadap kesulitan orang lain,” pesannya.
Ia berharap Ramadan tahun ini dapat menjadikan umat Islam sebagai hamba yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga memiliki hati yang lembut dan peduli terhadap sesama sebagaimana ajaran Surah Al-Ma’un.






0 Tanggapan
Empty Comments