Udara dingin Prigen menyelimuti hari-hari penuh makna bagi keluarga besar MTs Muhammadiyah 15 (Mulimas) Al Mizan Lamongan. Selama tiga hari, Rabu–Jumat (17–19/12/2025), para santri mengikuti Spiritual Journey di TSOT Prigen, sebuah perjalanan batin yang bukan sekadar kegiatan luar ruang, tetapi juga ruang belajar kehidupan.
Menjelang penutupan kegiatan, suasana haru dan hangat terasa saat Anggun Imanto, selaku pemandu acara, mempersilakan perwakilan santri untuk menyampaikan kesan dan pesan. Dari wajah-wajah muda itulah, cerita-cerita sederhana namun bermakna mengalir.
Perwakilan santriwan, Zul Fahmi, menyampaikan rasa senang dan bangganya mengikuti kegiatan ini. Baginya, Spiritual Journey bukan hanya tentang agenda, tetapi tentang pengalaman.
“Terasa senang dan bangga, karena dapat banyak ilmu dan bisa berkumpul dengan teman seangkatan. Biasanya di Lamongan kita kepanasan atau kehujanan, di sini dingin dan sejuk, tapi alhamdulillah tidak ada yang sakit,” ungkapnya polos namun tulus.
Ia pun berharap MTs Mulimas terus berkembang, meraih lebih banyak prestasi, dan TSOT semakin maju sebagai tempat belajar yang inspiratif.
Suara ceria juga datang dari perwakilan santriwati, Tsamira Qatrunnada Prasetyowati. Baginya, kegiatan ini penuh memori yang akan sulit dilupakan.
“Sangat seru, banyak kenangan. Bisa bermain dan belajar bersama teman-teman. Semoga TSOT bisa berkembang dan lebih besar lagi,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi para pembimbing TSOT yang ramah dan penuh perhatian. Namun satu nama paling berkesan baginya, Kak Dicky, instruktur yang dikenal paling disiplin.

Kak Dicky, perwakilan tim TSOT, pun memberikan pesan penutup yang membekas. Dengan gaya tegas namun penuh kepedulian, ia menyampaikan bahwa disiplin adalah pelajaran utama yang ingin ditanamkan.
“Kalau ada yang merasa saya paling sering ngomel, itu karena saya ingin kalian pulang tidak hanya membawa kenangan, tapi juga perubahan. Kedisiplinan dan kerapian adalah hal kecil, tapi penting,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri, tidak perlu sempurna, cukup konsisten.
“Tidak perlu berharap berubah 100 persen. Tapi setiap hari harus ada perubahan, sekecil apa pun,” pesannya, seraya menyampaikan permohonan maaf jika selama menjadi instruktur ada kekhilafan.
Akhirnya, pada Jumat, 19 Desember 2025, kegiatan Spiritual Journey MTs Mulimas Al Mizan resmi ditutup. Di balik dinginnya Prigen, tersisa kehangatan kebersamaan, pelajaran tentang disiplin, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
TSOT Prigen tak sekadar menjadi tempat singgah, tetapi saksi tumbuhnya semangat, karakter, dan harapan para santri, sebuah perjalanan spiritual yang akan terus hidup dalam ingatan mereka. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments