Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Jenderal Soedirman (Jendsoed) Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo) menggelar Stadium General bertema Revitalisasi Ideologi dan Reaktualisasi Peran Mahasiswa sebagai Moral Force dalam Dinamika Perubahan Sosial.
Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian Darul Arqam Dasar (DAD) yang diikuti hampir 90 kader baru yang terdiri atas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) meliputi Program Studi Ilmu Pemerintahan dan Komunikasi, serta Fakultas Hukum (FH) Program Studi Hukum.
Bertempat di Ruang Seminar Dome Lantai 1 Universitas Muhammadiyah Ponorogo, kegiatan ini berlangsung pada Jumat (14/11/2025).
Acara ini menghadirkan Kakanda Habib Asha, S.IP., Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Jawa Timur sebagai pemantik utama.
Sementara sesi diskusi dipandu oleh seorang IMMawati dari Komisariat Jenderal Soedirman, Ega Nanda Putri Ayuana, yang dipercaya menjadi moderator.
Dengan format talkshow inspiratif, stadium general ini disusun secara dinamis agar peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam dialog kritis dan reflektif terkait isu-isu kaderisasi, gerakan sosial, dan kemahasiswaan.
Pemahaman Ideologi sebagai Fondasi Gerakan
Dalam penyampaian materinya, Habib Asha menegaskan bahwa revitalisasi ideologi bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan IMM tetap berada pada rel perjuangan yang benar.
Menurutnya, mahasiswa sebagai bagian dari moral force harus memiliki orientasi nilai yang jelas dan kokoh, terutama dalam menghadapi perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Ia menjelaskan bahwa ideologi Muhammadiyah dan IMM harus terus dihidupkan melalui internalisasi nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan.
“Mahasiswa adalah agen moral, bukan sekadar intelektual yang hanya pandai menganalisis. IMM harus tampil sebagai kekuatan penyeimbang yang membawa etika, keberanian, dan keteladanan di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Habib Asha juga menyoroti tantangan globalisasi, digitalisasi, dan derasnya arus informasi yang sering kali membuat mahasiswa kehilangan arah dalam menentukan sikap.
Ia mengingatkan bahwa kader IMM tidak boleh terjebak dalam pola aktivisme dangkal, melainkan harus memiliki komitmen ideologis yang kuat untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam berkemajuan.






0 Tanggapan
Empty Comments