
PWMU.CO – Konferensi Pimpinan Daerah (Konpida) IPM Gresik XXIV bukan sekadar forum musyawarah struktural pelajar Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik, melainkan ruang edukatif yang menggugah kesadaran kritis kader muda.
Hal itu tercermin dalam sesi Stadium General yang digelar di SMK Muhammadiyah 1 Bungah, Gresik, Sabtu pagi (28/6/2025), dengan mengangkat tema “Arsitek Masa Depan: Optimalisasi Potensi Diri Pelajar dalam Ekosistem Bebas Narkoba untuk Pembangunan Berkelanjutan.”
Dua narasumber dihadirkan dalam sesi ini, yaitu Basuki Risdiyanto SPd MM, Ketua Tim P2M/Penyuluh Narkoba Ahli Muda BNN Gresik, dan Muhammad Fahmi Azis MH, Wakil Kepala SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Acara dipandu oleh M Jaabir Danadyaksa Nuransyah, Ketua PR IPM SMAMIO.
Dalam pemaparannya, Basuki menjelaskan bahwa ekosistem narkoba saat ini jauh lebih kompleks dan tidak lagi terbatas pada konsumsi zat terlarang dalam bentuk fisik.
“Bahaya narkoba menyusup melalui jalur yang tidak kasat mata. Tanpa disadari, peredarannya sudah menjalar hingga ke wilayah-wilayah sekolah, khususnya di daerah selatan Gresik,” tuturnya.
Ia mengimbau agar pelajar tidak menjauhi teman yang menjadi pengguna, tetapi merangkul dan mengajak mereka keluar dari lingkaran bahaya dengan pendekatan empatik.
“Pengguna adalah korban. Mereka perlu dilindungi dan direhabilitasi, bukan dikucilkan,” tegasnya.
Ia juga memaparkan ciri-ciri remaja yang terdampak narkoba dan langkah etis yang bisa dilakukan pelajar saat menemukan kasus tersebut.
“Laporkan dengan bijak. Bantu mereka melalui jalur yang tepat. Kita adalah bagian dari solusi,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Fahmi Azis menekankan pentingnya membangun ketahanan diri pelajar melalui penguatan potensi dan karakter. Menurutnya, ancaman terhadap pelajar tak selalu dalam bentuk narkoba, tetapi juga hadir dalam bentuk lain seperti pornografi digital.
“Kecanduan film porno sama berbahayanya. Ia merusak fokus, nilai, bahkan semangat belajar,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelajar harus mampu membangun tembok perlindungan dari dalam melalui penguatan identitas diri, kesadaran literasi, dan kepemimpinan yang tumbuh dari pengalaman berorganisasi.
“IPM adalah tempat saya belajar jadi berarti. Ia adalah pijakan awal yang menuntunku memahami makna berjuang dan bertumbuh,” ungkap Fahmi yang juga merupakan alumni IPM.

Sesi Stadium General berlangsung dinamis. Diskusi interaktif mengalir hangat dengan sejumlah pertanyaan dari peserta yang menyoroti realitas tekanan sosial, upaya pencegahan narkoba berbasis komunitas, serta strategi IPM dalam menciptakan lingkungan yang tangguh terhadap pengaruh negatif.
Ahmad Musyafa’ Arafi, salah satu peserta, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari forum ini.
“Saya jadi lebih paham tentang bahaya narkotika dan pentingnya membangun kesadaran literasi sejak dini. Ilmunya akan saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa IPM Gresik tidak hanya fokus pada regenerasi kepemimpinan, tetapi juga penguatan kapasitas pelajar secara holistik. Sinergi antara dunia pendidikan, organisasi pelajar, dan lembaga negara seperti BNN, berhasil menciptakan ruang diskusi yang mencerahkan dan membebaskan.
Dengan menghadirkan Stadium General yang substantif, Konpida IPM Gresik 2025 menunjukkan wajah gerakan pelajar yang visioner: sadar akan bahaya narkoba, peka terhadap potensi diri, dan mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya.
Stadium General ini pun diharapkan menjadi batu loncatan bagi kader IPM untuk bergerak lebih jauh. Tidak hanya dalam ranah musyawarah organisasi, tetapi juga dalam medan perjuangan sosial yang nyata. Sebab pelajar hari ini adalah arsitek masa depan bangsa: bebas narkoba, berdaya secara spiritual dan intelektual, serta tumbuh dalam ekosistem yang sehat, kuat, dan berkelanjutan. (*)
Penulis Lisha Mar’atul M Editor M Tanwirul Huda






0 Tanggapan
Empty Comments