Upaya penguatan pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di perguruan tinggi terus menuntut inovasi agar tidak berhenti pada tataran konseptual semata.
Menyadari tantangan tersebut, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro menyelenggarakan Rihlah Ilmiah ke Yogyakarta pada Sabtu (17/1/2026) sebagai bagian dari implementasi pembelajaran AIK berbasis pengalaman langsung dan kontekstual.
Rihlah Ilmiah ini diikuti puluhan mahasiswa lintas program studi dengan pendampingan pimpinan, dosen, serta karyawan STIT Muhammadiyah Bojonegoro.
Sejumlah lokasi strategis menjadi tujuan kegiatan, di antaranya Museum Muhammadiyah, Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Pantai Indrayanti, dan kawasan Malioboro.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang tidak hanya sebagai perjalanan edukatif, tetapi juga sebagai medium internalisasi nilai-nilai ideologis dan sosial.
Ketua STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Ibnu Habibi, menegaskan bahwa Rihlah Ilmiah ini merupakan ikhtiar akademik untuk menjawab problem internalisasi nilai AIK di kalangan mahasiswa.
Menurutnya, pembelajaran AIK tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah di ruang kelas, tetapi perlu dikuatkan dengan pendekatan kontekstual yang menyentuh pengalaman langsung mahasiswa.
“Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan hidup dalam sejarah, gerakan, dan praktik organisasi Muhammadiyah,” ungkap Ibnu Habibi.
Dia menambahkan, melalui rihlah ilmiah mahasiswa diajak memahami AIK secara utuh—tidak sekadar sebagai teks atau teori, tetapi sebagai nilai yang hadir dalam realitas kehidupan.
Dengan pendekatan tersebut, AIK diharapkan mampu berfungsi sebagai fondasi ideologis dan etis bagi mahasiswa, baik dalam kehidupan akademik maupun sosial kemasyarakatan.
“Harapannya, AIK tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati dan diwujudkan dalam sikap serta tindakan nyata mahasiswa,” terang Ibnu.
Senada dengan itu, dosen pengampu mata kuliah AIK, Nur Mashani Mustafidah, menilai Rihlah Ilmiah memberikan ruang refleksi yang lebih luas bagi mahasiswa.
Melalui kunjungan ke Museum Muhammadiyah dan Kantor PP Muhammadiyah, mahasiswa diajak membaca ulang sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan sekaligus memahami dinamika persyarikatan dalam menjawab tantangan zaman.
“Mahasiswa tidak hanya memahami AIK sebagai mata kuliah, tetapi sebagai nilai yang diimplementasikan dalam gerakan pendidikan, sosial, dan kemasyarakatan,” jelas dia.
Dia lalu mengatakan, pengalaman melihat langsung jejak sejarah Muhammadiyah dan sistem organisasi di tingkat pusat memberikan gambaran konkret tentang peran strategis Muhammadiyah dalam membangun peradaban bangsa.
Hal ini penting untuk menumbuhkan kesadaran ideologis mahasiswa sebagai bagian dari kader persyarikatan.
Salah satu mahasiswa peserta Rihlah Ilmiah mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan perspektif baru tentang Muhammadiyah. Dia mengaku semakin memahami posisi dan peran strategis Muhammadiyah dalam pembangunan bangsa, khususnya di bidang pendidikan dan sosial.
“Kami jadi lebih sadar bahwa menjadi mahasiswa Muhammadiyah berarti memikul tanggung jawab ideologis dan sosial, bukan sekadar status sebagai mahasiswa,” ujarnya.
Menurutnya, kunjungan langsung ke pusat-pusat sejarah dan gerakan Muhammadiyah membuat nilai AIK terasa lebih hidup dan relevan dengan realitas kehidupan saat ini.
Selain agenda akademik, kunjungan ke Pantai Indrayanti dimanfaatkan sebagai sarana refleksi dan penguatan kebersamaan antarmahasiswa.
Panitia menyebutkan bahwa kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran spiritual mahasiswa melalui perenungan atas kebesaran ciptaan Allah, sekaligus mempererat solidaritas dan kekompakan.
Adapun kunjungan ke kawasan Malioboro diarahkan untuk melatih kepekaan sosial mahasiswa di ruang publik. Mahasiswa diajak mengamati dinamika sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat perkotaan, sekaligus mengenal kearifan lokal Yogyakarta sebagai bagian dari wawasan kebangsaan.
Melalui Rihlah Ilmiah AIK ini, STIT Muhammadiyah Bojonegoro berharap mahasiswa mampu menginternalisasikan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan secara lebih mendalam dan berkelanjutan.
Kampus menargetkan lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas ideologis, kepekaan sosial, serta kesiapan menjadi kader Muhammadiyah yang berwawasan kebangsaan dan berkemajuan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments