Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Stop Normalisasi Panggilan Gelar dan Profesi di Grup Sosial

Iklan Landscape Smamda
Stop Normalisasi Panggilan Gelar dan Profesi di Grup Sosial
Oleh : Nurudin Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

“Maaf, Prof belum muncul ya?”
“Pak Dokter lagi sibuk mungkin.”
“Bu Dosen biasanya silent reader.”

Percakapan seperti ini terasa biasa di grup WhatsApp keluarga, alumni, kantor, atau komunitas. Namun jika direnungkan, ada sesuatu yang janggal. Mengapa gelar dan profesi dibawa ke ruang obrolan yang seharusnya santai? Mengapa muncul jarak yang sebelumnya tidak ada?

Fenomena ini semakin sering terjadi. Gelar bukan lagi sekadar identitas formal, melainkan seolah menjadi kewajiban panggilan di mana pun berada. Jika tidak disebut, sebagian orang merasa kurang dihargai—bahkan tersinggung. Padahal, ini hanya soal cara menyapa.

Dalam konteks formal, penggunaan gelar memang penting. Di kampus, panggilan “Prof”, “Doktor”, atau “Bu Dosen” adalah bentuk penghormatan akademik. Di rumah sakit, “Dokter” adalah identitas profesional. Di sekolah, “Pak Guru” menunjukkan peran yang jelas.

Masalah muncul ketika konteks ini dibawa ke ruang santai, seperti grup WhatsApp. Awalnya, grup dibuat untuk mempererat hubungan—bercanda, berbagi cerita, atau sekadar menyapa. Namun ketika gelar ikut masuk, suasana berubah.

Sebagian anggota menjadi sungkan berbicara. Takut salah ucap, takut dianggap tidak sopan. Akibatnya, partisipasi menurun. Dalam banyak kasus, hanya beberapa orang yang aktif, sementara lainnya memilih diam atau sekadar menjadi silent reader.

Fenomena ini perlahan menciptakan jarak. Orang yang tidak memiliki gelar merasa “kurang”, sementara yang memiliki gelar merasa “harus dijaga”. Tanpa disadari, ruang santai berubah menjadi ruang semi-formal.

Contoh sederhana terlihat di grup alumni. Ketika satu atau dua orang selalu dipanggil dengan gelarnya, anggota lain akan ikut menyesuaikan. Lama-kelamaan, percakapan terasa seperti forum resmi, bukan ruang pertemanan.

Padahal, banyak orang justru lebih nyaman di grup yang santai dan egaliter. Grup yang terlalu formal cenderung sepi, atau hanya diisi oleh segelintir orang yang aktif.

Masalah utamanya bukan pada gelar, melainkan cara kita memaknainya. Gelar akademik dan profesi adalah pencapaian yang layak dihargai. Namun, itu tidak berarti harus selalu dibawa ke semua ruang sosial.

Di luar konteks kerja, kita adalah individu yang setara. Sama-sama teman, sama-sama manusia yang ingin diterima tanpa label.

Bayangkan seorang profesor masuk ke grup teman SMA. Jika ia tetap dipanggil dengan nama panggilan lama, suasana akan hangat dan cair. Namun jika semua orang memanggilnya “Prof”, percakapan cenderung menjadi kaku.

Di masyarakat, kita juga mengenal panggilan seperti “Pak Lurah”, “Pak Camat”, “Bu Dokter”, atau “Pak Haji”. Awalnya sebagai bentuk penghormatan, tetapi lama-kelamaan menjadi standar sosial.

Akibatnya, mereka yang tidak memiliki gelar tertentu merasa lebih rendah. Tanpa disadari, kita menciptakan hierarki di ruang yang seharusnya egaliter.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Padahal, generasi muda saat ini cenderung mengedepankan komunikasi yang setara—lebih santai, personal, dan tidak kaku dengan status. Hal ini tidak mengurangi rasa hormat, justru membuat interaksi lebih hidup.

Normalisasi panggilan gelar bukan sekadar soal bahasa, tetapi juga relasi sosial. Ketika satu orang dipanggil dengan gelar, yang lain akan mengikuti. Ada tekanan sosial yang tidak terlihat.

Dampaknya:

  • Percakapan menjadi tidak natural
  • Keakraban menurun
  • Partisipasi berkurang
  • Muncul rasa tidak setara

Dalam jangka panjang, grup bisa terasa eksklusif—seolah hanya milik “orang-orang tertentu”, sementara yang lain menjadi penonton.

Solusinya sederhana: pahami konteks.

Gunakan gelar di ruang formal karena memang diperlukan. Namun di ruang santai, gunakan nama atau panggilan personal.

Menghormati seseorang tidak harus melalui gelar. Rasa hormat bisa ditunjukkan melalui cara berbicara, cara mendengar, dan cara menghargai pendapat.

Yang terpenting adalah menciptakan ruang yang nyaman dan inklusif bagi semua.

Normalisasi panggilan gelar dan profesi di grup sosial mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya nyata. Ia menciptakan jarak, mengurangi keakraban, dan membangun hierarki yang tidak perlu.

Ruang santai seharusnya menjadi tempat semua orang setara, bukan panggung status.

Sudah saatnya kita berhenti membawa atribut formal ke ruang informal. Cukup menjadi manusia biasa yang saling menyapa dengan hangat.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita dekat bukan gelar di depan nama, tetapi rasa nyaman di antara sesama.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡