Gedung Biru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) kembali dipenuhi semangat dan keceriaan saat Student Laboratory Conference (SLC) digelar untuk tahun kedua. Selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu (8-10/12/2025), seluruh ruang kelas berubah menjadi arena unjuk karya yang menandai berakhirnya pembelajaran semester ganjil.
SLC menghadirkan konsep evaluasi belajar yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Setiap siswa menampilkan satu produk hasil pembelajaran yang mereka pilih sendiri, mulai dari eksperimen Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), kerajinan, proyek literasi, hingga karya seni.
Orang tua hadir sebagai audiens utama, memberi dukungan sekaligus menyaksikan perkembangan anak-anak mereka secara langsung.
Kehadiran para orang tua membuat setiap presentasi terasa lebih hidup. Siswa tampil percaya diri, menunjukkan kemampuan public speaking, penguasaan materi, serta kreativitas yang telah dibangun sepanjang semester.
SLC menjadi bukti nyata transformasi evaluasi di sekolah melalui tagline kreatif, inovatif, dan kompetitif. Model evaluasi sumatif berbasis paper test ditinggalkan dan digantikan dengan panggung apresiasi yang menonjolkan proses belajar.
Salah satu penampilan yang menyita perhatian datang dari Muhammad Fatih Abrisam Rizky, atau Brian, siswa kelas 6 Nusa Penida. Ia membawakan News Reading untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dengan tema Floods in Sumatra and Aceh.
Dengan intonasi yang jelas, pengucapan yang fasih, serta gestur layaknya presenter profesional, Brian berhasil memukau hadirin dan meraih apresiasi hangat dari para guru dan orang tua.
Selama pelaksanaan, Kepala SDMM, Athiq Amiliyah, S.Pd., aktif mengunjungi setiap kelas. Ia menyaksikan langsung kesiapan para ustaz, ustadzah, serta antusiasme para siswa, sekaligus memberikan apresiasi atas kerja keras mereka dalam merancang pembelajaran bermakna dan menampilkan karya terbaik dalam SLC.
“Alhamdulillah, saya bangga melihat kreativitas dan kesungguhan semuanya. Ini bukti bahwa proses belajar di SDMM benar-benar hidup,” ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menegaskan komitmen SDMM terhadap pendidikan yang menghargai proses. Bagi sekolah, keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari keberanian siswa untuk tampil, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, serta ketekunan mereka dalam menyelesaikan proyek.
Dengan antusiasme yang terus meningkat, SLC telah menjelma menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu. Kegiatan ini mempertemukan sekolah, siswa, dan orang tua dalam satu semangat yang sama: merayakan proses belajar sebagai perjalanan berharga yang layak diapresiasi dan dirayakan bersama. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments