
PWMU.CO – SD Muhammadiyah 1 Wringinanom Gresik mendapat kejutan atas kedatangan mendadak dua aktivis lingkungan dari Belanda, Rabu (8/8/18).
Keduanya adalah pasangan suami istri Huub Kistermann dan Inge Veen yang datang didampingi Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi MSi.
Meski bagi Huub dan Inge kunjungan tersebut adalah kali pertama, namun bagi sekolah Muhammadiyah yang terletak di wilayah paling selatan Gresik ini, kunjungan semacam ini bukanlah yang pertama. Beberapa aktivis lingkungan telah berkunjung sekolah berjulukan SD Muwri ini.
SD Muwri memang dikenal sebagai sekolah pelopor kegiatan berbasis lingkungan di wilayah Kecamatan Wringinanom, Gresik. Branding di bidang lingkungan ini semakin menguat setelah beberapa waktu lalu SD Muwri meneken MoU dengan Yayasan Ecoton.
Itu pula yang membuat sekolah yang berada di rural area alias pedesaan itu punya daya tarik untuk dikunjungi bagi para pegiat lingkungan, baik dari skala lokal maupun internasional.
Kunjungan Huub dan Inge tidak disia-siakan. Kepala SD Muwri Kholiq Idris SPd langsung mengajak mereka masuk ke kelas untuk berinteraksi dengan siswa. “Biar anak-anak terbiasa dan bisa luwes berkomunikasi, apalagi di era yang serba komunikatif ini,” ujarnya.
Saat memasuki kelas V Zaid bin Tsabit, Huub dan Inge mengutarakan kegembiraannya bisa berkunjung ke sekolah swasta ini.

Huub dan Inge pun mengajak siswa SD Muwri menjaga lingkungan khususnya menjaga kualitas air dengan tidak membuang sampah ke sungai.
Banyak kesan yang diperoleh keduanya. Huub misalnya mengutarakan kesenangannya dalam kunjungan ini karena banyak hal menarik yang dijumpai. “Sangat ramah dan indah,” ucapnya, lalu bercerita tentang negara Belanda.
Di sela-sela cerita itu, banyak siswa kelas V Zaid yang tertarik dan bertanya tentang seluk-beluk Negari Kincir Angin tersebut. “Ada sebuah suku bernama Friezeelan, dan ada banyak masjid juga di sana,” jelas Huub menanggapi pertanyaan dari Ahmad Saifuddin Rafiif dan Fina Syifaussita.
Kunjungan Huub dan Inge ini terbilang singkat karena mengingat ada agenda lain yang menunggu. Setelah sekitar 30 menit berinteraksi dengan para siswa, Huub dan Inge pamit undur diri.
Kholiq Idris pun menyerahkan kenang-kenangan berupa buku karya siswa-siswi SD Muhammadiyah 1 Wringinanom. “Wow, hebat!” ujar Huub dalam bahasa Indonesia. (Miftakhul Muzdalifah)





0 Tanggapan
Empty Comments