Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Suara Qiro’ah yang Tak Pernah Padam: Mengenang Keteladanan Hj. Nur Chosyi’ah, Penggerak Dakwah dari Sepanjang

Iklan Landscape Smamda
Suara Qiro’ah yang Tak Pernah Padam: Mengenang Keteladanan Hj. Nur Chosyi’ah, Penggerak Dakwah dari Sepanjang
Almarhumah Hj. Nur Chosyi'ah 1957-2026 (Heni Dwi Utami/ PWMU.CO)
pwmu.co -

Suasana pagi buta di sebuah rumah sederhana di kawasan Sambisari, Sidoarjo, sering kali telah dipenuhi kesibukan yang hening namun sarat makna. Sehelai mukena, sebuah Al-Qur’an, dan secangkir teh hangat menemani Hj. Nur Chosyi’ah sebelum melangkah menuju majelis pertamanya. Ba’da Subuh, suara qiro’ahnya yang merdu telah terdengar di sebuah rumah, mengawali hari dengan lantunan ayat suci dan tausiyah yang menenteramkan.

Dari satu majelis ke majelis lainnya, hingga senja menyapa, beliau terus berpindah sebagai mubalighot yang tak kenal lelah. Ia adalah Hj. Nur Chosyi’ah—seorang ibu, pendidik sejati, dan pejuang dakwah yang sepanjang hidupnya diabdikan untuk amar ma’ruf nahi munkar dalam naungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Kini, suara qiro’ah dan dakwah itu telah senyap. Pada Ahad (18/1/2026) pukul 06.00 WIB, beliau kembali ke Rahmatullah. Namun gaung keteladanannya, sebagaimana gema di masjid, majelis taklim, dan ruang-ruang kelas yang pernah ia isi, masih terasa kuat. Almarhumah yang lahir di Sidoarjo, 22 Agustus 1957, meninggalkan jejak pengabdian yang panjang, tulus, dan membekas.

Pendidik Hati di Sekolah dan Masyarakat

Sebelum dikenal luas di ranah organisasi, inti pengabdian Hj. Nur Chosyi’ah telah jelas: mencerdaskan dan mencerahkan. Jiwa pendidiknya terpatri melalui pengabdian panjang di SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz). Selama kurang lebih 32 tahun, ruang kelas menjadi saksi kesabarannya menanamkan nilai-nilai Al-Islam dan Bahasa Arab kepada generasi demi generasi.

Dari balik meja guru itulah fondasi keislaman dan ke-Muhammadiyahan ribuan murid dibangun. Namun ladang amalnya tidak berhenti di sekolah. Kecintaannya pada seni qiro’ah menjadi pintu dakwah yang alami. Suara merdunya menjadi wasilah menyentuh hati jamaah di berbagai majelis taklim—membingkai ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin dengan kelembutan dan kesejukan.

Dari Perintis Ranting hingga Pemandu Cabang

Roh pengabdian itu membawanya aktif dalam persyarikatan. Ia tercatat sebagai generasi perintis Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Sambisari. Dari basis akar rumput inilah beliau belajar menggerakkan komunitas, membina keluarga, dan menyelesaikan persoalan umat secara nyata.

Ketekunan dan visi dakwahnya kemudian mengantarkannya dipercaya sebagai Ketua Umum Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Sepanjang selama dua periode (2005–2015). Kepemimpinannya ditandai dengan keteladanan dan aksi nyata: pembinaan kader, pemberdayaan ekonomi, serta perhatian pada pendidikan dan kesehatan masyarakat. Pasca kepemimpinan, beliau tetap menjadi rujukan sebagai Pembimbing PCA—sosok ibu yang meneduhkan dan penuh kebijaksanaan bagi kader-kader muda.

Amar Ma’ruf dalam Senandung, Ajaran, dan Dapur Rumah

Iklan Landscape UM SURABAYA

Di balik kesibukannya, Hj. Nur Chosyi’ah adalah istri setia bagi Suhadi dan ibu teladan bagi kelima putra-putrinya: Rifatus Shomita, Farokhatin Na’imah, Idam Roichanudin, Mustajib, dan Muhammad Alifi Hasan. Di dalam keluarga, pesan amar ma’ruf ia tanamkan secara konsisten dan penuh kasih:

“Jangan pernah meninggalkan shalat. Tepat waktu, dan perbanyak yang sunnah.”

Pesan itu bukan sekadar nasihat, melainkan prinsip hidup yang ia teladankan—dalam mengajar, berdakwah, hingga mengurus rumah tangga. Ada pula kebiasaan sederhana yang selalu dikenang: membuat makanan manis. Dari dapur rumahnya lahir kue-kue tradisional sebagai bahasa kasih—untuk keluarga, tetangga, jamaah, dan sahabat dakwah. Manis rasanya, selembut dakwah yang ia sampaikan sepanjang hidupnya.

Warisan yang Tak Tergerus Zaman

Hj. Nur Chosyi’ah telah berpulang, tetapi semangat amar ma’ruf yang ditanamkannya tetap hidup. Hidup dalam diri anak-anak dan murid-muridnya. Hidup dalam majelis-majelis ‘Aisyiyah yang terus berdenyut. Hidup dalam lantunan Al-Qur’an yang masih berkumandang di Sepanjang.

Beliau mengajarkan bahwa dakwah adalah totalitas: mengajar di kelas, menyapa di majelis, memimpin organisasi, dan membangun keakraban dari dapur rumah. Semua berpadu meninggalkan warisan abadi berupa keteladanan.

Suara qiro’ah dan tausiyahnya mungkin telah terhenti. Namun “qiro’ah hidupnya”—bacaan teladan atas kitab kehidupan yang dijalani dengan iman, ilmu, dan pengabdian—akan terus dikumandangkan dari generasi ke generasi.

Selamat jalan, Ibu. Teladanmu adalah suluh bagi kami untuk tetap istiqamah dalam barisan dakwah. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu