Pertanyaan sederhana namun menggugah disampaikan dalam kultum Ramadan di SMP Muhammadiyah 12 (Spemudas) Paciran Lamongan. “Sudahkah kita merdeka?” menjadi judul sekaligus pembuka ceramah yang langsung membuat para siswa terdiam dan berpikir.
Pertanyaan tersebut disampaikan oleh Ustadz Azam Mushofa Lc MIRKH dalam kultum Ramadan yang digelar di Mushala Baiturrahim kompleks SMP Muhammadiyah 12 Paciran, Lamongan, Rabu (4/3/2026), usai pelaksanaan salat Dzuhur berjamaah.
Kultum tersebut diikuti oleh siswa-siswi SMPM 12 Paciran non asrama yang juga dikenal sebagai santri kalong dari Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung. Suasana yang semula tenang berubah menjadi penuh perhatian ketika sang ustadz melemparkan pertanyaan yang tidak biasa.
Berbeda dari pertanyaan retoris pada umumnya, Ustadz Azam benar-benar menunggu jawaban dari jamaah yang hadir di mushala. Namun karena tidak ada yang langsung menjawab, ia pun memberikan penjelasan yang membuat para siswa semakin penasaran.
Kemerdekaan yang Ternyata Semu
Menurut ustadz yang juga guru bahasa Arab Spemudas ini, banyak orang sebenarnya belum benar-benar merdeka dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita ini belum merdeka, kita sebenarnya terjajah. Terjajah oleh apa? Kita terjajah oleh barang kecil tipis, barangnya mudah kita bawa ke mana-mana, itulah HP,” ujarnya di hadapan para siswa.
Lulusan Universitas Madinah, Arab Saudi tersebut menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap telepon genggam sering kali membuat manusia kehilangan kendali atas waktunya sendiri.
“Waktu kita sering tersita oleh HP. Kita malah sering dikontrol dan bukan mengontrol HP. Oleh karena itu kita bisa dibilang belum merdeka sepenuhnya,” tandasnya.
Dampak Ketergantungan HP bagi Anak
Lebih jauh, Ustadz Azam juga menyoroti dampak negatif penggunaan HP yang berlebihan, khususnya bagi anak-anak dan remaja.
Menurutnya, kebiasaan bermain ponsel tanpa batas dapat memicu sikap kurang hormat kepada orang tua.
“HP bisa membuat anak durhaka kepada orang tuanya, misalnya ketika diingatkan untuk tidak sering bermain HP, anak justru marah atau merasa terganggu,” jelasnya.
Ia juga memberi contoh situasi ketika seorang anak mengabaikan panggilan atau permintaan orang tua karena terlalu asyik bermain gawai.
“Atau anak bisa abai dengan perintah orang tua karena merasa terganggu saat main HP, sedangkan ibunya membutuhkan bantuan di rumah,” ujarnya.
Anak yang Terlalu Bergantung pada HP Perlu Dibina
Dalam ceramahnya, Ustadz Azam bahkan menyampaikan bahwa anak yang hanya menghabiskan waktu untuk bermain media sosial tanpa kegiatan bermanfaat seharusnya mendapatkan pembinaan lebih serius.
“Kalau anak hanya scroll-scroll media sosial di HP, rebahan tanpa ada kegiatan di rumah, justru anak model seperti ini yang butuh dipondokkan,” katanya.
Menurutnya, pendidikan di lingkungan pesantren dapat membantu membentuk kedisiplinan dan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi.
Kisah Anak CEO Perusahaan HP
Untuk memperkuat pesannya, Ustadz Azam juga membagikan kisah inspiratif tentang anak seorang CEO perusahaan HP ternama.
Menariknya, putra pemilik perusahaan tersebut justru memilih meninggalkan gawai dan tidak menggunakan HP demi fokus belajar.
Keputusan itu diambil agar ia bisa diterima di salah satu perguruan tinggi favorit di Korea Selatan.
Kisah tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting bahwa teknologi seharusnya dikendalikan oleh manusia, bukan sebaliknya.
Ajakan Memerdekakan Diri dari HP
Di akhir kultum, Ustadz Azam mengajak para siswa untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dan tidak sampai diperbudak oleh perangkat yang mereka gunakan setiap hari.
Ia juga mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya tentang bebas melakukan apa saja, tetapi juga mampu mengendalikan diri.
Kultum pun ditutup dengan pesan kepada jamaah yang didominasi siswa-siswi Sendang-Gayam non asrama yang mengenakan seragam batik biru IPM.
“Siapa yang masih tak berdaya oleh godaan main HP berarti ia belum merdeka dan diperbudak oleh HP,” pungkasnya.






0 Tanggapan
Empty Comments