Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sudahkah Kontribusi Muhammadiyah Tercatat dalam Indikator SDGs Surabaya?

Iklan Landscape Smamda
Sudahkah Kontribusi Muhammadiyah Tercatat dalam Indikator SDGs Surabaya?
Gambar dibuat AI (Agung/PWMU.CO)
pwmu.co -

Moh. Agung Santoso
Data Analyst SDGs Center Universitas Airlangga (UNAIR)

Surabaya, sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, menargetkan diri untuk menjadi kota berkelanjutan dengan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dari penurunan angka kemiskinan hingga peningkatan kualitas pendidikan, setiap langkah kota ini diukur melalui indikator yang jelas. Namun, pertanyaan yang menarik untuk diajukan adalah: sejauh mana kontribusi Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi keagamaan dan sosial terbesar di Indonesia, mendukung pencapaian indikator-indikator SDGs tersebut di Kota Pahlawan?

Muhammadiyah dan Good Practice di Surabaya

Prestasi Surabaya meraih peringkat pertama sebagai kota paling berkomitmen terhadap SDGs pada ajang Indonesia Action Award 2024 tentu tidak hanya lahir dari kebijakan pemerintah kota. Ada dukungan dari berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat sipil seperti Muhammadiyah. Pertanyaannya, sudahkah kontribusi Muhammadiyah ini tercatat dalam indikator SDGs Surabaya?

Bappenas RI dalam penyusunan RAD SDGs 2025 menyebutkan terdapat 280 indikator nasional, 124 indikator provinsi, dan 42 indikator kota yang memiliki capaian data. Jika menelisik lebih dekat, sebenarnya banyak aktivitas Muhammadiyah di Surabaya yang sudah langsung bersentuhan dengan indikator-indikator tersebut.

Menyentuh Langsung Kehidupan Warga

Di bidang pengentasan kemiskinan, Muhammadiyah melalui Lazismu Surabaya menjalankan berbagai program pemberdayaan ekonomi: pelatihan usaha mikro, bantuan modal, hingga beasiswa pendidikan bagi anak-anak dari keluarga pra-sejahtera. Hal ini mendukung Indikator 1.2.1 (penurunan jumlah penduduk miskin). Seorang ibu penerima bantuan modal, Siti Ansoriyah  misalnya bersyukur atas bantuan Lazismu, “Setelah ada bantuan Beasiswa Mentari Lazismu ini sangat membantu sekali”, ujarnya

Di sektor kesehatan, kontribusi Muhammadiyah terlihat jelas melalui RS Muhammadiyah Surabaya dan RSI Aisyiyah. Layanan persalinan yang mereka sediakan mendukung Indikator 3.1.2 (peningkatan kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan profesional). Sementara itu, program penyuluhan gizi dan kesehatan oleh Aisyiyah menyasar langsung Indikator 2.2.1 (penurunan stunting) dan 2.2.2 (penurunan wasting pada balita).

Dalam pendidikan, jaringan sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi Muhammadiyah di Surabaya menjadi pilar penting untuk meningkatkan partisipasi sekolah. Biaya yang relatif terjangkau membuka akses luas, terutama bagi kelompok ekonomi menengah bawah. Ini mendukung Indikator 4.5.1 (kesetaraan akses pendidikan) serta Indikator 4.6.1a (peningkatan melek aksara orang dewasa) melalui program pemberantasan buta aksara.

Di bidang lingkungan, Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah Surabaya aktif mengadakan penghijauan, kampanye pengelolaan sampah, dan gaya hidup ramah lingkungan. Inisiatif ini terkait dengan Indikator 6.2.1c (akses sanitasi layak) dan 11.1.1a (hunian layak perkotaan). Tidak berhenti di situ, Muhammadiyah juga membentuk sekolah-sekolah tanggap bencana yang mendukung pengurangan risiko bencana di tingkat komunitas.

Dalam aspek governance, rumah sakit Muhammadiyah menjadi mitra penting BPJS Kesehatan sehingga membantu memperluas cakupan Indikator 3.8.2a (cakupan jaminan kesehatan nasional). Bahkan, melalui layanan rumah sakit, pencatatan kelahiran seringkali difasilitasi, yang berkontribusi pada Indikator 16.9.1 (kepemilikan akta kelahiran).

Menutup Celah Kolaborasi

Dari beragam kontribusi ini, terlihat jelas Muhammadiyah sudah menjadi bagian penting dari pencapaian SDGs Surabaya. Tantangan berikutnya adalah memastikan kontribusi tersebut tercatat secara resmi dalam sistem pemantauan SDGs Kota Surabaya. Masih ada ruang untuk memperkuat kolaborasi, misalnya melalui forum sinkronisasi data dengan Pemkot, integrasi program Lazismu dengan Dinas Sosial, atau kerja sama sekolah Muhammadiyah dengan Dinas Pendidikan untuk percepatan pengentasan buta aksara.

Dengan langkah-langkah strategis ini, Muhammadiyah bukan hanya hadir sebagai mitra moral, tetapi juga mitra teknokratis yang sejajar dengan pemerintah kota. Jika kontribusi ini terdokumentasi dengan lebih baik, maka bukan tidak mungkin capaian SDGs Surabaya bisa melesat lebih tinggi, menjadikan kota ini sebagai teladan kota berkelanjutan, sehat, dan inklusif bagi seluruh warganya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu