Bulan Syaban sudah di depan mata. Umat Islam kini mulai menyambut bulan kedelapan kalender Hijriah itu dengan suka cita. Sebab, bulan Syaban menandai semakin dekatnya bulan suci Ramadan.
Arti kata syaban berasal dari bahasa “syaba” yang bermakna terpisah. Sebab, bulan Syaban terletak di antara dua bulan yang istimewa dalam Islam, yakni bulan Rajab dan bulan Ramadan.
Rasulullah saw sering memperbanyak ibadah di bulan Syaban dan menjadikan bulan tersebut sebagai waktu yang penuh berkah untuk meningkatkan keimanan.
Menurut Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Triono Ali Mustofa, S.Pd.I, M.Pd.I, bulan Syaban menjadi momentum penting bagi umat Islam.
“Bulan Syaban menjadi waktu bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri menjelang kedatangan bulan suci Ramadan,” ujarnya.
Ada 3 alasan mengapa bulan Syaban istimewa menurut Triono, yakni:
1. Bulan persiapan rohani menuju Ramadan
Bulan Syaban menjadi fase tahyi’ah ruhiyyah yang bermakna pemanasan spiritual. Fase ini bertujuan agar jiwa umat Islam siap menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
2. Bulan yang sering dilalaikan manusia
Letak bulan Syaban yang berada di antara dua bulan besar, yakni Rajab dan Ramadan, membuat bulan Syaban kerap diabaikan. Padahal, posisi tersebut sangat strategis bagi umat Islam dalam meraup berkah dan ampunan.
3. Bulan diangkatnya amal-amal oleh Allah
Dalam beberapa hadis, bulan Syaban disebut sebagai bulan diangkatnya amalan manusia oleh Allah SWT. Hal ini membuat umat Islam dianjurkan menghidupi bulan Syaban dengan segala perbuatan mulia dan amal terbaiknya.
Adapun hadis yang menjelaskan mengenai keutamaan bulan Syaban adalah sebagai berikut:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ الْأَيَّامَ يَسْرُدُ حَتَّى يُقَالَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ الْأَيَّامَ حَتَّى لَا يَكَادَ أَنْ يَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ مِنْ الْجُمُعَةِ إِنْ كَانَا فِي صِيَامِهِ وَإِلَّا صَامَهُمَا وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا يَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ لَا تَكَادُ أَنْ تُفْطِرَ وَتُفْطِرَ حَتَّى لَا تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلَا فِي صِيَامِكَ وَإِلَّا صُمْتَهُمَا قَالَ أَيُّ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Rasulullah saw berpuasa beberapa hari berturut-turut, sampai-sampai dikatakan, beliau tidak pernah berbuka. Beliau juga berbuka beberapa hari hingga hampir tidak puasa kecuali dua hari dalam sepekan, yaitu dua hari yang biasa beliau gunakan untuk berpuasa, jika tidak (berpuasa terus menerus), maka beliau akan berpuasa dua hari itu. Tidaklah beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban, Aku bertanya; ‘Wahai Rasulullah, engkau berpuasa seakan-akan engkau tidak pernah berbuka dan engkau berbuka seakan engkau tidak berpuasa kecuali dua hari saja, yaitu Senin dan Kamis.” Beliau bersabda: “Itulah dua hari yang amalan seorang hamba ditampakkan di hadapan Rabb semesta alam, aku senang ketika amalanku ditampakkan, diriku sedang berpuasa.” Usamah melanjutkan; kataku selanjutnya; “Dan kami tidak melihat engkau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban?.” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR Ahmad).
Lima Amalan Sunah Bulan Syaban
Menyambut bulan Syaban ini, umat Islam hendaknya semakin giat mengamalkan ibadah sunah. Menurut Triono, terdapat 5 amalan sunah bulan Syaban yang dapat dilakukan umat Islam, yakni:
1. Memperbanyak puasa sunah
Puasa sunah menjadi salah satu amalan yang dianjurkan selama bulan Syaban. Hadis Riwayat Ibnu Hibban memuat seputar puasa di bulan Syaban, yang bunyinya:
“Tidak ada puasa (sunnah) setelah pertengahan bulan Syaban sampai datang bulan Ramadan.” (HR Ibnu Hibban).
Sementara dari Abu Salamah meriwayatkan Aisyah RA yang berkata:
“Rasulullah saw tidak pernah berpuasa pada suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Syaban, sesungguhnya beliau berpuasa Syaban sebulan penuh.” (HR Bukhari).
2. Memperbanyak zikir tasbih, tahmid, dan tahlil
Umat Islam dianjurkan memperbanyak zikir selama bulan Syaban. Zikir bermanfaat untuk mendapatkan ketenangan hati, sekaligus cara terbaik untuk mengingat Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Rad’ ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُقُلُوْبُۗ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
3. Istighfar sebagai persiapan Ramadan
Istighfar merupakan cara terbaik untuk merenungi kesalahan dan memohon ampun kepada Allah SWT. Istigfar menjadi pembuka ampunan atas segala dosa yang pernah diperbuat oleh manusia. Menyucikan hati untuk menyambut bulan Ramadan.
4. Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an harus senantiasa diamalkan oleh umat Islam. Terlebih membaca Al-Qur’an di bulan Syaban merupakan amalan yang dianjurkan sebab dilakukan pada bulan istimewa.
Rasulullah saw pernah menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an adalah ibadah paling mulia. Hal ini termaktub dalam hadis berikut:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
Rasulullah bersabda, sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Al-Quran.” (HR. Al-Baihaqi).
5. Memperbaiki Niat dan Tobat
Triono mendorong umat Islam untuk kembali memperteguh niat keislaman dan memohon ampun dengan melakukan pertaubatan.
Bulan Syaban, kata dia, hendaknya dimanfaatkan sebagai momentum mengharap ampunan dan mengembalikan keimanan umat pada jalan yang dirahmati Allah.
Malam Nisfu Syaban
Bulan Syaban merupakan waktu terjadinya malam Nisfu Syaban. Malam ini jatuh pada tanggal 15 bulan Syaban atau malam setelah waktu Magrib tanggal 14. Triono mengatakan banyak ulama meyakini malam tersebut sebagai malam istimewa.
Triono menyebut mayoritas ulama ahlussunnah, terutama Syafi’iyah dan Hanabilah, menganjurkan untuk memperbanyak ibadah secara individu. “Bukan ritual berjamaah khusus yang diyakini wajib,” ungkap dia.
Imam Asy-Syafi’i menganggap malam Nisfu Syaban termasuk malam mustajab untuk berdoa. Sementara Imam Ibn Rajab Al-Hanbali mengakui keutamaan malam ini berdasarkan kumpulan hadis.
Triono mengajak umat Islam untuk menghidupi bulan Syaban dengan ibadah dan pertaubatan. “Karena Allah SWT memberikan ampunan secara luas kecuali bagi orang-orang dengan dosa sosial dan akidah tertentu seperti syirik,” tandasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments