Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sya’ban, Bulan yang Sering Dilupakan: Saat Amal Diangkat dan Hati Diuji Jelang Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Sya’ban, Bulan yang Sering Dilupakan: Saat Amal Diangkat dan Hati Diuji Jelang Ramadan
Foto: Wikipedia
pwmu.co -

Bulan Sya’ban kerap luput dari perhatian umat Islam. Padahal, Sya’ban justru menjadi fase paling krusial dalam perjalanan spiritual menuju Ramadan.

Hal itu disampaikan menurut Ustaz Sholeh Drehem, Lc, dalam ceramah khusus membahas makna Sya’ban serta persiapan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci Ramadan.

“Waktu berjalan sangat cepat. Kita sudah berada di sepertiga awal Sya’ban. Bahkan malam ini sudah memasuki malam ke-11. Ini bukan waktu biasa,” ujar Ustaz Sholeh seperti dilansir dari kanal Youtube Baitul Arqom Joss, Kamis (29/1/2026).

Ustaz Sholeh menyoroti realitas umat Islam yang cenderung lebih memuliakan bulan Rajab, sementara Syakban sering diperlakukan secara “biasa-biasa saja”.

“Padahal Sya’ban ini justru bulan yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah saw,” tegasnya.

Dia lalu menjelaskan, Rajab memang termasuk salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum) yang dimuliakan Allah.

Namun, penempatan Rajab yang terpisah dari tiga bulan mulia lainnya (Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram) bukan tanpa hikmah.

“Rajab dan Sya’ban itu pemanasan sebelum masuk Ramadan,” jelasnya.

Mengutip pendapat Ibnu Rajab al-Hambali, Ustaz Sholeh menyampaikan bahwa Rajab adalah syahruz zara’, bulan menanam amal.

Sedangkan Sya’ban adalah bulan menyirami dan merawatnya, sebelum akhirnya dipanen di bulan Ramadan.

Menariknya, Rasulullah saw justru memperbanyak ibadah, terutama puasa sunah, di bulan Sya’ban, bahkan melebihi bulan Rajab. Hal ini pernah ditanyakan langsung oleh Usamah bin Zaid kepada Nabi.

“Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa sunah sebanyak ini selain di bulan Syakban,” kata Usamah sebagaimana dikutip dalam hadis.

Rasulullah menjawab, “Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal di bulan ini amal-amal diangkat dan dilaporkan kepada Allah. Aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”

“Ini bukan bulan biasa. Setiap detik, setiap menit di Syakban, amal kita sedang dilaporkan kepada Allah,” tegas Ustaz Sholeh.

Nisfu Syakban: Jangan Berlebihan, Jangan Menafikan

Ustaz Sholeh juga meluruskan pemahaman umat terkait malam Nisfu Syakban yang kerap disikapi secara ekstrem.

“Ada yang berlebihan sampai mensakralkan secara tidak proporsional. Ada pula yang menolak mentah-mentah keberadaan keistimewaannya. Dua-duanya keliru,” ujarnya.

Ia menegaskan, esensi Nisfu Sya’ban hanya dua:

1. Allah membuka pintu penerimaan amal.

2. Allah membuka pintu ampunan dosa seluas-luasnya.

Namun, ada dua golongan yang dikecualikan dari ampunan Allah pada malam Nisfu Sya’ban:

1. Pelaku syirik, yaitu mereka yang menyekutukan Allah.

2. Orang yang bermusuhan, yang tidak saling bertegur sapa lebih dari tiga hari.

“Seberapa khusyuk pun doa kita, kalau masih menyimpan permusuhan, doa itu tertahan,” tegasnya.

Ustaz Sholeh menekankan bahwa syirik adalah dosa paling berat dan tidak akan diampuni sebelum pelakunya bertobat dengan sungguh-sungguh.

Dia juga mengingatkan agar umat Islam membersihkan diri dari praktik-praktik mistik, jimat, dan ketergantungan selain kepada Allah.

Selain itu, permusuhan sosial—baik dengan pasangan, orang tua, saudara, tetangga, hingga mantan pasangan—menjadi penghalang utama diterimanya amal.

“Musuh kita hanya satu, yaitu setan. Selain itu, sesama mukmin adalah saudara,” katanya.

Dia mengajak jamaah untuk memanfaatkan Sya’ban sebagai momentum rekonsiliasi, saling memaafkan, dan menyambung kembali silaturahmi.

Sya’ban sebagai Latihan Menuju Ramadan

Menurut Ustaz Sholeh, Syakban adalah bulan latihan serius. Puasa sunah, membaca Al-Qur’an, qiyamul lail, dan zikir harus mulai dibiasakan.

“Saya tidak meyakini seseorang akan menikmati Ramadan jika di bulan Syakban ia sama sekali tidak berpuasa sunah,” ujarnya lugas.

Dengan latihan di Sya’ban, puasa Ramadan menjadi ringan, tarawih terasa nikmat, dan membaca Al-Qur’an menjadi kebiasaan, bukan keterpaksaan.

Ustaz Sholeh mengingatkan bahwa Ramadan adalah karunia eksklusif yang hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad saw. Pahala dilipatgandakan, dosa diampuni, dan pintu surga dibuka lebar.

“Kerugian besar jika seseorang masuk Ramadan lalu keluar tanpa mendapatkan ampunan Allah,” katanya mengutip hadis Nabi.

Dia menegaskan bahwa kunci utama menyambut Ramadan adalah iman. Iman yang dirawat melalui ketaatan, amal saleh, dan menjauhi maksiat.

Dua Poros Utama Ramadan

Mengakhiri ceramahnya, Ustaz Sholeh menekankan dua agenda besar Ramadan, yakni interaksi intens dengan Al-Qur’an dan memperbanyak doa

“Minimal satu kali khatam selama Ramadan. Insya Allah bisa,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan bahwa Allah sangat dekat di bulan Ramadan, membuka pintu doa setiap saat, terutama di malam hari.

“Doa itu gratis, tapi sering kita lupa memanfaatkannya,” katanya.

Ustaz Sholeh mengajak umat Islam menjadikan Ramadan tahun ini sebagai Ramadan terbaik, seolah-olah menjadi Ramadan terakhir dalam hidup.

“Karena kita tidak pernah tahu, apakah tahun depan masih dipertemukan atau tidak,” pungkasnya.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu