Ramadan tahun ini menjadi bulan istimewa dan sangat berbeda dari ramadan yang dialami sebelumnya oleh ribuan santri Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur.
Perbedaan mencolok adalah hadirnya Syaikh Khairiy Abdel Sattar, guru utusan Al-Azhar asal Mesir yang setiap hari memberi Kultum Ramadan usai salat Dzuhur di Masjid Al-Ishlah yang berkapasitas dua ribu jamaah ini.
Edisi Ahad (22/2/2026) Syaikh Mesir yang berencana tinggal di Ponpes Al-Ishlah Lamongan sampai 2028 mendatang ini mengimami salat jamaah Dzuhur dan mengisi kultumnya dengan bahasa Arab dan suaranya yang lantang memaparkan tentang Riya’ Penyakit Hati yang Paling Bahaya.
Ribuan santri penuh khidmat dan khusyu’ menyimak kata per kata dari kalimat yang disampaikan Syaikh Khairy, tak satu pun kata berbahasa Indonesia yang muncul dari lisan Syaikh yang berbusana gamis ala Mesir, maka para santri harus fokus berusaha semampunya memahami kultum itu dengan kosa kata bahasa Arab yang dikuasainya.
” أن يعمل العبد المؤمن الصالح عملا صالحا لا يقصد بهذا العمل لله، وإنما يقصد به ثناء الناس والمدح.”
“Bahwa seorang hamba mukmin yang saleh melakukan suatu amal kebaikan, namun ia tidak berniat karena Allah dalam amalnya tersebut, melainkan berniat untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari manusia,” ucap Syaikh Khairiy mengawali paparannya dengan mendefinisikan kata riya’.
Selanjutnya ia mempertegas bahwa riya’ ini sangat berbahaya karena Allah SWT. tidak akan menerima suatu amalan kecuali amalan tersebut murni diniatkan kepada-Nya semata.
Syaikh berusia 64 tahun ini lantas memukul sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berbunyi :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, barang siapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, Aku meninggalkannya dan sekutunya.
“Riya’ juga mampu membatalkan suatu amalan, maka sia-sia saja orang yang beribadah di tengah malam, shalat semalam suntuk, membaca Al-Quran sampai tenggorokannya kering namun di hatinya masih terdapat riya’ karena Allah tidak akan menerima amalan yang tercampur di dalamnya terdapat niat selain untuk Lillahi ta’ala dan ketika di akhirat besok orang yang riya’ dan sum’ah akan diperlihatkan perbuatannya di hadapan semua makhluk Allah,” tandasnya.
Syaikh Khairy juga mengajak santri Al-Ishlah agar bisa mengambil pelajaran dari sebuah riwayat hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah, bahwasanya amalan yang utama sekalipun seperti berjihad, membaca Al-Quran, dan berinfaq ketika di dalamnya terdapat niat yang ditujukan kepada selain Allah, maka ia tertolak dan bahkan menyebabkan pelakunya dilemparkan ke dalam neraka.
“Rasulullah Saw. pun mewanti wanti umatnya dari penyakit ini, dari Abu said Al-khudri seorang sahabat ternama meriwayatkan bahwasanya ketika para sahabat keluar bersama rasulullah dan membicarakan tentang fitnah Dajjal, Rasul bersabda “bahwasanya yang paling aku takuti dari fitnah Dajjal yang menimpa kalian adalah syirk al-asghar” dalam riwayat lain “riya”,” pungkasnya.
Di ujung kultumnya, Syaikh Khairy menyerukan agar santri melakukan amalan secara khafiy atau sembunyi dari hadapan manusia kecuali yang memang disunnahkan untuk dinampakkan seperti shalat jamaah, supaya mengantisipasi adanya niatan selain untuk Allah, dan
nemperbanyak doa;
اللهم إني أعوذ بك من أن أشرك شيئا أعلمه وأستغفرك لما لا أعلمه. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments