Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tak Habis Pikir, Bagaimana Bisa Muhammadiyah Dituduh Intoleran?

Iklan Landscape Smamda
Tak Habis Pikir, Bagaimana Bisa Muhammadiyah Dituduh Intoleran?
pwmu.co -
Marpuji Ali dalam Tabligh Akbar. (Emil MuKhtar EFENDI/PWMU.CO)

PWMU.CO – Tantangan ke depan yang dihadapi Muhammadiyah tidak tambah ringan, tetapi semakin berat.

Bendahara Pimpinan Pusat Muhammadiyah Drs H Marpuji Ali MSi.
menyampaikan hal itu pada ratusan jamaah yang memadati acara Tabligh Akabr di Halaman Masjid Al-Mukminin, Jemundo, Taman, Sidoarjo, Ahad (31/12/17).

“Sering, kita ini (Muhammadiyah), dihubung-hubungkan dengan gerakan-gerakan kekerasan. Sehinga seolah-olah, Muhammadiyah ini kategori organisasi yang intoleran,” ujarnya.

Terkadang juga aneh, lanjutnya, Muhammadiyah dianggap tidak Pancasilais. “Hanya karena kita tidak pernah mengatakan ‘Aku Pancasila’. Orang Muhammadiyah memang tidak seperti itu. Itulah yang perlu diwaspadai bersama. Dan kita tidak boleh goyah,” pesannya.

Marpuji tak habis pikir, bagaimana Muhammadiyah dikatakan intoleran. “Tidak pernah membubarkan pengajian kok. Walaupun pengajian itu bukan berpaham Muhammadiyah. Mboten nateh ngoten loh (tidak pernah gitu loh)”, katanya.

“Muhammadiyah tidak pernah membubarkan sebuah Daurah Tahfidul Quran. Bahkan kita yang dibubarkan,” sindir Marpuji tentang pembubaran kegiatan Muhammadiyah di Jepara Jawa Tengah, beberapa waktu yang lalu.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Padahal, pemberitahun ke Kapolres, tembusan ke Bupati juga sudah dilayangkan. Muhammadiyah itu wawasannya luas, memiliki pandangan yang luas juga, dan jembar (luas) dadanya. Akhirnya, dengan sikap kedewasaan Muhammadiyah, agenda itu dilaksanakan di Tawangmangu, dan alhamdulillah berjalan lancar,” ungkapnya.

Berbagai tantagan itu, menurut Marpuji, adalah bagian dari ujian hidup. “Pada dasarnya, Allah memberikan kehidupan dan pada saatnya kita dimatikan oleh-Nya untuk menghadapi tantangan dan ujian,” tutur dia.

Kita, warga Muhammadiyah, urainya, akan diuji oleh Allah SWT, apakah pantas disebut sebagai orang-orang yang memilih berbuat ikhsan, saat menghadapi berbagai tantangan, ujian, dan juga kritikan yang tidak berdasar itu. “Itulah yang perlu kita waspadai bersama,” kat pria kelahiran Klaten 21 Agustus 1951 itu. (Emil Mukhtar Efendi)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu