Menghadapi tantangan era digital yang semakin kompetitif, Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya mengambil langkah strategis untuk memperkuat kompetensi kreatif para pendidik.
Melalui kolaborasi seni dan teknologi, LSB PDM Surabaya menggelar Workshop Pembuatan Film Pendek serta Lomba Cipta Lagu Anak dan Religi pada Rabu–Kamis (28–29/1/2026). Kegiatan berlangsung di Auditorium The Millenium Building (TMB) Lantai 4, SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya.
Workshop menghadirkan Yusril Ihza F.A., Founder Studio Daluang, sebagai pemateri utama yang membimbing peserta dalam teknik dasar sinematografi.
Ketua LSB PDM Kota Surabaya, Edy Susanto, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membekali guru dan karyawan sekolah Muhammadiyah se-Kota Surabaya dengan keterampilan baru di bidang kreatif digital, mulai dari jenjang TK Aisyiyah, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK.
“Kami ingin guru-guru Muhammadiyah mampu mengikuti perkembangan tren di era digital. Keterampilan membuat film pendek ini nantinya dapat dikembangkan untuk pembuatan profil sekolah maupun film anak yang inspiratif,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Ia menambahkan, dakwah masa kini tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan kultural konvensional, tetapi juga perlu merambah ruang digital. Dengan penguasaan sinematografi, guru diharapkan mampu menghadirkan konten positif dan edukatif bagi masyarakat luas.
Selain workshop film, LSB PDM Surabaya juga memberi perhatian pada konsumsi musik anak. Melalui Lomba Cipta Lagu Anak dan Religi, LSB berupaya menghadirkan alternatif hiburan yang sesuai usia serta sarat nilai pendidikan.
“Kami prihatin melihat anak-anak lebih banyak mengonsumsi lagu dewasa atau lagu barat yang kurang sesuai dengan usia mereka. Lewat lomba ini, kami ingin menghadirkan kembali keceriaan anak melalui lagu yang membangun empati dan inspirasi, sekaligus menyambut bulan suci Ramadan,” imbuh Edy.
Melalui inisiatif ini, LSB PDM Surabaya berharap sekolah Muhammadiyah tidak hanya menjadi pusat pendidikan akademik, tetapi juga inkubator kreativitas yang mampu melahirkan karya seni berkualitas di tingkat nasional.
Sementara itu, Wakil Ketua PDM Surabaya, Drs. Rofiq Munawi, turut hadir dan menyampaikan apresiasi sekaligus evaluasi terhadap kondisi seni di lingkungan Muhammadiyah. Ia menilai penguasaan bidang perfilman dan seni tarik suara masih perlu ditingkatkan.
“Muhammadiyah dikenal sebagai pelopor perubahan, tetapi dalam bidang seni kita masih perlu banyak berkembang,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran para ahli dalam workshop ini dapat mempercepat transfer pengetahuan sehingga Muhammadiyah Surabaya mampu mengejar ketertinggalan dan menjadi percontohan bagi daerah lain.
Meski partisipasi peserta saat ini baru sekitar 25 persen dari target, Rofiq menekankan bahwa keberhasilan kegiatan tidak semata diukur dari jumlah peserta. Ia mengapresiasi upaya maksimal panitia LSB PDM Surabaya yang tetap menyelenggarakan kegiatan meski menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan anggaran dan kesibukan calon peserta.
“Bagi PDM Surabaya, yang terpenting adalah keberanian memulai dan menyediakan wadah ekspresi bagi kader serta guru,” tegasnya.
Rofiq juga berpesan agar ruang kreatif tidak dibatasi secara berlebihan. Ia mendorong peserta untuk berani mengekspresikan ide, memaksimalkan ikhtiar, serta menghadirkan karya terbaik.
“Fokuslah berkarya dan berusaha maksimal. Kita membutuhkan aksi nyata di lapangan,” pungkasnya.
Kegiatan ini diikuti 32 peserta dari 15 sekolah Muhammadiyah se-Kota Surabaya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments