Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tak Mau Dilupakan, Pensi Al-Ishlah 2025 Dibuka dengan Tampilkan Musik Jidor Santri

Iklan Landscape Smamda
Tak Mau Dilupakan, Pensi Al-Ishlah 2025 Dibuka dengan Tampilkan Musik Jidor Santri
Tampilan jidor di pentas seni Al-Ishlah (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

PWMU.CO Pentas Seni (Pensi) Al-Ishlah 2025 dibuka dengan alunan musik Jidor Surya Nada. Suara musik nan rancak menghentak dan harmonis ini dimainkan oleh 20 santri Al-Ishlah putra dari SMPM 12 Paciran dan Madrasah Aliyah (MA) Al-Ishlah Sendangagung.

Penampilan tersebut mampu menggetarkan panggung Pensi Al-Ishlah 2025 yang digelar malam hari pukul 19.00–22.50 WIB di halaman Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Lamongan, Kamis (7/8/2025).

Begitu musik tradisional khas Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur ini menggema, sambutan riuh tepuk tangan tak henti-hentinya diberikan ribuan hadirin. Hal itu menjadi tanda suka dan kagum akan keindahan musik rebana yang dipadu dengan gamelan yang terdiri dari gambang, demung, saron, dan peking.

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah yang juga pendiri ponpes pada tahun 1986, Drs KH Muhammad Dawam Saleh, berkali-kali mengangkat kedua tangannya untuk bertepuk tangan.

Itu menjadi tanda bangga dan terpukau akan keterampilan tangan para santri yang lihai memainkan musik perkusi rebana yang dikolaborasikan dengan gamelan Jawa.

“Musik ini hanya ada di Desa Sendangagung, tidak ada di tempat kalian yang dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Sumatra. Untuk itu perlu dikenalkan santri Al-Ishlah agar makin kerasan di pondok,” ujar kiai yang masih memiliki garis keturunan ke Sunan Drajat dari jalur ibunya ini.

Sebelum membuka Pensi Al-Ishlah 2025, kiai yang sekaligus budayawan ini bercerita bahwa musik jidor Sendangagung dahulu terkenal dan sering dibunyikan, terutama saat hajatan warga Sendangagung, baik sunatan, pengantenan, Coplok Puser, atau pemberian nama bayi.

Tampilan Memukau

Sementara itu, koordinator Jidor Santri, Gondo Waloyo, mengaku persiapan tampil di acara tahunan ini cukup singkat, hanya dua kali latihan. Namun, karena anak-anak jidor sudah biasa tampil, tidak ada kesulitan dan mereka mampu tampil memukau.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Tawaran tampil jidor ini sempat saya tolak, karena saat gladi kotor saya masih menunggui anak saya yang opname lima hari di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) Ahad (29/7/2025), tetapi panitia tetap memaksa harus ada, maka kita tampil tanpa ikut gladi kotor,” terang ayah tiga anak ini.

“Alhamdulillah sambutan penonton luar biasa, dan apresiasi itu menambah semangat kami untuk berkarya di musik tradisional yang kian langka dan nyaris terlupa,” pungkasnya.

Seniman jidor senior yang sekaligus pelatih dan pemain jidor senior, Zuhri Uhya, cukup senang saat lembaga sebesar Al-Ishlah yang terdiri dari SMPM 12 dan MA Al-Ishlah Sendangagung turut mendukung dan ikut uri-uri serta melestarikan budaya kearifan lokal masyarakat Sendangagung.

“Al-Ishlah Sendangagung dianggap peduli budaya lokal seperti jidor, hal itu dibuktikan setiap kali ada event besar sering menyuguhkan jidor untuk menyambut atau menghibur tamu,” ujar kakek berusia 63 tahun ini.

“Tidak hanya itu, pondok ini juga mampu memfasilitasi santrinya, terutama yang asli Sendangagung, untuk menguasai musik yang berada di ambang kepunahan ini,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu