Dalam upaya memperkuat tata kelola masjid yang profesional, transparan, dan berdampak luas bagi umat, jajaran Takmir Masjid Muchsin Ali Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Aisyah Madiun melaksanakan kegiatan studi tiru ke Masjid Al Fattah Tulungagung, Sabtu (20/12/2025).
Kunjungan ini menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan Takmir Masjid Muchsin Ali untuk menghadirkan masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pelayanan, pembinaan, dan pemberdayaan umat.
Rombongan dari Madiun disambut hangat oleh jajaran pengurus Masjid Al Fattah Tulungagung, yang selama ini dikenal sebagai salah satu masjid Muhammadiyah percontohan di Jawa Timur dengan tata kelola yang progresif dan modern.
Ketua rombongan, Warsito, S.Sos., yang juga Takmir Masjid Muchsin Ali RSI Siti Aisyah Madiun, menjelaskan bahwa pemilihan Masjid Al Fattah sebagai tujuan studi tiru bukan tanpa alasan.
Menurutnya, masjid ini dinilai berhasil membangun sistem pengelolaan yang rapi, akuntabel, dan inovatif, sekaligus mampu menjawab kebutuhan jamaah secara luas.
“Masjid Al Fattah kami nilai sukses mengelola berbagai program keumatan, mulai dari manajemen keuangan yang transparan, pemanfaatan teknologi informasi, hingga pengembangan program pemberdayaan ekonomi jamaah. Inilah yang ingin kami pelajari dan adaptasi,” ujar Warsito.
Dia menambahkan, studi tiru ini menjadi momentum penting bagi Takmir Masjid Muchsin Ali untuk melihat langsung praktik baik (best practices) dalam membangun ekosistem kemakmuran masjid. Harapannya, masjid dapat hadir sebagai pusat peradaban, ruang edukasi, sekaligus solusi atas berbagai persoalan umat.
“Kami ingin masjid tidak berhenti sebagai tempat salat semata, tetapi menjadi pusat aktivitas umat yang hidup, produktif, dan memberi manfaat nyata,” tegasnya.
Selama kunjungan, rombongan mendapatkan pemaparan langsung dari Ketua Takmir Masjid Al Fattah Tulungagung mengenai sejarah berdirinya masjid, proses pengembangan kelembagaan, serta dinamika pengelolaan yang dilalui hingga menjadi seperti saat ini.
Diskusi berlangsung interaktif, mencakup berbagai aspek strategis, mulai dari struktur organisasi takmir, pola kaderisasi pengurus, strategi penggalangan dana infak dan sedekah, hingga sistem pemeliharaan fasilitas masjid agar tetap bersih, nyaman, dan ramah bagi jamaah tetap maupun musafir.
Pihak Masjid Al Fattah Tulungagung menekankan bahwa kunci utama keberhasilan pengelolaan masjid terletak pada kepercayaan (trust) jamaah. Kepercayaan tersebut dibangun melalui keterbukaan informasi, laporan keuangan yang jelas, serta pelayanan yang maksimal dan berkelanjutan.
“Ketika jamaah percaya, maka dukungan akan datang dengan sendirinya. Transparansi dan pelayanan adalah fondasi utama,” ungkap salah satu pengurus Masjid Al Fattah dalam sesi diskusi.
Kunjungan studi tiru ini diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan baru yang dapat segera diimplementasikan di Masjid Muchsin Ali RSI Siti Aisyah Madiun.
Inovasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan masjid, khususnya bagi pasien dan keluarga pasien RSI Siti Aisyah, para karyawan rumah sakit, serta masyarakat sekitar yang menjadikan masjid sebagai pusat spiritual dan sosial.
Kegiatan studi tiru ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol silaturahmi dan penguatan sinergi antar Amal Usaha Muhammadiyah.
Foto bersama dilakukan di depan ikon Masjid Al Fattah, yakni Kiswah Ka’bah yang pernah digunakan di Makkah pada tahun 2002 dan kini terpasang di bagian depan tempat imam Masjid Al Fattah Tulungagung.
Melalui kegiatan ini, Takmir Masjid Muchsin Ali RSI Siti Aisyah Madiun menegaskan komitmennya untuk terus belajar, berbenah, dan menghadirkan masjid yang makmur, profesional, serta memberi manfaat luas bagi umat dan masyarakat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments