Takwa bukan sekadar teori atau ritual, melainkan militansi hidup yang harus diperjuangkan dengan tekad, kerja keras, dan komitmen tanpa henti.
Demikian pesan mendalam Wakil Ketua PWM Jatim, Prof. Thohir Luth, saat menjelaskan karakter manusia muttaqin, yakni mereka yang dijanjikan Allah sebagai pemenang sejati di dunia dan akhirat.
Menurutnya, kemenangan tersebut hanya dapat diperoleh dengan komitmen yang kuat berpegang pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.
“Janji Allah dalam Al-Qur’an tidak mungkin bisa kita dapatkan kecuali dengan komitmen. Kita harus membangun janji setia dengan upaya yang militan untuk meraihnya,” tegas Prof. Thohir seperti dikutip dari kanal Youtube Attaqwa Kotabaru.
Thohir memulai penjelasannya dengan merujuk pada Al-Baqarah ayat 2: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
Menurutnya, sumber segala kekacauan dan kerusakan dalam kehidupan berawal dari sikap mengabaikan pedoman Allah, baik yang termaktub dalam Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah saw.
Karena itu, orang-orang bertakwa dituntut untuk senantiasa membangun komitmen agar setia pada keduanya.
“Dimana pun dan kapan pun, orang bertakwa harus berpegang pada Al-Qur’an dan sunah. Ketika kita memegang teguh keduanya, hidup kita akan terarah menuju shiratal mustaqim. Namun jika kita sengaja mengabaikannya, maka ujungnya adalah kesesatan,” ujarnya.
Thohir kemudian mengutip sabda Rasulullah saw “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara; selama kalian berpegang teguh pada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunah Rasul-Nya.”
Dia menegaskan, menjadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai standar dalam menetapkan arah kehidupan merupakan sebuah keharusan.
Banyak orang tersesat, lanjutnya, karena mengabaikan petunjuk ini—sampai-sampai yang haram dianggap halal, dan yang halal justru diharamkan.
Lebih lanjut, Thohir menyinggung Al-Hujurat ayat 13 sebagai ciri kedua manusia muttaqin:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan; kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Dari ayat ini, ia menekankan bahwa tidak mungkin seseorang memperoleh kemuliaan tanpa semangat mempertahankannya melalui ketakwaan.
“Orang muttaqin harus berusaha sekuat tenaga untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT kapanpun dan di manapun. Baik dalam keadaan lapang maupun sempit, ibadah harus tetap berjalan,” tutur Thohir.
Dia mengingatkan bahwa banyak orang kehilangan kemuliaannya karena tidak menjaga komitmen dalam beribadah. Akibatnya, hidup mereka berakhir sia-sia.
Menuju Kemenangan Hakiki
Karakter ketiga manusia muttaqin dijelaskan Prof. Thohir dengan merujuk pada An-Naba ayat 31: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.”
Ayat ini, menurutnya, menegaskan bahwa keberuntungan dan kemenangan tidak akan datang begitu saja. Semuanya memerlukan tekad, kesungguhan, dan kerja keras.
“Kemenangan tidak mungkin diraih tanpa ikhtiar yang sungguh-sungguh. Tanpa militansi, kita tidak akan mungkin meraihnya. Karena itu, orang muttaqin harus menjadi pribadi yang menang, baik di dunia maupun akhirat,” ujarnya penuh semangat.
Thohir mengajak jamaah untuk terus berdoa dengan doa yang sering dilantunkan kaum muslimin: “Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban nar.” (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka) (QS. Al-Baqarah: 201).
Dia juga menyinggung makna panggilan azan “hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal-falah” sebagai ajakan tidak hanya untuk menunaikan salat, tetapi juga menuju kemenangan.
“Azan selalu memanggil kita kepada salat dan kemenangan. Karena itu, mari kita bangun kesadaran baru untuk menjadi pribadi muttaqin, pribadi yang menang,” terang Thohir. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments