Kepala SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya, Munahar, S.H.I., M.Pd., melakukan sosialisasi mengenai pentingnya budaya antre kepada seluruh warga sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan seusai salat Dhuha di halaman sekolah pada Senin (20/10/2025) pagi.
Langkah ini diambil setelah mengamati perilaku beberapa siswa yang cenderung ingin selalu menang dalam berbagai aktivitas dan kurang peduli terhadap sesama.
Untuk mengatasi hal tersebut, Munahar bersama Kepala Urusan Kesiswaan dan Tim Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) menyusun aturan baru yang menekankan kedisiplinan dan tata tertib, termasuk penerapan budaya antre yang baik dan tertib di lingkungan sekolah.
“Sebagai pilot project, SOP ini diterapkan ketika para siswa melaksanakan salat Zuhur di masjid maupun salat Dhuha di lapangan,” jelas Munahar.
Selanjutnya, pejabat Sekretaris Majelis Tabligh Jawa Timur ini menyampaikan bahwa budaya antre bukan sekadar menunggu, tetapi juga merupakan pelajaran penting tentang etika dan pembentukan karakter.
“Beberapa manfaat dari budaya antre antara lain: melatih kesabaran, pengendalian diri, belajar menghargai waktu dan orang lain, serta membangun karakter positif melalui budaya antre,” tegasnya.
Budaya antre yang telah diatur dalam SOP ini akan diterapkan saat ibadah salat Zuhur dan Dhuha. Sebelum memasuki area masjid, setiap siswa harus sudah berwudu di lantai masing-masing kelas dengan pengawasan guru saat berwudu.
Saat memasuki masjid, siswa akan disambut oleh guru piket yang berjaga di pintu masuk. Selama pelaksanaan salat, para siswa juga akan diawasi oleh beberapa guru.
“Setiap anak yang masuk masjid diwajibkan oleh guru piket untuk berdoa saat masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanan,” tuturnya.
Pengaturan shaf, lanjutnya, kelas enam berada di paling depan, diikuti oleh kelas lima hingga kelas tiga sedangkan saat keluar masjid setelah salat, berdzikir, berdoa, dan salat sunnah, kelas tiga keluar lebih dahulu secara tertib dan berbaris rapi tanpa saling berebut.
Menurut Munahar, hal ini bertujuan untuk memudahkan pembinaan khusus bagi kelas enam. Budaya ini juga diterapkan saat salat Dhuha, dengan perbedaan pada penataan shaf. Tidak lagi kelas enam yang berada di paling depan, melainkan siapa pun kelasnya, yang datang paling awal menempati shaf paling depan.
“Setelah selesai salat, anak-anak juga diwajibkan meninggalkan masjid secara tertib dan berbaris rapi,” sambungnya.
Baginya, untuk menegakkan disiplin, perlu diberikan apresiasi dan konsekuensi. Sebagai bentuk apresiasi, para siswa menerima pujian langsung serta penghargaan berupa poin khusus bagi kelas yang paling tertib.
“Penghargaan tertinggi yang akan diberikan adalah apresiasi publik, misalnya pengakuan sebagai Siswa Teladan di Masjid yang akan diumumkan saat upacara,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments