Kedua tangan kita diibaratkan seperti setir dalam tubuh kita. Tangan yang baik akan membawa penumpangnya menuju jalan yang benar, sementara tangan yang disetir oleh hati yang buruk akan menjerumuskan penumpang ke jurang kemaksiatan.
Kedua tangan kita memang terlihat indah — apalagi jika dihiasi dengan cincin emas, jam tangan mahal, atau gelang berkilauan. Namun, Allah Ta’ala tidak menilai keindahan lahiriah itu. Yang Allah lihat adalah apa yang telah diperbuat oleh tangan tersebut. Seindah apa pun perhiasannya, tidak akan berguna jika ia digunakan untuk berbuat zalim.
Imam Syafi’i pernah berkata, “Apa yang tergores pada kulitmu sesuai dengan kukumu.” Artinya, apa yang kita lakukan dengan tangan kita hari ini — baik maupun buruk — akan kembali kepada kita di kemudian hari. Tidak ada yang luput dari perhitungan.
Maka jadilah tangan yang baik. Tangan yang terbiasa memberi, membantu, dan menolong tanpa pamrih. Tangan yang ringan untuk bersedekah, mengusap kepala anak yatim, atau menolong tetangga yang sedang kesulitan.
Bayangkan, ada seorang pedagang kecil di pasar yang setiap hari menyisihkan uang recehnya untuk dimasukkan ke kotak infak masjid. Ia tidak menunggu kaya untuk berbagi. Tangan itu bekerja keras sejak pagi, memegang timbangan, melayani pembeli, namun di sela kesibukannya ia masih sempat menyalurkan kebaikan. Tangan seperti inilah yang akan menjadi saksi indah di akhirat kelak.
Atau contoh sederhana: seorang anak muda yang rela berhenti bermain ponsel ketika melihat seorang nenek kesulitan menyeberang jalan. Ia ulurkan tangannya, menuntun dengan hati-hati hingga selamat sampai seberang. Tangan yang kecil itu mungkin dianggap sepele, tapi di sisi Allah, perbuatan kecil itu bisa bernilai besar.
Tangan yang baik juga mencari nafkah dengan cara halal. Ia menolak suap, menolak korupsi, menolak tipu muslihat dalam pekerjaan. Ia sadar, rezeki yang halal meski sedikit, lebih menenangkan daripada rezeki haram yang tampak banyak namun penuh dosa.
Sebaliknya, jangan menjadi tangan jahat. Tangan yang digunakan untuk memukul, menganiaya, atau mengambil yang bukan haknya. Tangan yang tega mencuri uang rakyat, menipu pembeli dengan takaran palsu, atau merampas hak orang lain demi kepentingan pribadi.
Ada banyak contoh nyata di sekitar kita. Seorang pegawai yang sengaja “memainkan angka” dalam laporan keuangan, agar mendapat keuntungan pribadi. Atau penjual bahan pokok yang mengurangi timbangan beras dan minyak — berharap untung lebih, tapi sesungguhnya menimbun dosa.
Begitu pula tangan yang tega menyiksa binatang, melempari kucing, atau membiarkan hewan peliharaan kelaparan tanpa alasan yang jelas. Padahal, Rasulullah bersabda bahwa seorang wanita masuk neraka hanya karena menelantarkan seekor kucing yang dikurung tanpa diberi makan.
Tangan jahat juga bisa terlihat dari kebiasaan berjudi atau bermain game yang melibatkan taruhan uang. Sekali menang mungkin terasa nikmat, tapi lama-lama ia kehilangan kendali, kehilangan harta, bahkan kehilangan kehormatan. Semua bermula dari tangan yang salah digunakan.
Lebih jauh lagi, tangan jahat adalah tangan yang berani menyentuh yang haram — menyentuh perempuan bukan mahram, merusak kehormatan orang lain, atau menulis fitnah dan kebohongan di media sosial. Di era digital ini, “tangan jahat” bisa juga berarti jari-jari yang ringan menulis komentar kasar, menyebarkan hoaks, atau mencaci maki tanpa berpikir.
Padahal, setiap sentuhan, setiap ketikan, setiap perbuatan yang dilakukan tangan akan dimintai pertanggungjawaban. Allah berfirman dalam Surat Yasin ayat 65:
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Bayangkan jika tangan yang biasa menulis kebaikan menjadi saksi yang memuliakan pemiliknya. Tapi sebaliknya, alangkah malunya jika tangan yang digunakan untuk berbuat maksiat menjadi saksi yang memberatkan di hadapan Allah.
Maka, mulai sekarang mari kita jaga kedua tangan ini. Gunakan untuk hal-hal yang mendatangkan manfaat dan keberkahan. Ulurkan untuk membantu, bukan untuk menyakiti. Gunakan untuk bekerja keras mencari rezeki halal, bukan untuk mencuri atau menipu. Dan biarkan tangan ini menjadi saksi kebaikan yang kelak memberi syafaat bagi pemiliknya.
Insya Allah, Allah Ta’ala menjadikan tangan kita sebagai pemberi saksi terindah di akhirat. Tangan yang penuh amal, yang tak pernah bosan menebar manfaat, dan yang kelak akan berkata dengan bangga: “Ya Allah, aku telah digunakan untuk kebaikan.” (*)






0 Tanggapan
Empty Comments