Banyak orang bersemangat mengejar khatam Al-Qur’an di bulan Ramadan. Namun yang lebih utama bukanlah jumlah khataman, melainkan kualitas bacaan dan kesungguhan dalam mempelajarinya.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Adi Hidayat (UAH) menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum memperkuat hubungan dengan kitab suci.
UAH mengawali ceramah dengan ajakan bersyukur atas nikmat terbesar yang Allah anugerahkan, yakni nikmat keimanan. Dengan iman, seorang Muslim dimampukan menunaikan seluruh rangkaian ibadah Ramadan.
Dia berharap segala aktivitas dan persoalan hidup tidak menghalangi umat untuk terus bersyukur, agar Allah menambah limpahan nikmat dan meringankan hisab di akhirat kelak.
UAH mengutip hadis riwayat Muhammad yang didokumentasikan oleh Muhammad al-Bukhari dalam Shahih-nya, nomor 3.220.
Hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas itu menjelaskan, Rasulullah adalah pribadi paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin meningkat saat Ramadan, khususnya ketika Malaikat Jibril datang setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an.
Menurut UAH, hadis ini memuat dua pesan penting. Pertama, menggambarkan kemuliaan sifat Nabi yang lembut, baik, dan dermawan. Kedua, menunjukkan bahwa sifat-sifat tersebut bertambah kuat di bulan Ramadan, terutama karena interaksi intensif dengan Al-Qur’an.
UAH menegaskan, keistimewaan Ramadan tidak bisa dilepaskan dari turunnya Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Karena itu, para ulama sepakat bahwa interaksi dengan Al-Qur’an merupakan agenda pokok Ramadan.
“Jika seseorang berpuasa dan menunaikan tarawih, tetapi tidak memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, maka ada yang kurang sempurna dalam Ramadan-nya,” terang UAH seperti dilansir di kanal Youtube Adi Hidayat Official.
Dia lalu mencontohkan, Nabi setidaknya mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap Ramadan. Bahkan pada Ramadan terakhir sebelum wafat, Nabi mengkhatamkannya dua kali. Ini menjadi isyarat kuat bahwa membaca Al-Qur’an adalah amalan utama yang tak boleh ditinggalkan.
Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu menjelaskan tiga bentuk interaksi dengan Al-Qur’an: membaca (qiraah), mengkaji dan memahami (tilawah), serta menghafal (tahfiz). Namun pada kesempatan itu, ia menekankan pentingnya membaca dengan benar dan berkualitas.
Hal yang digarisbawahi dari hadis Nabi adalah adanya guru yang membimbing. Nabi pun dibimbing langsung oleh Malaikat Jibril. Artinya, kualitas bacaan lebih utama daripada sekadar mengejar banyaknya khataman.
“Kalau bacaannya belum benar, maka utamakan perbaikan di hadapan guru. Setiap huruf yang dibaca mendapat pahala, dan kesungguhan memperbaiki bacaan mendapat pahala tambahan,” jelasnya.
UAH juga mengingatkan bahwa Nabi sebenarnya mampu mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali dalam satu Ramadan. \
Namun beliau tidak menunjukkan jumlah yang berlebihan agar tidak menjadi beban bagi umat. Isyarat satu kali khatam memberikan pesan keseimbangan: ada target, tetapi tetap memperhatikan kualitas dan kemampuan masing-masing.
Karena itu, menurut UAH, yang dituntut dalam membaca Al-Qur’an bukan sekadar banyaknya khatam, melainkan bacaan yang benar secara tajwid, tepat dalam makhraj, memahami hukum waqaf-ibtida, hingga hal-hal khusus (gharib) dalam bacaan.
Jika belum sempurna, maka membaca perlahan di hadapan guru, walau hanya satu halaman sehari, tetap bernilai tinggi dan berlipat pahala.
Target Khatam dan Manfaat Spiritual
Bagi yang telah lancar dan benar bacaannya, UAH mempersilakan membuat target khatam sesuai kemampuan. Bisa dibagi per 10 hari, per pekan, atau sesuai ritme masing-masing. Yang terpenting, niatnya mengikuti sunnah Nabi dan menjaga kualitas bacaan.
UAH juga menyebutkan tiga manfaat membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan. Pertama, menghadirkan ketenangan jiwa. Kedua, membantu menyelesaikan persoalan hidup karena pikiran menjadi lebih jernih. Ketiga, mengumpulkan pahala berlipat yang dapat menghapus dosa-dosa.
“Jika sedang banyak pikiran, buka mushaf, baca Al-Qur’an. Akan hadir ketenangan, dan solusi lebih mudah ditemukan,” ujarnya.
UAH berharap umat Islam diberi kekuatan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat di dunia dan pemberi syafaat di akhirat.
Ramadan, menurutnya, adalah momentum terbaik untuk mempererat hubungan dengan kitab suci dan meraih keberkahan yang dijanjikan Allah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments