Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tanpa Utang Bank, Perempuan Ini Raup Miliaran dari Bisnis Kue Kering (Bagian 1)

Iklan Landscape Smamda
Tanpa Utang Bank, Perempuan Ini Raup Miliaran dari Bisnis Kue Kering (Bagian 1)
Diah Arfianti di gerai miliknya. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Gang sempit di Jalan Jalan Ketandan Baru II/6 A, Surabaya sore itu berasa berbeda. Motor yang saya kendarai harus saya tuntun sekitar 150 meter dari mulut gang. Padat. Riuh. Tapi justru di sanalah denyut kehidupan terasa paling nyata.

Di tengah perkampungan itulah berdiri gerai Diah Cookies—lebih luas, lebih artistik, dan terasa begitu hangat. Siapa sangka, dari gang yang tak bisa dilalui mobil itulah omzet miliaran rupiah berputar setiap tahunnya dari bisnis kue kering.

Nama di balik usaha itu adalah Diah Arfianti. Perempuan kelahiran Surabaya, 17 Juli 1978. Saya mengenalnya bukan sebagai pengusaha besar seperti hari ini.

Saya mengikuti perjalanan usahanya sejak masih tertatih-tatih. Dari produksi kecil-kecilan, pesanan musiman, hingga kini mempekerjakan puluhan karyawan—mayoritas warga sekitar rumahnya sendiri.

Ketika saya kembali berkunjung pada Selasa (24/2/2026) petang, saya benar-benar tertegun. Gerainya berubah drastis. Lebih rapi. Lebih nyaman. Lebih profesional.

Belakangan saya tahu, Diah telah membeli dua rumah di samping gerainya, lalu merenovasinya menjadi satu kesatuan bangunan usaha.

Namun yang paling menarik bukanlah soal renovasi. Bukan pula soal omzet miliaran. Yang membuat saya kagum adalah satu prinsip yang tetap ia jaga sejak awal merintis: tanpa utang di bank.

Diah memulai usahanya dari dapur rumah. Oven sederhana. Mixer yang tak terlalu besar. Modal yang terbatas. Ia bukan pewaris pabrik roti, bukan pula anak konglomerat.

Suaminya, Mochammad Rofik—yang juga saya kenal baik—adalah sosok yang selalu mendampingi. Keluarga mereka aktif di kegiatan Muhammadiyah di Sidoarjo. Nilai-nilai kemandirian dan kehati-hatian dalam keuangan menjadi prinsip yang mereka pegang teguh.

Di tengah budaya bisnis yang kerap mengandalkan suntikan modal instan dan ekspansi agresif, Diah memilih tumbuh setahap demi setahap. Keuntungan diputar kembali. Laba disimpan untuk memperbesar kapasitas produksi.

Tidak ada euforia berlebihan. Tidak ada keinginan melompat terlalu jauh. Ia paham betul, usaha bukan hanya soal cepat besar, tetapi tentang bagaimana tetap kokoh saat badai datang. Dan jalan tanpa utang itu membuatnya tidur lebih nyenyak setiap malam.

Perempuan pelaku usaha ini mengaku banyak belajar tentang kesabaran, disiplin, serta keyakinan bahwa rezeki tidak perlu dipaksakan.

Ia juga meyakini bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari tempat yang megah. Kesuksesan justru bisa tumbuh dari dapur kecil, dari tangan yang tak pernah lelah mengaduk adonan, serta dari hati yang tetap teguh menjaga prinsip.

Tanpa Utang Bank, Perempuan Ini Raup Miliaran dari Bisnis Kue Kering (Bagian 1)
Proses produksi kue nastar Diah Cookies yang melibatkan para perempuan. Foto: Istimewa

Beli Oven Buatan Taiwan 

Bulir-bulir keringat membasahi kening Diah Arfianti. Siang itu, ia benar-benar sibuk saat saya datang ke rumahnya. Lebih sibuk dari biasanya. Teras rumahnya berubah seperti gudang bongkar muat. Kardus berserakan. Styrofoam menumpuk. Plastik pembungkus mesin tergeletak di sudut.

Dua teknisi jongkok di depan oven baru. “Ini tombol on-off. Ini pengatur suhu. Yang ini lampunya,” ujar salah satu dari mereka.

Diah dan suaminya, Mochammad Rofik, memperhatikan serius. Sesekali mencocokkan dengan buku manual. Manggut-manggut. Hati-hati.

Hari itu bukan sekadar uji coba mesin. Sejak hari itu, usahanya benar-benar naik kelas. Di tengah teras berdiri Oven Convection 705 dan Mixer SM-201 merek Sinmag, buatan Taiwan tahun 2016. Oven lima loyang itu dibeli Rp 45 juta. Mixer 20 liter Rp 10 juta. Total Rp 55 juta. Tunai.

“Saya nabung. Nggak mau utang. Bunganya berat,” ucap Diah, tersenyum kecil.

Kalimatnya pendek. Tapi prinsipnya panjang. Rumah itu dulu kecil. Hanya 4 x 8 meter. Gangnya sempit. Motor harus dituntun. Mobil tak bisa masuk.

Namun Kampung Ketandan bukan kampung biasa. Ia diapit Jalan Tunjungan, Blauran, dan Embong Malang—jantung central business district Surabaya. Kampung tua. Saksi sejarah kota.

Dari rumah mungil itulah Diah memulai. Awalnya hanya dibantu empat orang. Produksi paling banyak 100 stoples sehari. Itu pun kalau tenaga kuat.

Dengan mesin baru, ia bisa memproduksi 200 sampai 250 stoples per hari. Satu loyang bisa menjadi 3–4 stoples. Mesin baru itu benar-benar jadi pengganda harapan.

Produksi melonjak. Bisnis kue kering merangkak berkembang. Tahun 2016, ia bisa memproduksi 15 ribu stoples. Tahun ini, dengan menambah beberapa mesin oven baru lagi, Diah Cookies mampu memproduksi 65 ribu stoples. Angka-angka itu lahir bukan dari pabrik besar, tetapi dari dapur kampung.

Untuk memenuhi pesanan tersebut, selain menambah kapasitas produksi, Diah juga merekrut asisten baru. Sebelumnya, ia hanya dibantu empat orang.

Setelah membeli mesin baru, ia menambah 17 tenaga kerja. Total karyawannya menjadi 21 orang. Dari jumlah itu, 20 orang ditempatkan di workshop, satu orang admin menggawangi pesanan, baik online maupun offline. Ditambah lagi tiga kurir tenaga lepas.

Salah seorang karyawan Diah memiliki keterbatasan fisik, hanya memiliki satu tangan. Namun karena pekerjaannya bagus, rapi, dan sesuai standar dapurnya, Diah tetap mempekerjakannya, bahkan merasa tak rela melepas karyawan tersebut.

“Saya mengajak bekerja beberapa warga kampung, supaya mereka juga bisa merasakan penghasilan dari kegiatan usaha saya ini,” tutur Diah.

Bukan hanya itu. Karena tempatnya sudah tidak memadai, Diah harus menyewa dua rumah untuk menopang kebutuhan produksi.

Kedua rumah itu berdekatan dengan rumahnya yang dipakai sebagai display atau showroom produk kue keringnya. Satu rumah digunakan untuk tempat produksi, satu lagi untuk menyimpan barang dan bahan baku.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Bagi Diah, pengadaan mesin roti baru ini harus dipenuhi sebagai konsekuensi logis pengembangan bisnis kue keringnya.

Tanpa Utang Bank, Perempuan Ini Raup Miliaran dari Bisnis Kue Kering (Bagian 1)
Para pengunjung yang membanjiri gerai Diah Cookies. Foto: Istimewa

Buka Agen dan Reseller

Sejak Juni 2016, ia telah memiliki agen dan reseller. Ada sembilan agen dan 50 reseller Diah Cookies yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Bojonegoro.

“Saya harus berkomitmen agar tidak terjadi tumpang tindih. Selain mengarahkan pembelian eceran ke agen, saya juga all out mempromosikan agen-agen saya agar sama-sama bisa berkembang,” papar perempuan yang memiliki tiga orang putri ini.

Diah mengaku tak menyangka bisa melebarkan usahanya seperti ini. Pasalnya, ia tak memiliki latar belakang manajemen usaha. Yang ia lakukan hanya membuat produk dan menjualnya. Bahkan jauh sebelumnya, ia tak tahu berapa banyak barang yang terjual, berapa uang yang didapat, dan berapa besar keuntungan yang diperoleh.

Bertahun-tahun melakoni usaha, Diah mengaku hanya mendapatkan uang yang kemudian habis untuk belanja bahan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Suatu ketika ia bahkan sempat syok. Pasalnya, saat musim Lebaran tiba dan kue-kuenya laris manis terjual, ia justru mengalami rugi alias nombok sekitar Rp 8 juta.

“Kue-kue saya habis terjual, lha saya usaha kok malah punya utang Rp 8 juta. Saya cari-cari penyebabnya nggak ketemu. Saya sedih sekali,” urai Diah.

Ihwal strategi membuka agen dan reseller sejatinya didapatkan Diah Arfianti, owner Diah Cookies, setelah berkonsultasi dengan Doddi Madya Judanto, Direktur Enciety Business Consult yang juga advisor Pahlawan Ekonomi. Mulanya, Diah berkeinginan membuka gerai. Keinginan itu sudah menjadi cita-citanya sejak kecil.

Akan tetapi, Doddi menyarankan agar Diah memikirkan ulang rencana tersebut. Tidak perlu terburu-buru, karena semuanya harus benar-benar dihitung: biaya operasional untuk sewa properti, gaji pegawai, listrik, dan lainnya, juga target pemasukan yang akan dicapai.

Pada akhirnya, Diah menyanggupi untuk menunda membuka gerai tersebut. Alasan yang ia terima dari saran Doddi sungguh masuk akal.

Toh, melihat perkembangan zaman, orang bisa memiliki toko tanpa harus mengeluarkan biaya besar, yakni dengan memanfaatkan marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia, Lazada, Sophie, dan masih banyak lagi.

Kemudian tercetus ide membuka agen dan reseller. Ini lebih realistis. Lebih menjanjikan.

“Kalau buka gerai, uang yang dikeluarkan untuk modal nggak sedikit. Kalau punya agen, saya akan fokus pada produksi. Dan lagi, saya justru punya modal yang bisa diputar untuk produksi,” ucap Diah, mengamini saran Doddi Madya Judanto.

Diah dibantu Doddi lalu menyusun pola bisnisnya. Hasilnya dituangkan dalam bentuk perjanjian kerja sama. Di antaranya, untuk menjadi agen Diah Cookies, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.

Salah satunya, setiap agen harus menyetor uang sebesar Rp30 juta. Uang itu digunakan sebagai belanja produk atau pre-order (PO).

Dari setoran tersebut, agen akan menerima sedikitnya 600 stoples kue kering. Variannya bisa dipilih, di antaranya nastar, kastengel, cornflake, sagu keju, putri salju mente, almond cheese, chocochip, Nutella, red velvet, blueberry, dan lainnya. Harga jualnya berkisar Rp 30–90 ribu per stoples.

Diah memberi garansi penuh untuk semua produknya. Bila ada yang rusak, akan diganti. Bahkan, jika selama empat bulan ada produk yang tidak laku, Diah menjamin akan membelinya kembali seratus persen.

“Saya akan mengembalikan uangnya dalam jangka waktu yang telah disepakati bila ada yang nggak laku,” papar Diah.

Saat membuka lowongan agen, Diah tidak memasang iklan di koran. Selain harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, efektivitasnya juga masih dipertanyakan. Terlebih, dalam beberapa waktu terakhir semakin sedikit orang yang membaca koran.

Diah memilih memasang pengumuman di Facebook dan Instagram. Di kedua media sosial itu, Diah memang sangat rajin mengunggah konten, baik produk maupun kegiatan sehari-hari. Dalam sehari, ia bisa melakukan lima hingga enam kali unggahan.

Setelah memasang pengumuman di media sosial, Diah mengaku cukup kaget. Sebab, beberapa orang langsung menyatakan berminat. Diah bahkan tidak mengenal satu per satu mereka yang berminat tersebut.

“Saya surprise juga. Eh, ternyata ada juga yang mau jadi agen Diah Cookies,” ucapnya sambil tersenyum.

Pola bisnis yang dikembangkan Diah Cookies dengan membuka agen berjalan baik. Tidak banyak masalah dalam perjalanannya. Keluhan soal produk pun sangat sedikit.

Yang menggembirakan, tak sampai empat bulan, produk yang sudah dibeli agen Diah Cookies ludes terjual. Para agen bahkan mengajukan pre-order lagi, jumlahnya sekitar 30–40 persen dari setoran awal saat menjadi agen.

Bagi para agen yang melebihi target, Diah tak lupa memberi apresiasi. Berbagai hadiah disiapkan, mulai dari  kompor gas, kipas angin, hingga perlengkapan rumah tangga lainnya. Bahkan sejak tahun 2018, Diah memberi hadiah berupa emas bagi mereka yang mencapai target.

“Saya bersyukur atas keberkahan ini. Saya merasa ini semua adalah karunia yang diberikan Allah kepada saya,” ucapnya. (bersambung)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu