Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tantangan Dakwah Muhammadiyah di Era Post Truth

Iklan Landscape Smamda
Tantangan Dakwah Muhammadiyah di Era Post Truth
Oleh : Mustofa Alumni PDPM Kabupaten Pemalang _ Jawa Tengah
pwmu.co -

Dakwah di era post-truth menjadi upaya untuk menyampaikan ajaran Islam di tengah masyarakat yang cenderung mengutamakan emosi dan keyakinan pribadi, daripada fakta objektif.

Secara istilah, post-truth (pascakebenaran) adalah suatu kondisi di mana fakta-fakta objektif memiliki pengaruh yang lebih kecil dalam membentuk opini publik daripada dengan seruan emosi dan keyakinan pribadi.

Tantangan dakwah di era post-truth adalah melawan hoaks dan polarisasi informasi yang marak di media sosial.

Strategi yang efektif meliputi penggunaan teknologi secara cerdas, penguatan literasi digital, pendekatan yang rasional dan kreatif, serta penegakan prinsip Islam wasathiyah (moderat).

Muhammadiyah, dalam berdakwah di era ini, mengandalkan pendekatan wasathiyah (moderat) melalui strategi dakwah digital yang mengedepankan rasionalitas, keadilan, dan literasi kritis.

Tantangan yang dihadapi Muhammadiyah adalah melawan misinformasi dan disinformasi yang mengutamakan emosi.

Oleh karena itu, perlu penguatan pendidikan literasi dan pemanfaatan platform digital secara cerdas untuk menyebarkan konten yang terpercaya, otentik, mudah diakses, dan relevan.

Dalam hal ini moderasi Islam menjadi solusi untuk menghadapi post truth dengan menekankan keseimbangan ,keadilan,kebijaksanaan dengan menolak ekstremisme dan radikalisme.

Era post-truth ini menuntut kita untuk memperkuat dakwah yang tidak hanya mengandalkan narasi, tetapi juga akal sehat, pemikiran kritis, dan tindakan nyata.

Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan dakwah digital secara bijak, menyelenggarakan pendidikan yang membentuk generasi cerdas, dan menggerakkan kegiatan sosial yang berkontribusi langsung pada masyarakat.

Tantangan dakwah era post truth 

Menjelang Milad Muhammadiyah ke-113, Muhammadiyah menghadapi tantangan dakwah yang signifikan di era post-truth, di mana fakta objektif sering kali kalah oleh sentimen dan keyakinan pribadi.

Untuk menyikapi kondisi ini, Muhammadiyah berupaya memperkuat fondasi dakwah keislaman dan kemajuan zaman, sejalan dengan tema Milad ”Memajukan Kesejahteraan Bangsa”.

Apa tantangan dakwah Muhammadiyah di era post truth?

  1. Dominasi emosi di atas fakta

Informasi seringkali menyasar emosi publik yang membuat berita bohong (hoax) dan disinformasi mudah menyebar.

Karena itu, muhammadiyah perlu mengedepankan argumentasi yang berbasis pada Al Qur’an  dan sunnah dalam berdakwah, bukan justru hanya dengan emosi.

  1. Rendahnya literasi digital

Guna menghadapi masyarakat yang rentan terhadap informasi menyesatkan di media sosial akibat tingkat literasi yang rendah, Muhammadiyah perlu memperkuat dakwah literasi digital.

Tujuannya adalah untuk mengedukasi umat agar lebih kritis dan selalu menerapkan prinsip tabayyun (klarifikasi) saat menerima informasi.

  1. Perubahan tuntutan

Pada masyarakat yang semakin dinamis dan heterogen, menuntut strategi dakwah yang lebih relevan dan kontekstual.

Muhammadiyah harus mampu membaca kebutuhan sasaran dakwah, termasuk kalangan generasi muda.

Melalui dakwah yang adaptif dan proaktif, Muhammadiyah dapat terus relevan dan efektif dalam menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah kompleksitas era post-truth menjelang Milad ke-113.

Tema Milad ke-113 Muhammadiyah pada tahun 2025 menegaskan kembali visi Muhammadiyah untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa, sejalan dengan cita-cita Indonesia yang makmur dan sejahtera.

Untuk memajukan kesejahteraan bangsa di era post-truth perlunya pendekatan yang komprehensif dan multidimensional.

Fenomena post-truth ini dapat mengikis kepercayaan publik, memecah belah masyarakat, serta mengancam stabilitas sosial dan politik.

Oleh karena itu, strategi untuk memajukan kesejahteraan harus fokus pada penguatan fondasi sosial, ekonomi, dan budaya yang tahan terhadap disinformasi.

Dalam konteks ini, Muhammadiyah memiliki peran vital melalui berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, dan dakwah.

Era post-truth yang ditandai dengan informasi menyesatkan (disinformasi), fakta yang kabur, dan manipulasi emosi menjadi tantangan besar.

Oleh karena itu, Muhammadiyah harus berupaya meneguhkan rasionalitas dan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi masyarakat sejahtera.

Dalam hal ini, ada beberapa langkah yang perlu diperankan Muhammadiyah dalam era post truth:

  1. Bidang pendidikan

Mencerdaskan literasi digital untuk kemampuan memilah informasi sangat krusial di era ini.

Muhammadiyah secara konsisten menjalankan misi ini melalui Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP/MTs, SMA/MA/SMK, hingga perguruan tinggi.

Lembaga-lembaga ini membekali generasi muda dengan kecerdasan nalar dan kemampuan analisis untuk membedakan fakta dan hoaks.

Institusi pendidikan Muhammadiyah mengajarkan ilmu pengetahuan umum dan menanamkan nilai keislaman.

Hal ini bertujuan membentuk karakter yang kuat berintegritas  dan tidak mudah terombang ambing oleh narasi-narasi menyesatkan yang beredar di media sosial.

  1. Bidang sosial dan kesehatan

Muhammadiyah memiliki banyak program pemberdayaan ekonomi dan sosial yang didukung oleh jaringan luas, seperti rumah sakit, klinik, panti asuhan, dan Baitul Mal Wat Tamwil (BMT).

Program-program ini dijalankan berdasarkan data dan kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar retorika ataupun opini belaka.

  1. Bidang dakwah dan keagamaan

Meneguhkan nilai-nilai Islam berkemajuan dengan menjalankan dakwah yang mencerahkan  dan tidak dogmatis.

  1. Bidang kebangsaan

Muhammadiyah memandang Indonesia sebagai darul ahdi wa syahadah, yakni negara sebagai buah dari kesepakatan bersama yang harus dijaga dan dipertahankan.

Komitmen ini menjadi benteng bagi warga Muhammadiyah agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah bangsa.

Dalam upaya membangun toleransi dan harmoni, Muhammadiyah berperan aktif melalui berbagai program sosial dan pendidikan.

Hal ini sangat penting untuk menjaga persatuan di tengah derasnya isu-isu polarisasi yang sering dimanfaatkan di era post-truth.

Harapan di usia ke-113

Secara garis besar keterikatan Milad Muhammadiyah ke-112 dan Milad Muhammadiyah ke-113 sangat kuat.

Menggambarkan keberlanjutan dan saling menyempurnakan sebagai upaya muhammadiyah untuk terus berkontribusi pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Terdapat hubungan kesinambungan dari konsep ke implementasi antara dua tema milad tersebut.

Milad ke-112 menjadi dasar pemikiran dan komitmen dengan tema ”Menghadirkan Kemakmuran”, yang kemudian pada Milad ke-113 menjadi implementasi yang lebih konkret dan diperluas melalui tema ”Memajukan Kesejahteraan Bangsa”.

Hubungan ini juga mencakup pergerakan dari skala kecil ke skala besar.

Tema ”Kemakmuran untuk semua” dapat dimaknai sebagai upaya di tingkat masyarakat (mikro), sedangkan ”Memajukan Kesejahteraan Bangsa” membawa Muhammadiyah untuk berkontribusi lebih luas di tingkat nasional (makro).

Kedua tema tersebut merefleksikan perjalanan Muhammadiyah yang tak kenal lelah dan tak pernah berhenti untuk berdakwah dan beramal saleh.

Memajukan kesejahteraan bangsa” mencerminkan komitmen Muhammadiyah untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, baik secara material maupun spiritual.

Bagi warga Muhammadiyah, tema ini dapat diimplementasikan melalui gerakan amal usaha, memperluas tebar manfaat, serta mendorong kebijakan publik yang adil demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan negara yang adil dan makmur.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu