Suasana Universitas Muhammadiyah Jember pada Minggu (22/2) sebenarnya lagi seru-serunya.
Ribuan warga Persyarikatan tumplek blek mengikuti Kajian Ramadan PWM Jatim.
Tapi di salah satu sudut barisan kursi, ada sekelompok anak muda yang perasaannya lagi campur aduk: antara semangat, grogi, tapi akhirnya berujung “zonk”.
Mereka adalah tim kontributor buku Membangun Tradisi Baru: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur Tahun 2000–2025.
Rencana awalnya sudah paten dan bikin bangga: seluruh penulis bakal dipanggil naik ke atas panggung saat peluncuran buku.
Bayangkan, mendapatkan apresiasi langsung di depan pimpinan dan kader se-Jawa Timur!
Demi momen “mejeng” yang jarang-jarang ini, para penulis muda ini sudah janjian pakai dresscode maksimal.
Mereka tampil ganteng-ganteng memakai batik pilihan dan songkok hitam yang terpasang tegak.
Mental sudah ditata, senyum terbaik sudah disiapkan, bahkan mungkin sudah ada yang latihan gaya jalan biar kelihatan intelek di atas panggung.
Tepuk tangan ribuan orang sudah terngiang-ngiang di telinga sebagai bayaran lunas atas lelahnya riset dan ngetik berbulan-bulan.
Tapi sayang seribu sayang, ekspektasi indah itu mendadak ambyar.
Saat sesi peluncuran tiba, entah karena durasi acara yang sudah overheat atau ada miskomunikasi teknis, skenario berubah total.
Alih-alih barisan anak muda berbatik yang naik, peluncuran justru dilakukan secara simpel dan cepat, diwakili oleh Sekretaris PWM Jatim, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag.
Para penulis yang sudah rapi jali di kursi depan cuma bisa saling lirik.
Nama mereka nggak dipanggil, panggung yang diincar pun nggak terjangkau.
Applause meriah yang sudah mereka bayangkan bakal jadi milik mereka, nyatanya hanya lewat begitu saja.
“Sudah dandan rapi, pakai songkok biar kelihatan khidmat, eh cuma jadi penonton dari bawah panggung. Rasanya kayak sudah siap akad tapi penghulunya lupa manggil nama kita,” canda Tanwirul Huda, salah satu penulis dengan nada yang, ya, sedikit nyesek.
Kekecewaan ini memang nggak bisa disembunyikan.
Bagi mereka, naik ke panggung itu bukan soal pamer, tapi soal pengakuan kalau anak muda juga bisa nulis sejarah yang berat.
Sayangnya, batik dan songkok yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari itu harus puas cuma jadi saksi bisu di barisan kursi undangan.
Meski bukunya resmi meluncur, para pejuang literasi ini pulang dengan perasaan yang agak “kentang”—kena tanggung.
Niat hati ingin merayakan karya di atas podium, apa daya waktu dan teknis berkata: “Cukup di kursi saja ya, Mas-Mas.”***






0 Tanggapan
Empty Comments