Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga waktu terbaik membentuk karakter anak melalui pengalaman spiritual seperti salat tarawih yang ramah dan menyenangkan.
Ramadan dan Pendidikan Spiritual Anak
Bulan Ramadan merupakan bulan suci penuh berkah, di mana umat Muslim meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun bagi anak-anak, Ramadan kerap terasa sebagai bulan penuh aturan dan perubahan rutinitas.
Di sinilah peran orang tua dan lingkungan menjadi penting untuk mengenalkan nilai-nilai spiritual dan sosial secara bertahap, termasuk membiasakan mereka melaksanakan salat tarawih di masjid.
Tarawih adalah salat sunah yang khusus dilaksanakan pada bulan Ramadan setelah salat Isya dan umumnya dilakukan secara berjamaah di masjid.
Secara historis, Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakannya berjamaah selama tiga malam, namun tidak melanjutkan pada malam berikutnya karena khawatir diwajibkan kepada umat.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, salat tarawih kembali dihidupkan secara berjamaah hingga menjadi tradisi umat Islam sampai hari ini.
Fenomena Masjid yang Kurang Ramah Anak
Belakangan muncul fenomena bahwa sebagian masjid dinilai kurang ramah terhadap anak-anak, terutama saat pelaksanaan tarawih Ramadan.
Tidak sedikit anak yang diusir, dibentak, bahkan diintimidasi karena dianggap mengganggu kekhusyukan jamaah.
Padahal, memarahi anak yang sedang belajar mengenal masjid justru berpotensi menimbulkan trauma dan membuat mereka menjauh dari rumah ibadah.
Kegaduhan seperti berbicara saat salat, bercanda sebelum salat dimulai, berlarian, atau mengucap “amin” dengan suara keras memang kerap terjadi. Namun hal tersebut sejatinya bagian dari proses belajar dan pembiasaan.
Jika dibiarkan tanpa arahan, masjid bisa dianggap sebagai tempat bermain. Sebaliknya, jika dihadapi dengan kekerasan, anak dapat mengalami gangguan psikologis dan enggan kembali ke masjid. Karena itu, kebijaksanaan takmir dan remaja masjid sangat dibutuhkan.
Tarawih Ramah Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam
Dalam perspektif pendidikan Islam, pembentukan insan kamil dilakukan melalui keseimbangan potensi intelektual, spiritual, dan fisik.
Penanaman tauhid, pembentukan akhlak, serta pembiasaan ibadah menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Konsep tarawih ramah anak merupakan bentuk pendidikan karakter berbasis ekosistem religius. Nilai yang dapat ditanamkan antara lain kedisiplinan, kepemimpinan, kemandirian, hingga sikap qanaah.
Selain itu, anak-anak dapat belajar memperkuat ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan solidaritas sosial, serta menjauhi perilaku negatif seperti berkata kasar atau berbohong.
Langkah Mewujudkan Tarawih Ramah Anak
Masjid sebagai pusat peribadatan dapat menciptakan suasana ramah anak melalui beberapa langkah konkret berikut:
1. Membaca surat pendek.
Imam dianjurkan membaca surat-surat pendek yang familiar bagi anak. Bacaan yang terlalu panjang berpotensi membuat anak kehilangan fokus dan sulit khusyuk.
2. Mengutamakan tuma’ninah.
Gerakan salat dilakukan dengan tuma’ninah agar anak terbiasa memahami setiap gerakan dan makna ibadah sejak dini.
3. Memberikan reward.
Pemberian apresiasi bagi jamaah paling tertib, paling khusyuk, atau paling awal hadir dapat memotivasi anak untuk lebih disiplin dalam mengikuti ibadah Ramadan.
4. Komunikasi santun.
Pendampingan oleh takmir atau remaja masjid dengan bahasa yang lembut jauh lebih efektif dibandingkan bentakan atau kemarahan.
5. Fasilitas yang nyaman.
Toilet yang representatif, tempat wudhu yang aman, dan sirkulasi udara yang baik akan membuat anak merasa nyaman dan ingin kembali ke masjid.
Momentum Transformasi Spiritual dan Sosial
Ibadah salat tarawih berjamaah setiap malam Ramadan menghadirkan nuansa spiritual yang khas. Kehadiran jamaah dalam jumlah besar, termasuk anak-anak, menciptakan semangat kebersamaan yang kuat.
Ramadan adalah momentum introspeksi diri dan transformasi sosial. Dengan pendekatan ramah anak, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pendidikan karakter yang menyenangkan.
Dari sinilah generasi yang cinta masjid, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial dapat tumbuh.






0 Tanggapan
Empty Comments