Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tarhib Ramadan: Saatnya Berbenah, Bukan Sekadar Berpuasa

Iklan Landscape Smamda
Tarhib Ramadan: Saatnya Berbenah, Bukan Sekadar Berpuasa
Foto: traveltalktours.com
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Tarhib Ramadan adalah upaya menyambut bulan Ramadan dengan persiapan spiritual, fisik, dan keilmuan agar tidak sekadar menjadi rutinitas ibadah.

Fokus tarhib adalah meneguhkan diri, meningkatkan ketaatan, dan memaknai Ramadhan sebagai momentum meningkatkan kualitas diri, bukan beban, dengan menetapkan awal puasa berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Bulan Ramadan merupakan bulan istimewa yang telah ditunggu oleh seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Kehadirannya tidak hanya membawa kesempatan untuk meningkatkan spiritualitas, tetapi juga memberikan kesempatan untuk memahami makna sejati dari ibadah dan pengorbanan.

Salah satu konsep yang sering dikaitkan dengan Ramadan adalah Tarhib. Tetapi, apa sebenarnya Tarhib Ramadan dan apa keistimewaan dari bulan suci ini bagi umat Islam?

Tarhib Ramadan berasal dari kata ” تَرْحِيْبٌ” yang dalam bahasa Arab memiliki arti “mendorong” atau “mengajak.” Dalam konteks Ramadhan, Tarhib menggambarkan upaya untuk mendorong dan mengajak individu untuk meraih keberkahan dan keberlimpahan spiritual selama bulan suci ini.

Tarhib Ramadan bukan sekadar membatasi diri pada menahan lapar dan haus selama puasa, tetapi juga merangkul kegiatan-kegiatan ibadah yang lebih mendalam, seperti salat, zikir, tilawah, dan amal kebaikan lainnya.

Momen Tarhib Ramadan mengajak umat Muslim untuk merenungkan dan memperbaiki hubungan mereka dengan Allah SWT serta sesama manusia. Ini adalah waktu untuk meningkatkan kesadaran diri, introspeksi, dan memperkuat ikatan dengan ajaran agama.

Melalui Tarhib Ramadan, umat Muslim diharapkan dapat merasakan kehadiran spiritual yang lebih kuat dan menemukan kedamaian batin yang mendalam.

Bulan Ramadan memiliki keistimewaan yang tak terbantahkan bagi umat Muslim. Bulan Ramadan memiliki keistimewaan luar biasa bagi umat Muslim, yaitu sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an (Syahrul Quran), penuh ampunan (maghfirah), dan keberkahan, serta waktu diwajibkannya puasa.

Di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan dibelenggu, dan pahala amal ibadah dilipatgandakan. Di antara keistimewaan tersebut adalah:

1. Peluang untuk Penebusan Dosa: Bulan Ramadhan adalah waktu yang dirahmati oleh Allah SWT, di mana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Ini adalah kesempatan emas bagi umat Muslim untuk memperbaiki diri, bertaubat, dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan di masa lalu.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

2. Meningkatkan Kualitas Ibadah: Puasa di bulan Ramadan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan untuk mendalami ibadah-ibadah lainnya seperti salat, membaca Al-Quran, berinfak, dan berbuat baik kepada sesama.

Semua amal ibadah yang dilakukan selama bulan suci ini memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada di luar Ramadhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782).

Seharusnya amal seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal datang menjemput. Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.”

Lalu Al Hasan membaca firman Allah:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99).
Lihat Lathoif Al Ma’arif, hal. 392.

Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ulama lainnya mengatakan, “Sembahlah Allah bukan pada waktu tertentu saja”.

Jika memang maksudnya adalah demikian tentu orang yang melakukan ibadah sekali saja, maka ia sudah disebut orang yang taat.

Namun Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah sampai datang ajal”. Ini menunjukkan bahwa ibadah itu diperintahkan selamanya sepanjang hayat.
Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Al Maktab Al Islami, 4/423.

Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, salat jamaah, salat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga.

3. Membangun Solidaritas Sosial: Ibadah puasa itu sesungguhnya untuk Allah, tetapi ibadah ini memiliki dimensi sosial yang sangat nyata.

Puasa dengan mengendalikan seluruh nafsu dan segala macam bentuk egosentrisme, adalah refleksi dari keseriusan menuju keridloan Allah, tetapi ketika manusia mengendurkan egonya dan mengendalikan nafsunya itulah, dia menjadi solider menjadi peduli terhadap sesamanya.

Apalagi bagi kaum yang serba berkecukupan, rasa lapar dan dahaga akan mengingatkan pada penderitaan dan kepedihan yang dialami oleh fakir miskin sepanjang hidupnya.

Kalau puasa dengan segala pengorbanan dengan merasa lapar dan dahaga sepanjang hari tidak menghasilkan kekhusukan, ketawadlukan di hadapan Allah. Tidak pula menghasilkan solidaritas sesama manusia, akan sulit mencari sarana lain untuk menumbuhkan solidaritas itu

Setiap Muslim dilatih melalui puasa agar menjadi insan yang mampu merasakan derita sesamanya dan melahirkan sikap ta’awun, yakni semangat saling menolong dan bekerja sama dengan orang lain secara tulus dan baik.

Jika dia kaya, harus berbagi dengan saudaranya yang miskin. Kalau dia berilmu, harus mau mencerdaskan orang lain dengan ilmunya. Manakala dia memiliki kekuasaan, dapat dimanfaatkannya untuk menyejahterakan orang banyak. Apabila dia berkecukupan dalam apa saja terpanggil untuk menolong siapa saja yang kekurangan.

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. 5:2)

4. Meningkatkan Kesadaran Kemanusiaan: Puasa meningkatkan kesadaran kemanusiaan dengan
menanamkan empati mendalam melalui rasa lapar dan haus, sehingga menumbuhkan kepedulian sosial, kedermawanan, serta solidaritas terhadap mereka yang kekurangan.

Ibadah ini mentransformasi spiritualitas individu menjadi aksi sosial, seperti berbagi takjil, zakat, dan menahan diri dari perilaku egois.

Dari Zaid bin Kholid Al-Juhani berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائمًا، كانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أجْر الصَّائمِ شيءٍ رواه الترمذي ( 807 ) وابن ماجه ( 1746 ) وصححه ابن حبان ( 8 / 216 ) والألباني في ” صحيح الجامع ” ( 6415 )

“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala semisalnya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” (HR. Tirmizi, 807. Ibnu Majah, 1746. Dan dishohehkan oleh Ibnu Hibban, 8/216. Dan oleh Al-Bany di shoheh Al-Jami’, 6415). (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu